“Kalau satu pintu tertutup, pasti ada pintu lain yang terbuka. Tapi kadang kita terlalu fokus buka pintu yang sudah tertutup, sampai nggak sadar pintu yang lain sudah menunggu untuk dibuka.
---
"Kenapa? Hey, ada masalah?"
"Kak Varo, bisa antar aku?"
"Bisa, mau ke mana?"
"Ke rumah Siska," lirih Manda.
"Oke," jawab Varo sambil menyalakan mobilnya.
Manda mengusap matanya yang masih basah oleh air mata. Matanya lalu terpaku pada layar handphonenya, yang menunjukkan pukul 13.20 — berarti bel pulang sekolah sudah berbunyi 20 menit yang lalu.
Di layar terpampang.
35 pesan dari Papa,
20 panggilan tak terjawab dari Sifa,
dan 10 panggilan tak terjawab dari Siska.
Manda menghembuskan napas pelan, merasa beban masalah yang menumpuk akhir-akhir ini begitu berat. Ia memijat pelipisnya yang mulai sakit, tanpa sadar bahwa Varo sudah lama memperhatikannya.
"You okay?" tanya Varo, sedikit cemas.
"I’m fine," jawab Manda pelan.
"Serius? "
"Iya, Varo. Aku baik-baik saja. Tenang aja, ya."
Varo pura-pura mempercayai ucapan Manda, meski sebenarnya dia tahu ada yang disembunyikan. Tapi dia tak ingin memaksa, karena menghargai perasaan Manda.
"Kalau ada masalah, apapun itu, jangan sungkan cerita, ya. Gue kan kakak lo, tempat lo bisa bersandar. Paham, kan?"
"Iya, Kak. Beneran deh, kali ini gue gak apa-apa."
Manda menatap keluar jendela, melihat kendaraan yang saling menyalip di jalanan macet. Ia menghela napas panjang, rasa kesal tersirat di wajahnya.
"Kenapa hidup gue banyak banget kejutan, sih," gumam Manda pelan.
"Hidup emang penuh kejutan, Man. Setiap hari kita dihadapkan sama hal-hal yang gak terduga. Tapi justru itu yang bikin hidup jadi menarik, kan?"
"Tapi gue pusing banget."
“Masalah itu jangan sampai kamu pikirin terus sampai bikin kamu capek, Man. Coba fokus cari cara buat selesaikan, bukan cuma dipikirin doang. Kalau kita pengen gak ada masalah, ya solusinya cuma satu… mati,” kata Varo, sambil menggenggam tangan Manda dengan tangan kirinya. Tangan satunya tetap pegang setir, matanya fokus di jalan.
Manda menatap tangan Varo yang menggenggamnya, lalu lirih bertanya, "Kapan ya, gue bisa bahagia...?"
"Kebahagiaan itu bukan soal kapan, Man. Bukan tujuan yang harus kamu capai di akhir. Bahagia itu perjalanan yang harus dinikmati. Bisa dari hal-hal kecil, kesederhanaan, dan menghargai apa yang kamu punya sekarang. Jadi, jangan cuma mikirin kapan kamu bakal bahagia, tapi coba nikmati aja setiap langkah hidupmu."
Varo menatap Manda, lalu berkata, "Kalau kamu gak ditakdirin bahagia, ya ciptain sendiri kebahagiaan itu. Paham, kan?"
Manda menoleh, "Bagaimana dengan kamu sendiri, sekarang bahagia gak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Teen Fiction"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
