"Papa, kenapa?"
David menoleh, menatap putrinya, Raya. Ia tersenyum kecil, lalu menepuk kursi di sampingnya. Raya pun mendekat, mengerti maksud sang papa.
"Raya cari Papa, ternyata Papa di sini. Aku sudah siapin makan buat Papa," ucap Raya sambil duduk.
David menatap langit sejenak. "Udara di sini segar, ya?"
"Iya, Papa benar. Entah kapan terakhir kali aku ke taman seperti ini," ujar Raya, lalu menghirup udara pagi yang sejuk.
"Mama kamu udah pulang?"
Itu saja. Hanya itu. Dan selalu itu yang ditanyakan papanya setiap kali mereka mengobrol.
Sejak pertengkaran hebat waktu itu, mamanya pergi entah ke mana. Nomornya tak pernah bisa dihubungi, selalu tidak aktif. Ia sudah berusaha mencari, mencoba berbagai cara, tapi hasilnya tetap nihil—mamanya seolah menghilang ditelan bumi.
Pertanyaan itu sudah membuatnya bosan. Berapa kali pun ditanyakan, jawabannya tak pernah berubah: dia tidak tahu, dan lebih parahnya—dia tidak mau tahu lagi.
Dia sudah muak. Muak dengan semuanya.
Yang dia inginkan sekarang hanya satu: hidup tenang, tanpa drama, tanpa luka lama yang terus dikorek.
"Udah deh, Pa. Jangan bahas itu lagi. Raya muak," ucap Raya dengan nada lelah.
David tak langsung menanggapi. Matanya menatap lurus ke depan, lalu ia menunjuk ke arah sebuah pohon di taman rumah mereka. "Kamu tahu pohon itu?"
Raya menoleh dan mengangguk pelan. "Iya, Raya bisa lihat. Kenapa, Pa?"
David menarik napas dalam. "Pohon itu... seperti keluarga. Ranting dan daunnya adalah anggota keluarganya. Mereka memang berbeda—ada yang besar, kecil, hijau, bahkan layu—tapi mereka tetap bersatu dalam satu akar yang sama."
"Mereka saling menopang, tumbuh ke segala arah, tapi tetap berpegangan pada akar yang kokoh. Dan ketika angin badai datang, mereka tidak runtuh. Mereka bersama-sama menahan guncangan. Seperti keluarga seharusnya—tetap tegar meskipun diterpa badai."
Raya terdiam. Ia tidak sepenuhnya mengerti apa yang baru saja diucapkan papanya.
"Maksud Papa?" tanyanya pelan.
David menghela napas, lalu menatap pohon itu lagi.
"Akar itu... diibaratkan kepala keluarga. Sosok yang menjadi panutan. Orang yang menjadi panutan harus kuat, seperti akar—agar bisa melindungi keluarganya. Tapi Papa gagal. Papa bukan orang yang kuat. Dan karena itulah... keluarga kita jadi seperti ini."
Kata-kata itu menampar hati Raya.
Matanya perlahan memanas, sedih mendengar pengakuan yang selama ini tidak pernah ia dengar.
Sekarang ia mengerti.
Ia akhirnya paham apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang ayah.
Apa Papa menyesal sekarang?
Menyesal atas semua yang telah terjadi, semua yang ia lakukan... Dan semua yang pernah ia lakukan.
Apa Papa menyesal karena meninggalkan keluarganya?
Atau... menyesal memiliki anak sepertiku?
Pertanyaan itu menggema di kepala Raya, membuat dadanya sesak. Selama ini, ia hanya diam, hanya menerima, hanya mencoba kuat. Tapi malam ini... semuanya terasa berat.
"Apa Papa menyalahkanku?" ucapnya akhirnya, pelan.
"Karena kehadiran Raya… membuat keluarga Papa dulu berantakan?"
"Raya…"
"Jujur sama Raya, pa?"
David tak berkutik.
Pertanyaan putrinya menusuk lebih dalam dari yang bisa ia bayangkan.
Dalam hatinya, sebuah jawaban sempat terlintas—"iya", tapi bukan karena ia membenci putrinya. Bukan karena ia benar-benar menyesal memiliki Raya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Ficção Adolescente"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
