💌

1K 187 16
                                        

Deru mesin jet perlahan berubah, dari dengungan konstan menjadi ritme yang lebih rendah dan berat. Gulfstream melambat, menurunkan ketinggian secara bertahap di atas wilayah udara Swiss. Di luar jendela kabin, langit musim dingin membentang pucat—abu-abu kebiruan, tenang, tanpa kilau matahari.

Jam di dinding kabin menunjukkan pukul 14.52 CET.

Setelah hampir tujuh belas jam penerbangan, tubuh pesawat akhirnya menembus lapisan awan rendah. Dari balik kaca tebal, daratan Zurich mulai terlihat—hamparan bangunan rapi, jalan-jalan lurus yang dibingkai pepohonan tanpa daun, dan danau yang permukaannya tampak gelap serta dingin, memantulkan cahaya sore yang redup.

Di dalam kabin, suasana hening.
Lampu-lampu kabin diredupkan sejak satu jam lalu, meninggalkan cahaya lembut berwarna keemasan yang memantul di panel kayu dan kulit kursi. Udara terasa stabil, sedikit lebih dingin—pertanda sistem kabin menyesuaikan suhu luar.

Di barisan kursi kanan paling depan yang dekat dengan jendela, ada Zinc yang duduk dengan tubuh menyandar, kelopak matanya masih tampak terpejam namun tidak benar-benar tertidur. Sementara di kursi kiri depan yang sejajar dengan Zinc, ada Zirco yang terlihat sibuk membaca buku. Argon duduk berhadapan langsung dengan Zinc, disebelahnya ada Arsen yang saat ini terlihat menuangkan air ke dalam gelas. Neo yang duduk di seberang Arsen tampak fokus pada iPad. Sementara Gala yang duduk di samping Neo terlihat terpejam dengan bibir yang sesekali bersenandung kecil untuk ikut bernyanyi. Lain halnya dengan Kara dan Delon, keduanya memilih duduk di ujung sofa bagian belakang dengan ruang yang paling luas; bebas bergerak.

Tadi malam sekitar jam sepuluh tepat, mereka memutuskan untuk terbang ke Swiss setelah sebelumnya menghubungi pilot yang tersedia untuk segera menyiapkan keberangkatan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tadi malam sekitar jam sepuluh tepat, mereka memutuskan untuk terbang ke Swiss setelah sebelumnya menghubungi pilot yang tersedia untuk segera menyiapkan keberangkatan. Delon bahkan hanya mengenakan piyama tidur—berbeda dengan piyama tidur motif bintang yang sebelumnya digunakan tapi berakhir kotor karena insiden kecil yang terjadi saat makan malam, kali ini anak Argon itu mengenakan piyama tidur polos berwarna cream, lengkap dengan kaos kaki hitam dan sandal selop karakter hiu warna putih—favoritnya.

Pengumuman pilot dari kabin pesawat terdengar. “We are beginning our final descent. Estimated landing in ten minutes.”

Pesawat berbelok perlahan. Sayapnya sedikit miring, membelah udara dingin musim dingin dengan gerakan halus namun pasti. Getaran ringan terasa di lantai kabin, bukan guncangan, melainkan tekanan udara yang berubah saat ketinggian semakin rendah. Di luar, helipad bandara Zurich terlihat lebih jelas. Lampu-lampu berwarna putih kebiruan menyala stabil, kontras dengan aspal gelap yang tampak lembab oleh embun musim dingin. Tidak ada salju, tapi udara terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Roda pendaratan mulai diturunkan. Suara mekanis terdengar jelas ketika bunyi klik berat diikuti dengung logam yang mengunci posisi terakhir sebelum menyentuh daratan. Hitungan detik selanjutnya, pesawat mulai menyentuh permukaan. Bukan dengan hentakan keras, melainkan sentuhan terkendali, sebuah gesekan singkat, lalu suara ban yang berputar menyesuaikan kecepatan. Tubuh jet bergerak maju beberapa meter sebelum akhirnya melambat dan berbelok menuju helipad yang sudah disterilkan. Mesin jet masih menyala rendah ketika pesawat berhenti sepenuhnya. Dari luar, hembusan angin dingin Zurich menerpa badan pesawat, membuat udara di sekitarnya tampak bergetar samar.

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang