Sebelumnya..
"Kalau Ayah gue meninggal, terus kantor ini jadi punya gue. enaknya gue lelang, apa gadai aja, ya?"
"---Kalau gue jual 100 juta, apa laku? kok murah banget, 200 juta deh.." lanjut Delon bergumam seraya menatap langit-langit kantor. posisinya sekarang masih duduk di kursi kebesaran milik Ayahnya. kedua kakinya bahkan selonjoran di atas meja dengan tubuh yang menyandar di sandaran kursi. kursi yang dia dudukki ini juga bergerak-gerak karena tangannya yang tidak bisa diam sejak tadi. "-Kalau gue beli batagor, bisa bareng rumahnya kali, ya?"
Delon mengigit jari. di imajinasinya sekarang, dia seakan melihat dirinya yang terbang dengan memeluk batagor yang ukurannya jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri. bukan hanya satu, atau, dua. dia bahkan bisa melihat di sekelilingnya tidak ada apapun lagi selain batagor, dari samping kiri, kanan, atas, bahkan bawah sekalipun. di imajinasinya itu dia sangat dekat dengan langit. seluruh konsonan langit seperti Bintang, Bulan, Matahari, Awan, Pelangi. bahkan, Meteor se-kecil upil pun ikut menatapnya dengan penuh hormat.
Tidak hanya itu. Delon bahkan dengan penuh wibawa memasang kacamata hitam untuk menutupi kedua matanya yang silau akibat sinar Matahari yang begitu dekat dengan posisinya sekarang. tidak luput pula kepalanya dia pasangi topi baseball hitam agar rambutnya yang semi ikal tidak terlihat. "HAHAHAHAHA!" kelakar tawanya tiba-tiba terdengar nyaring begitu melihat anak-anak panti yang pernah dia temui ketika terbangun untuk pertama kali. kini, bersujud di bawahnya seraya memohon ampun.
Puas menertawakan anak-anak panti itu. Delon menunduk untuk menarik rambut anak laki-laki yang berdiri paling depan. bukannya menarik rambut anak tersebut, kepalanya justru terantuk permukaan meja hingga terdengar bunyi Duk yang cukup keras. "Ah, Cuk!" gerutunya seraya mengusap keningnya yang terasa nyut-nyutan. dan, dia juga baru sadar jika posisinya masih berada di dalam ruang kerja Ayahnya. bukan di atas langit seperti yang ada di imajinasinya, tadi. "Astaga.. sial banget!"
Delon mengerang tertahan. dokumen yang sudah terjilid dengan rapi yang terletak di tengah meja, dia raih dengan kasar. membacanya dengan khidmat seolah-olah mengerti, tidak sampai di sana. tangannya juga meraih pulpen hitam bergradasi emas yang permukaannya terukir Ar,18,3,1 F. tidak hanya itu, dia juga mencoret-coret kolom yang menyediakan tanda tangan dengan tanda tangan yang dia buat secara asal-asalan. "Ayah tiap hari coret-coret gini, jadi kaya raya. ini 'kan, yang coret-coret gue, bisa kaya raya juga, nggak, sih?" celetuknya seraya membalik halaman sampai bagian akhir untuk dia bubuhkan tanda tangan.
Merasa bosan dengan apa yang dia lakukan sekarang. Delon sontak menggerakkan kakinya hingga kursi tersebut bergerak ke sisi kiri meja. dari sini posisi komputer sangat dekat, berbeda dengan posisi sebelumnya. "Ini kalau gue yang hidup-in, kayanya bisa meledak, deh!" tukasnya seraya menggerakkan komputer yang belum menyala itu dengan gerakan heboh. "-Secara.. gue 'kan, punya tangan ajaib!" lanjutnya berujar yang kemudian berdiri di atas kursi sebelum naik ke atas meja.
Di atas meja. Delon duduk setelah menggeser komputer sedikit ke tengah setelah meraih bingkai foto yang terletak di sisi kanan. di dalam bingkai foto tersebut, ada sosok wanita hamil yang memakai gaun putih, di atas kepala wanita itu juga terpasang mahkota berwarna emas. terlihat sangat kontras dengan rambut panjang sebahu terurai yang berwarna hitam legam. tidak sendiri, wanita hamil itu bersama dengan seorang anak laki-laki yang memakai atasan kemeja putih yang dipadukan dengan bawahan cargo pants pendek, dan sport sneakers putih. keduanya berfose dengan saling bergandengan tangan di tengah-tengah taman. "Ayaaah.." ujarnya yang merujuk kepada anak laki-laki itu yang memang tidak lain dan tidak bukan adalah sosok Ayah angkatnya.
"My Mom Is Queen In My World," Bacanya pada sebaris kalimat yang tertulis di bagian bawah foto. "Apa nih, artinya?" lanjut Delon dengan menggaruk keningnya pelan sebelum kembali meletakkan bingkai foto ke tempat semula. sayup-sayup telinganya menangkap suara dari arah luar. dia yang bergerak untuk turun dari atas meja dengan kaki kiri yang lebih dulu menginjak kursi. justru, tanpa sengaja bergerak hingga kursi tersebut berjalan sendiri untuk menjauh karena memiliki roda. dan, tubuhnya yang tidak siap justru terjatuh ke bawah hingga bunyi Duk kembali terdengar saat kepalanya kembali terantuk pinggiran meja. saking kerasnya, berkas yang ada di atas berterbangan, hingga berakhir mendarat di atas lantai. tidak hanya itu, tangannya bahkan secara spontanitas menarik komputer hingga ikut terjatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
