50

50 0 0
                                        

Kita bisa punya rencana, tapi Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik.

Ada saat-saat di mana kita berharap segalanya berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kita merancang masa depan, menata harapan, dan percaya bahwa semua akan berjalan lancar. Namun, sering kali hidup membawa kita ke arah yang tak pernah kita bayangkan.

Terkadang, arah itu terasa mengecewakan. Menyakitkan. Bahkan membuat kita mempertanyakan segalanya. Tapi justru di situlah letak kebesaran-Nya—bahwa apa yang kita anggap sebagai kegagalan, bisa saja menjadi jalan menuju sesuatu yang jauh lebih baik.

Memang, tidak mudah menerima perubahan. Tidak mudah pula melihat harapan runtuh di depan mata. Tapi kita harus percaya, bahwa di balik rasa sakit dan kecewa, Tuhan sedang menyusun sesuatu yang indah untuk kita.

Karena yang kita pikir terbaik, belum tentu yang paling tepat. Tapi yang Tuhan berikan, selalu yang kita butuhkan.

"Kak, ada kabar dari Singapura? Gimana kondisi Manda? Ada perkembangan?"

Sifa menutup matanya sejenak, membiarkan angin malam menyentuh lembut wajahnya. Udara malam membawa aroma laut yang tenang.

"Belum ada kabar, belum ada perkembangan sama sekali," jawabnya pelan.

Sifa menghela napas dalam, dadanya terasa sesak mendengar kabar itu. Perlahan, ia membuka matanya dan menatap kosong ke arah pantai yang tenang, seolah mencari jawaban di antara gelapnya laut dan langit malam.

"Kenapa belum ada perubahan, Kak? Aku takut... gimana kalau terjadi sesuatu sama Manda?" gumamnya lirih.

"Kita gak boleh mikir yang aneh-aneh, Sif. Manda itu orang yang kuat. Kita harus percaya, dia pasti bisa melewati ini. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah sabar... dan terus berdoa."

Sifa menatap Adit dengan mata yang berkaca-kaca. Suaranya bergetar saat berkata,
"Tapi Manda udah satu tahun lebih di sana, Kak. Tapi sampai sekarang... belum ada tanda-tanda perubahan sama sekali."

Adit menggenggam tangan Sifa erat. Bukan hanya Sifa yang sedih, Adit pun merasa lebih terpukul—terutama karena ia tahu penyakit yang Manda derita dari Angga.

"Kita harus tetap percaya. Percaya kalau selalu ada harapan meski dalam gelap. Manda itu pejuang... dan dia gak mungkin ninggalin kita begitu aja."

Air mata Sifa akhirnya jatuh, lalu ia bergumam,
"Kenapa sih... kenapa selalu Manda? Kenapa selalu ada aja yang terjadi sama dia? Kenapa orang sebaik dia malah disakiti?"

Adit menarik napas panjang, menatap langit sejenak sebelum menjawab, " Ini takdir. Kadang kita gak ngerti jalan Tuhan. Tapi semuanya udah diatur. Dan mungkin, di balik semua ini, Tuhan lagi nyiapin sesuatu yang lebih besar buat Manda."

Setelah keheningan beberapa saat, Adit tersenyum lembut dan mengelus kepala Sifa. "Mau makan? Aku gak mau kamu terus kepikiran hal-hal buruk. Yuk, makan dulu ya..."

Sifa mengangguk perlahan, menyambut uluran tangan sang kekasih. Ya, tepat lima bulan yang lalu, dia resmi berpacaran dengan Adit. Entah sejak kapan, tapi hatinya perlahan jatuh pada sosok laki-laki di depannya ini. Bukan karena kata-katanya, tapi karena sikapnya yang tulus dan selalu ada di saat dia rapuh.

Ingatannya kembali ke momen itu—hari ketika semuanya berubah.

"Sifa, gue gak tahu harus mulai dari mana... Mungkin mantan gue banyak, tapi sumpah, gue gak pernah nembak mereka satu pun," ucap Adit, menatap Sifa penuh kesungguhan. "Lo beda... Mau gak jadi pacar gue?"

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang