-Kuharap hanya ada pertemuan dan tidak adanya perpisahan diantara kita-
Manda Aurellia dikenal sebagai gadis cantik. Kulit putih, rambut sebahu, serta dua lesung pipit yang selalu muncul setiap kali ia tersenyum. Sayangnya, wajah manis itu sama sekali tak sejalan dengan sifatnya—menjengkelkan, sedikit bar-bar, dan sangat pemalas.
Namun, tak banyak yang tahu bagaimana hidup sebenarnya memperlakukannya.
Sejak usia dua belas tahun, dunia Manda berubah. Bundanya meninggal, dan rumah yang dulu hangat perlahan terasa asing. Papa yang dahulu penuh perhatian kini menikah lagi, membentuk keluarga baru yang tak pernah benar-benar menerimanya. Sejak saat itu, Manda belajar bagaimana rasanya hidup di rumah sendiri, tapi merasa seperti tamu yang tak diharapkan.
S
ejak usia 12 tahun, Manda tinggal bersama keluarga barunya setelah sang Papa menikah lagi, sepeninggal sang Bunda empat tahun lalu.
_______________________________________________________
Suara alarm memekakkan telinga Manda, memaksanya terbangun dari mimpi indahnya. Gadis itu menggeliat pelan, lalu melirik jam di atas meja.
04.30 WIB.
Dengan mata setengah terpejam, ia menggosok wajahnya kasar sebelum bangkit dan mengambil handuk menuju kamar mandi.
Setelah selesai, Manda mengenakan pakaian santai—celana training dan kaus abu-abu. Ia memoles wajahnya dengan sedikit makeup seadanya dan mengoleskan pelembap bibir agar tak terlihat terlalu pucat.
Belum sempat ia duduk dengan tenang, suara teriakan terdengar dari kamar di sampingnya. Kamar milik saudara tirinya, Raya Felicia.
"
Manda, nasi goreng gue mana?" teriak Raya.
"Sebentar!" jawab Manda dari dalam kamar.
Ia langsung turun ke lantai bawah menuju dapur. Tangannya bergerak cekatan, meski wajahnya tampak datar. Memasak sudah menjadi rutinitas yang tak bisa ia tolak.
Inilah hidup Manda sekarang. Selalu disuruh, selalu dibandingkan, dan selalu dianggap kurang. Papa dan Mama tirinya lebih sering memuji Raya, sementara Manda hanya ada ketika mereka membutuhkan sesuatu.
Sesekali ia mencicipi masakannya.
"Akhirnya selesai juga," gumamnya lega.
Manda membawa sepiring nasi goreng itu ke kamar Raya.
Tok… tok… tok…
"Masuk," sahut Raya dari dalam.
"Ini makanannya," kata Manda sambil tersenyum kecil.
"Lama banget sih!" bentak Raya, merebut piring itu dengan kasar. "Ngapain lo masih di sini? Sana keluar!"
“Gue mau izin keluar sebentar, Kak,” ucap Manda pelan.
“Keluar tinggal keluar. Kalau bisa sekalian nggak usah pulang,” balas Raya sinis.
Manda memilih diam. Ia sudah terlalu lelah untuk membalas. Berdebat hanya akan membuatnya semakin disalahkan. Papa tak pernah berdiri di pihaknya lagi—di mata lelaki itu, hanya ada istri barunya dan Raya.
Dengan langkah pelan, Manda keluar dari kamar itu. Hari ini hari Minggu. Ia memutuskan untuk berolahraga, sekadar memberi dirinya sedikit ruang bernapas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Teen Fiction"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
