Meromantisasi minggu malam, katanya (Dekara)

2K 234 55
                                        

Kata Delon, minggu malam ini harus di romantisasi sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan club bola yang diikuti—Manchster United atau yang sering disebut Emyu. Sorry, maksudnya king Emyu, hahaha untuk mengetik namanya tanpa king di depan saja membuat rasa bersalah mendadak muncul di kepalaku, karena setiap aku menyebut nama club itu tanpa king di depannya, keponakanku itu selalu menjitak keningku dua kali.

Jadi, untuk me-romantisasi malam minggu ini sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan club king Emyu beberapa pekan lalu, Delon meminta kami untuk makan malam di luar. Berhubung juga Daddy dan Papi ada di sini, mengingat belakangan ini keduanya hanya beberapa kali menyambangi rumah untuk sekedar melepas dahaga kerinduan yang mulai meronta meminta dekapan. Syukurlah aku tidak memiliki minat untuk mengikuti jejak karir keduanya. Biarlah kakak-kakakku yang mewakili, karena aku tidak berminat sama sekali untuk terjun ke dunia bisnis, sama seperti kakak keempatku yang juga  lebih memilih bermandikan oli dan alat-alat bengkel lainnya. Termasuk kakak ketigaku, yang dulunya menjejaki pendidikan yang sama dengan kakak keempatku, tapi begitu selesai, ujung-ujungnya kembali memulai dari nol untuk mempelajari dunia bisnis.

.. O-oke? Sepertinya aku hampir menceritakan sesuatu yang tidak perlu zzzzz.

Kembali ke saat ini. Aku serta keempat kakakku termasuk bang Argon sudah ada di ruang tengah selang empat puluh lima menit setelah permintaan Delon itu terucap. Kami yang ada di sini sudah rapi dengan pakaian masing-masing, aku yang sore ini memilih untuk memakai kemeja putih dengan luaran leather jaket hitam, senada dengan celana bahan serta sepatu yang aku pakai, juga ada dasi hitam yang terpasang rapi dan menjuntai di tengah-tengah karena resleting jaket yang sengaja tidak aku tarik ke atas. Apakah penampilanku terkesan terlalu formal untuk acara makan malam di luar? Nanti aku akan bertanya kepada Delon, atau.. meminta keponakanku itu untuk mengunggah fotoku di media sosial miliknya.

Lalu ada kak Gala serta kak Neo yang terlihat sama-sama menggunakan kemeja hitam lengan panjang yang lengannya digulung sampai siku serta bawahan berwarna senada, kedua kakakku itu sempat adu mulut setelah melihat penampilan satu sama lain yang terlihat seperti anak kembar—yang berujung keduanya terdiam setelah membuang muka ke arah berlawanan sesaat setelah mendapat teguran dari bang Argon. Kemudian kak Arsen, kakak keduaku itu malam ini mengenakan kemeja putih dengan dilapisi rompi berwarna biru dongker—senada dengan warna celana bahan panjang yang dikenakan. Terakhir kakak sulungku—yang malam ini mengenakan kemeja navy yang lengannya digulung sampai siku dengan bawahan celana putih panjang dan di pergelangan tangan kirinya terpasang jam tangan silver yang harganya kurang dari seratus ribu—mataku berkilat geli karena tahu sekali benda itu diberikan oleh siapa.  Sementara Daddy dan Papi sama-sama menggunakan setelan jas warna coklat muda dengan bawahan berwarna senada. Tersisa Delon yang eksistensinya masih belum terlihat sampai lewat tujuh belas menit kami menunggu.

“Aku mau jemput Delon ke atas,” Aku menyuarakan inisiatif—yang konstan membuat pembicaraan seputar bisnis yang dimulai dari pertanyaan Papi mengenai kerjasama dengan klien di Swiss—terhenti begitu saja—mengingat sekarang sudah hampir jam tujuh. Belum lagi kami harus menghadapi kemacetan lalu lintas, nantinya.

“Abang saja, Kara.”

Kakak sulungku itu langsung berdiri setelah mengucapkan kalimat singkat tersebut. Tapi, belum sempat kakinya mengambil langkah, perhatian kami semua dipaksa bergulir ke arah tangga sewaktu mendengar derap langkah kaki yang terdengar tidak santai. Sudah jelas, pemilik langkah kaki itu adalah Delon, sosok yang sudah kami tunggu-tunggu sejak tadi.

“Eh, kok belum siap-siap, Del?”

Pertanyaan yang sama yang ingin aku tanyakan begitu melihat Delon—itu lebih dulu disuarakan oleh kakak keduaku. Alih-alih turun dengan memakai baju yang terlihat lebih proper untuk makan malam di luar, keponakanku itu justru turun dengan piyama tidur motif bintang miliknya. Lengkap dengan kaos kaki hitam serta sandal selop berwarna putih dengan karakter ikan hiu menganga.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang