Delon yang sejak tadi beringsut menjauh, kini terpojok pada tembok di bagian kiri. dia yang menatap tidak suka pada sosok pemuda yang terus menatapnya dengan tajam itu, lantas berseru. "Awas ya lo, gue aduin sama Ayah gue nanti!"
"MUNDUR NGGAK LO!" teriak Delon lantang saat pemuda itu mengambil pisau yang tergeletak di lantai dan memutar-mutarnya dengan santai.
Kekehan pemuda itu terdengar saat melihat tubuh Delon yang terpojok pada tembok menempel seperti anak cicak.
"Kau tidak tahu siapa saya?"
"GUE NGGAK MAU TAHU DAN NGGAK PERDULI! MINGGIR NGGAK LO!"
"Kau tidak perduli? baiklah, saya akan bermain-main dengan lidahmu yang tidak sopan itu!"
Delon menelan ludah takut begitu pisau kecil itu diarahkan tepat di samping lehernya. "Ja----jangan macem-macem lo!"
Tawa keras pemuda itu terdengar. lalu, tangannya yang memegang pisau di samping leher Delon bergerak menyentuh kulit leher remaja itu dengan pelan. "Sudah saya katakan, hanya satu macam, kau ingin coba?!"
Delon mengigit bibir bawahnya dengan tangan yang terkepal erat begitu merasakan dinginnya pisau menekan kulit lehernya. "Gue bakal bales apa yang lo lakuin!" ucapnya menggertak. "Ta----tapi, ta---tapi.. alangkah baiknya lo menyingkir dulu dari hadapan gue, sekarang! gue kalau udah ngamuk bisa lebih serem daripada Hulk!"
"Oh ya?"
Delon mengangguk menyakinkan. "Iya------argh!" ringisannya seketika terdengar saat pisau kecil itu benar-benar menggores kulit lehernya yang tipis. "A-----apa, apa yang lo lakuin, sialan?!"
"Bermain-main? bukankah ini menyenangkan?!"
"UNCLE!"
Delon bernapas lega saat pisau kecil itu dijauhkan dari lehernya. tubuhnya jatuh, terduduk dengan menyandar lemah pada tembok. "Ayah!" panggilnya begitu Argon berdiri di depannya.
"Apa yang Uncle lakukan di sini?!" Nada suara Argon meninggi. tatapan tajamnya beradu dengan tatapan pemuda yang merupakan adik tiri Ayahnya itu.
Ethanolio Sargas Flourine, anak mendiang Opanya dengan wanita lain. meskipun tidak suka, namun Argon tetap berlaku sopan dengan memanggil Ethan dengan sebutan Uncle. usianya juga tidak terpaut jauh, hanya berselisih dua tahun.
"Ada yang kalian sembunyikan, Archy?"
Kedua tangan Argon terkepal. kepalanya menoleh melihat Delon yang duduk di belakang. "Berdiri, Delon!"
Delon langsung berdiri di belakang Argon. tangannya menggenggam ujung jas Ayahnya itu dengan erat. "Ayah, perih!" adunya membuat Argon kembali menoleh ke belakang.
Tatapan Argon semakin menajam dengan binar amarah yang terlihat begitu melihat leher Delon terluka dan mengeluarkan darah. "Brengsek!" desisnya.
Tangan kiri Argon langsung merangkul leher Delon untuk menutupi luka yang ada di sana, sementara tangan kanannya menuntun tangan kiri putranya agar melingkari pinggangnya dari samping. "Apa yang Uncle lakukan pada putraku?!"
"Putra?" tanya Ethan dengan menekan pisau kecil pada telapak tangannya, sehingga darah Delon yang masih tersisa ikut menempel di sana. "Oh, hahaha-----dia putramu, Archy?!"
"Jadi------selama ini kalian menyembunyikan remaja manis ini? waaaah.. hebat sekali!" decak Ethan dengan kepala menggeleng.
Delon yang sejak tadi menatap tidak suka pada Ethan menyeletuk dengan sinis. "Siapa sih lo, hah? lo kira gue takut sama lo?"
"Waaaah Ar, bukankah putramu sangat manis?-------apalagi dengan darahnya!"
Gigi Argon bergemelatuk di dalam mulutnya yang terkatup rapat. tatapannya menghunus tajam melihat Ethan yang menatapnya dengan bibir menyeringai. "Uncle bisa keluar sekarang dari sini?" usirnya secara tidak langsung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
