58

43 0 0
                                        

Anak kecil duduk di pinggir jalan yang penuh tumpukan sampah. Dia mengenakan pakaian kotor dan menahan lapar, tapi matanya tetap memancarkan cahaya harapan. Di tengah pemandangan yang suram itu, seorang wanita cantik dengan senyum hangat perlahan mendekatinya.

“Kamu baik-baik saja, nak?” tanya Elsie lembut sambil menepuk-nepuk bahu anak tersebut.

mengangguk pelan, berusaha menahan tangisnya. Dia tak tahu siapa dirinya atau dari mana asalnya, tapi kehadiran wanita itu memberinya rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Kenapa kamu ada di sini? Di mana orang tua kamu?" tanya Elsie dengan lembut.

Dia menggeleng polos. "Marsel nggak tahu... Adi ama ninggalin Marsel di sini. Api ama Ndak Ayik Agi..." ucapnya terbata-bata.

"Nama kamu Marsel, ya? Kamu tahu rumah kamu di mana?"

"Hiks... Marsel nggak tahu. Marsel lupa... hiks," jawabnya sambil menahan tangis.

"Jangan khawatir, Tante akan membawa Angga pulang ke rumah Tante," janji Tante Elsie sambil mengelus kepala Marsel dengan lembut.

Marsel pun tersenyum, seolah baru saja mendapat hadiah terbesar dalam hidupnya.

"Eneran?" tanyanya dengan penuh harap.

"Bener, sayang. Sekarang kamu bisa panggil Tante dengan sebutan bunda!" jawab Elsie lembut.

Dia tersenyum lebar. "Unda."

"Iya, sayang. Yuk, ikut bunda pulang ke rumah."

"YEY!"

-----


"Siapa anak kecil ini?" tanya David, tatapannya tajam.

"Dia sekarang anak kita, Mas," jawab Elsie. "Tadi aku nggak sengaja nemuin dia di dekat tempat sampah. Kasihan, orang tuanya malah menelantarkan dia. Jadi kita yang rawat. Marsel, kamu panggil dia papa, ya!"

"Oke, Unda. Papa," panggil Marsel dengan polos. Tapi David langsung menghindar dan mendorong tubuh kecil itu.

"Kamu ini apa-apaan, Mas? Kenapa kamu giniin dia?" tanya Elsie panik sambil menahan tubuh Marsel supaya tidak jatuh ke lantai.

"Aku nggak mau nerima dia, apalagi angkat dia jadi anak kita. Kamu bawa dia pergi dari sini!"

Elsie tak percaya dengan ucapan David. Ia berusaha menenangkan situasi, memeluk Marsel dengan erat. Getaran ketakutan dari dalam diri Marsel begitu nyata dirasakannya. Namun, bagaimanapun juga, keputusan akhir tetap ada di tangan David.

"David, tolonglah... Dia butuh kita," bisik Elsie dengan suara penuh harap.

David menatap Marsel dengan tatapan tajam. Keputusannya sudah bulat.

"Tidak. Aku tidak akan menerima dia sebagai anak kita. Kamu bawa dia pergi dari sini."

Marsel menangis terisak. Ia takut, terutama saat melihat tatapan David padanya. Meski masih kecil, Marsel sangat mengerti arti tatapan itu.

Elsie menatap David dengan ekspresi campuran kecewa dan marah.

"Kamu jangan takut, oke? Ada bunda di sini," kata Tante Elsie lembut sambil menggandeng tangan Marsel.

"Kita ke kamar Marsel, yuk!"

"Elsie! Kamu dengar aku? Bawa dia pergi sekarang juga!" teriak David.

Elsie menatap pintu dengan tegang, merasakan adrenalinnya naik. Meski hatinya berdebar kencang, dia memilih tetap tenang.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang