"Ada rindu yang tak bisa disampaikan langsung. Maka doa jadi satu-satunya cara paling setia untuk menggantikannya."
— Unknown 🪽
Langit pagi masih berselimut awan kelabu ketika Sifa menarik koper kecilnya menuju teras rumah. Mamanya menyusul dari belakang sambil membawa bekal kecil dan syal rajut warna biru langit—warna kesukaan Manda.
"Hati-hati di jalan, jangan lupa kabarin Mama kalau sudah sampai di sana," ucap mamanya sambil membenarkan letak syal di leher Sifa. "Sampaikan salam Mama buat Manda, dan bilang ke lainnya... Mama belum bisa jenguk ke sana."
"Mama tenang aja, nanti Sifa sampaikan. Kalau gitu, Sifa berangkat dulu ya. Bentar lagi pesawatnya mau take-off."
Tak jauh di belakang, seorang laki-laki—Adit—mendekat sambil menarik ranselnya. Ia sudah menunggu sejak lima menit lalu di dekat mobil yang akan membawa mereka ke bandara.
"Nak Adit, Tante titip Sifa ya. Jaga dia baik-baik... jangan sampai lecet sedikit pun!"
Adit membungkuk sopan dan mengangguk mantap.
"Insya Allah, Tante. Saya akan jaga Sifa."
Sifa cemberut, menggembungkan pipinya kesal.
"Mama tuh cerewet banget, padahal Sifa ke Singapura cuma beberapa hari doang," gerutunya pelan sambil menarik koper ke arah mobil.
"Sayang... "
"Iya, iya... Sifa pasti bisa jaga diri baik-baik," lanjutnya sambil tersenyum setengah kesal.
Adit tertawa kecil melihat tingkah Sifa. Ia memberi salam dan membungkuk sopan. "Kalau begitu kami pamit, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Tak lama, mobil mereka perlahan meninggalkan pekarangan rumah. Dari kaca jendela, Sifa melambaikan tangan ke mamanya yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Mobil melaju cepat membelah jalanan, mengejar waktu karena semua teman Sifa sudah menunggu di bandara. Di dalam mobil, suasana sempat hening sejenak. Sifa memeluk lengannya sendiri, membiarkan kepalanya bersandar ke jendela. Adit sesekali mencuri pandang, memperhatikan gadis itu diam-diam.
Di luar, langit tampak mulai membiru. Tapi hati Sifa, seperti masih menyimpan awan kelabu.
Mobil melaju stabil di jalan tol, suara musik pelan terdengar dari radio. Sifa masih memandangi langit lewat jendela, sementara Adit sesekali melirik ke arahnya.
"Kamu kenapa? Tiba-tiba diem gitu," tanya Adit, memecah keheningan.
Sifa mendesah pelan. "Enggak apa-apa... cuma mikir, Mama tuh lebay banget, ya?"
Adit tertawa kecil. "Itu tandanya Mama kamu sayang banget. Kamu anak satu-satunya kan?"
Sifa mengangguk pelan, lalu menoleh ke Adit. "Iya sih... tapi kan enggak harus kayak mau pergi ke perang juga."
"Hmm… ya tapi kadang rasa sayang itu suka berubah jadi kekhawatiran yang berlebihan. Aku ngerti, kok. Lagian kalau aku jadi Mama kamu, aku juga bakal cerewet."
Sifa menoleh cepat, mengangkat alis. "Kamu? Jadi mama aku?"
"Perumpamaan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Подростковая литература"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
