"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?"
Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Manda terkekeh sendiri saat mengirim pesan itu, membayangkan ekspresi datar Afrel membaca chat-nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Manda meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar ke atas kasur. Ia lalu menatap kosong ke langit-langit kamarnya, pikirannya melayang jauh pada sosok bundanya yang kini sudah tenang di alam sana.
Seandainya Bunda masih ada, pikirnya lirih. Aku pasti udah kenalin Afrel ke Bunda. Aku pasti udah cerita semuanya.
Lamunan Manda buyar seketika saat mendengar suara dari arah balkon kamarnya. Suara engsel pintu jendela yang perlahan terbuka membuat jantungnya berdegup kencang. Rasa panik mulai menyelimuti dirinya.
Jangan-jangan… maling? pikirnya cemas.
Dengan langkah perlahan dan hati-hati, Manda bergerak mendekati balkon. Ia sempat menoleh ke sudut kamarnya dan tanpa pikir panjang, mengambil sapu sebagai alat pelindung diri.
Manda menggenggam erat gagang sapu, bersiap memukul apa pun yang muncul di balik bayangan jendela itu.
Buk... Buk... Buk!
Manda memukul sosok yang muncul dari balik pintu balkon dengan membabi buta. Tangannya tak henti-henti mengayunkan sapu.
"Rasain, Lo! Siapa suruh masuk rumah orang tengah malam begini!" serunya penuh semangat.
"Aws—awas! Sakit! Ini gue, Afrel!" ucap suara pria itu, berusaha menangkis sapu yang melayang ke arah tubuhnya.
Manda sontak menghentikan gerakannya. Ia terpaku, matanya membelalak. Suara itu sangat ia kenal. Ia menurunkan sapunya dan menatap pria itu dengan jelas—Afrel. Terduduk lemas di lantai, wajahnya kesal, menahan perih.