-Ketika ketakutan ku menjadi kenyataan di situlah aku berada di titik terendah-
_Happy Reading_
P
emandangan kota di malam hari terlihat begitu indah. Lampu-lampu jalan berkelap-kelip menghiasi sepanjang trotoar, bersaing lembut dengan sinar rembulan yang menggantung di langit. Udara malam yang dingin menyentuh kulit, menambah suasana menjadi lebih syahdu.
Sebuah motor melaju pelan di jalanan, membawa dua insan yang tengah dimabuk cinta.
“Kita mau ke mana dulu?” tanya Afrel dari balik helmnya.
“Makan dulu, yuk,” sahut Manda dari belakang.
“Pengen di mana? Ada request tempatnya nggak?” tanya Afrel lagi sambil melirik kaca spion.
“Ada kok… Jalan aja, nanti aku yang arahin,” jawab Manda sambil menyandarkan pipinya di punggung Afrel yang lebar dan hangat.
Afrel hanya tersenyum kecil, merasakan degupan halus dari gadis yang kini makin ia sayangi.
Sesuai arahan Manda, kini sepasang sejoli itu sudah duduk di salah satu meja kecil yang tersedia di dekat gerobak bakso pinggir jalan—pilihan sederhana yang justru penuh makna bagi Manda.
"Pak, baksonya dua, sama minumnya es teh ya!" seru Manda dengan semangat.
"Rel, kamu mau minum apa?" tanyanya sambil menoleh.
"Es jeruk aja," jawab Afrel santai.
"Pak, tambah satu es jeruk ya!" teriak Manda lagi.
Afrel tersenyum kecil, lalu meraih tangan Manda dan menggenggamnya hangat. "Nggak usah teriak, Sayang. Penjualnya pasti denger kok," ucapnya lembut.
Manda terkekeh. "Iya, iya. Maaf deh. Tapi kamu tau nggak? Tempat ini tuh favorit aku. Sifa sama Siska juga tau kok."
"Kenapa tadi kita nggak ajak mereka sekalian, ya?" ucap Manda sambil menopang dagu.
"Kalau mereka ikut, kita nggak bisa pacaran dong. Mereka kan suka usil," ucap Manda sendiri, lalu tertawa kecil.
Afrel hanya terkekeh melihat tingkah lucu pacarnya.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang—dua mangkuk bakso yang masih mengepul dan minuman dingin yang tampak menyegarkan.
"Rel, fotoin aku dong!" ujar Manda antusias, menyerahkan ponselnya ke Afrel.
"Pakai HP aku aja," ucap Afrel sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Oke," jawab Manda sambil tersenyum.
Ia mulai berpose dengan berbagai gaya, berharap hasilnya akan terlihat bagus.
"Udah, liat dong!" kata Manda semangat, langsung mengambil ponsel Afrel untuk melihat hasil fotonya.
Manda tersenyum puas melihat hasil jepretan Afrel. "Bagus! Nih, aku save dulu ya di galeri kamu. Nanti kirim ke aku," katanya sambil menyimpan fotonya.
"
Iya, sayang."
Manda meletakkan HP Afrel di atas meja, lalu mulai menikmati makanannya.
Namun momen itu tiba-tiba terusik saat sebuah notifikasi masuk ke ponsel Afrel yang masih di atas meja. Layar menyala dan Manda tanpa sengaja melihat pesan itu—tidak ada nama. Siapa dia, kenapa rasanya begitu mencurigakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Genç Kurgu"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
