43

47 2 0
                                        

"Bertahan, kamu kuat."

"Tapi... aku gak sekuat itu. Aku lemah. Aku cuma cewek lemah yang pura-pura terlihat kuat."

----


"Shut, udah. Tidur ya," mengelus rambut Manda lembut.

"Kak Angga... mereka jahat," bisik Manda lirih, air matanya kembali menetes.

Angga memeluk Manda erat, menatap wajah rapuh itu dengan penuh kepedihan. "Iya, mereka jahat. Tapi kamu gak sendiri. Jangan nangis lagi ya..."

"Hati gue sakit, Kak. Manda mau ketemu Bunda... Manda capek... Manda mau ikut Bunda aja," ucapnya dengan tatapan kosong namun penuh harap, menusuk hati siapa pun yang mendengarnya.

Semua yang berada di ruangan itu hanya bisa diam. Isak tertahan mulai terdengar, dan tak ada satu pun dari mereka yang mampu menahan tangis saat melihat Manda seperti ini.

"Mau ketemu Bunda?"

"Iya... Manda mau ketemu Bunda. Boleh ya?" ucap Manda pelan, mengangkat dagunya ke arah Angga sambil menunjukkan senyuman manis-senyuman yang justru terasa seperti luka paling dalam.

Seketika itu juga-

Brak!

Suara pintu dibanting keras memecah suasana. Semua yang ada di ruangan terkejut dan menoleh cepat. Di ambang pintu berdiri Varo, dengan rahang mengeras dan tatapan tajam penuh emosi.

Tangannya yang masih menggenggam kenop pintu bergetar, napasnya memburu seolah menahan sesuatu yang ingin meledak keluar.

"Mau ke mana?" tanya Adit, cepat-cepat menahan pundak Varo yang baru saja beranjak pergi.

Namun Varo tak menjawab. Ia hanya menghempaskan tangan Adit dengan kasar, pandangannya lurus ke depan, dingin, penuh gejolak yang tak bisa diucapkan.

Tanpa sepatah kata pun, Varo melangkah keluar-meninggalkan mereka dalam diam yang menggantung di udara.

Bayu sudah bersiap ingin menyusul, tapi dihentikan oleh gelengan kepala Afrell.

"Gue aja," ucapnya singkat, sebelum melangkah cepat mengejar Varo yang sudah lebih dulu pergi.

"Kak, di mana Bunda?"
Ucapan lirih itu menghentikan langkah Bayu yang tadi hendak protes. Semua orang di ruangan langsung membisu.

"Manda, sebaiknya lo istirahat dulu, oke?" ucap Sifa pelan, mencoba menenangkan.

Namun Manda langsung menatap Sifa dengan sorot tajam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Gue mau ketemu Bunda, bukan mau tidur! Kenapa sih kalian malah ngelarang? Kalian juga mau rebut Bunda dari gue, ya? Kalian jahat!"

Manda mulai memberontak, mencoba melepaskan diri dari pelukan Angga, tapi Angga justru memeluknya lebih erat, menahan tubuhnya yang gemetar penuh emosi.

"Tenang, Manda... gue di sini. Gak ada yang ngerebut siapa-siapa," bisik Angga sambil mengelus rambutnya.

"Man..." lirih Sifa, suaranya nyaris hilang saat melihat tatapan itu - tatapan penuh luka, kemarahan, dan keputusasaan. Tatapan yang belum pernah Manda tunjukkan padanya.

Siska langsung meraih bahu Sifa, mengelusnya lembut.
Sifa menoleh padanya dan berusaha tersenyum meski hatinya bergetar hebat.

"Lepasin gue!" teriak Manda, tubuhnya menggeliat kuat dalam pelukan Angga.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang