"Delon.."
"Delooon!"
Delon bergerak gusar, tidurnya jelas terusik. Suara yang terdengar terus memanggil namanya itu sangat menggangu. Padahal, kelopak matanya baru saja terpejam beberapa menit yang lalu. Enggan bangun dan melihat si pemilik suara, tubuhnya sontak bergerak untuk membelakangi. Namun, detik sebelum itu terjadi. Suara itu kembali, dan kini terdengar lebih jelas.
"Apa, sih?" Delon mendesis. Kelopak matanya yang masih terasa berat, bergerak pelan untuk menyesuaikan spektrum cahaya yang seolah menyilaukan mata. Detik setelah kelopak matanya terbuka dengan sempurna, kalimat makian yang ingin dia lontarkan, justru tertelan kembali. Begitu juga dengan tubuhnya yang langsung bergerak cepat untuk duduk.
"Hai, Kak Delon, ya?"
Delon tergagap. Selang infus yang dia lepas secara paksa dari punggung tangan kiri, nyaris tidak merasakan sakit. Yang bisa dia rasakan dengan jelas saat ini, hanya degub jantungnya yang berdetak kian menggila. Mulutnya bahkan terkunci rapat setelah suara itu kembali terdengar memanggil. Tatapannya sontak meliar ke segala sudut ruangan, tidak ada siapapun di sini, hanya ada dia seorang dan-
-Deka.
"Kak Delon?"
"Lo.. De---deka?" Delon mengigit ujung lidah. Pertanyaan yang dia layangan, seolah terdengar menggelitik sampai suara tawa bisa dia dengar setelahnya. Sial, dia seharusnya melempar pertanyaan yang lebih berbobot. "Lo ngapain di sini? Pergi, atau gue teriak!" Seperti itu misalnya. Anehnya, dia justru melayangkan pertanyaan yang jawabannya sudah dia tahu sendiri.
Ini konyol, di depannya saat ini ada Deka. Remaja itu benar-benar Deka, Deka Phytagorasio Galagher. Remaja yang kini raganya menjadi 'kontrakan' untuk jiwanya. Delon merasakan lidahnya kelu, tenggorokannya tiba-tiba merasa kering hingga kepalanya sontak menoleh ke arah nakas samping brankar. Ya, air. Air bening itu seolah berteriak memanggilnya dengan suara lantang agar dia segera meraih, dan meneguknya hingga tandas.
Namun, itu tidak terjadi. Delon justru kembali menoleh menatap Deka, hingga tatapan mereka terkunci. "De---deka?" panggilnya, lagi. Karena remaja itu masih belum usai menertawakan pertanyaannya sejak tadi.
"I-iya, Kak. Ini aku." Deka bertepuk tangan. Lalu kembali tersenyum lebar membalas tatapan Delon yang masih menatapnya dengan memasang raut bertanya-tanya. Dia yang posisinya berdiri di samping brankar, sedikit berjinjit agar bisa mencubit kedua pipi Delon. "Pipi Kakak kenyal, boleh aku gigit?"
Delon tertawa keras. Perpaduan antara suara tawa yang dipaksakan, namun tidak bisa dipadukan, hingga terdengar seperti suara latihan anggota militer. Begitu menyadari Deka yang ikut tertawa, mulutnya secara spontan tertutup rapat. "Ini 'kan, pipi lo.. Deka?"
"Oh iya." Deka menyengir lalu kembali menatap Delon dengan tersenyum lebar. "Kak Delon bahagia nggak, di sini?"
"Maksud lo?"
"Kak Delon nggak sadar kalau itu tubuh aku?"
"Sa-sadar, kok!" Delon menjawab cepat. Kedua tangannya langsung bergerak untuk meremas bantal yang posisinya ada di belakang.
"Kenapa?"
"A-apa?"
Deka tertawa, lagi. Dia hanya bertanya. Lalu kenapa remaja itu membalasnya dengan isak tangis? Aneh. "Kak Delon takut aku kembali?"
Delon mengangguk dengan cepat. Menyadari hal itu, kepalanya sontak menggeleng heboh. Semua pergerakannya tidak ada yang sinkron, terlebih bibirnya yang bergerak untuk mengatakan. "A---aku nggak mau jauh dari Ayah!"
"Aku juga nggak mau egois, Kak."
Kepala Delon yang telungkup di atas lipatan lutut. Sontak terangkat hingga wajah Deka yang masih menatapnya dengan tersenyum, kembali dia lihat. "Maksud lo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Different, D.A || Selesai ||
General FictionIni kelanjutan story Different Soul★DERA☆ ya. kalau berkenan, mampir ke sana dulu~ ________ Bukan hanya menceritakan perbedaan sikap antara Delon dan Kara. Tapi, ini juga akan menceritakan kisah Argon dan Delon yang statusnya sudah berubah, yakni me...
