★ D.A - S3 - 11 ☆

18.7K 1.6K 368
                                        

"Harusnya.. malam ini gue bisa cicip Amer dulu!"

"Cocktail, deh, yang lebih berkelas!"

Delon bergumam seraya menatap langit-langit kamar. tenggorokannya sudah kembali basah setelah menghabiskan satu teko air yang tersedia di atas nakas. posisinya juga sudah berganti sejak tadi, dari kepalanya yang hampir menyentuh lantai dengan kaki yang berada di atas tempat tidur, lalu tengkurap, dan sekarang telentang. sudah sepuluh menit sejak Ayahnya keluar dari kamar mandi. dan sekarang, sosok Ayah angkatnya itu berada di dalam walk in closet.

"Bisa ikut balapan dulu! bisa ke Bar, bisa adain sunmori!" lanjut Delon bergumam. "------Ah, sial! kenapa gue ngaku secepatnya ini, sih? harusnya gue puas-puasin bebas dulu!" lanjutnya seraya mengerang pelan. lantas, posisinya yang semula telentang. langsung duduk begitu melihat sosok Ayah angkatnya yang melangkah keluar dari dalam walk in closet. "Jangan ngomong, aku mau marah sama Ayah!"

Alis Argon terangkat tinggi begitu mendengar perkataan Delon. tawa kecilnya terdengar begitu melihat raut kesal, serta tatapan marah putranya. "Lucu!" gumamnya pelan yang kemudian menggeleng. "---Jangan lihat Ayah dengan ekspresi seperti itu!"

Kini, giliran alis Delon yang terangkat begitu mendengar dengan jelas kalimat yang diucapkan oleh Argon. "Apa?!" sentaknya dengan membalas sinis tatapan Ayah angkatnya itu. "Bukain pintu, aku mau keluar!"

Argon mengangguk. bukannya melangkah ke arah pintu, kakinya justru kembali melangkah untuk masuk ke dalam walk in closet. tidak lama kemudian, kembali keluar dengan menenteng sepasang sendal bulu. "---Pakai ini, Delon!"

Delon menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak tertawa begitu sepasang kakinya dipakaikan sepasang sendal berbulu oleh Argon. bukan karena kebesaran, melainkan warnanya. "K---kok warna pink, Yah?" Ya, sepasang sendal yang dipakaikan oleh Ayah angkatnya itu berwarna pink dengan motif babi.

Argon yang kini mendongak, mengusap tengkuknya pelan. terlebih saat melihat raut putranya yang menahan diri agar tidak tertawa. "Itu----itu dibelikan Papi!" jawabnya yang mengundang gelak tawa Delon. putranya itu benar-benar tertawa dengan lepas. dia tidak tahu apakah hal seperti ini bisa disebut lelucon? padahal, dia tidak pernah memakainya sekalipun.

"Ayaaah.. aduuuh, kok bisa warna pink, sih?" tanya Delon dengan sisa tawanya yang masih terdengar. "Mana motifnya mirip bangeeet sama Ayah!"

Argon menunduk untuk menatap sepasang sendal yang kini sudah terpasang di kedua kaki putranya. babi? kelopak matanya mengerjap pelan sebelum kembali mendongak begitu mendengar gelak tawa Delon yang semakin keras. dengusannya terdengar samar sebelum kedua sudut bibirnya tertarik untuk mengulas senyum. wajah putranya yang tertawa lepas terlihat sangat bersinar, perpaduan antara ekspresi lucu yang menggemaskan terlihat bersamaan. belum lagi rambut semi ikal putranya yang bergerak-gerak dengan matanya yang sipit seakan tidak terlihat.

Setelah puas tertawa, Delon menunduk. meski berulangkali menahan diri agar tidak kembali tertawa. kini, sepasang kakinya yang sudah terpasang sendal bulu itu tidak terlihat. karena kebesaran, tentu saja. "Ayaaah.. makasih!"

Lagi, dan lagi alis Argon terangkat tinggi. putranya ini jarang sekali mengucapkan terimakasih. bukannya tidak pernah, melainkan sangat jarang. "Makasih untuk sendalnya, Delon?"

Delon menggeleng cepat. "Makasih buat motor aku yang belum sampai, Yah!"

💘


"KAR!"

"KARAAA!"

Different, D.A || Selesai ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang