46

54 2 0
                                        




"Apa pasien pernah mengidap penyakit leukemia sebelumnya?"

Deg.

Entah kenapa perasaan Angga tiba-tiba tidak enak. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan di kepalanya.

"Iya, Dok... Dulu dia pernah mengidap penyakit itu," jawabnya pelan.

"Apa kamu tahu kalau penyakit itu belum sepenuhnya sembuh... bahkan belum sampai setengahnya?"

Angga spontan berdiri. Tangannya refleks menarik kerah baju dokter di hadapannya.

"Gak mungkin!" bentaknya, napasnya memburu. "Dia udah dinyatakan sembuh total beberapa tahun lalu! Jangan ngomong sembarangan! Gue bisa—" suaranya tertahan, matanya menatap tajam. "Gue bisa aja bunuh lo sekarang."

"Tenang dulu! Biar saya jelaskan semuanya secara detail!" ucap sang dokter cepat-cepat.

Cengkeraman di kerah bajunya akhirnya terlepas. Ia menarik napas lega, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdetak kencang.

"Karena penyakit itu belum sepenuhnya sembuh, dan pasien sengaja mengabaikannya, kondisinya kini justru memburuk," jelas dokter itu hati-hati, apalagi melihat sorot mata tajam dari pria yang berdiri di depannya — kakak si pasien.

"Sekarang penyakitnya sudah memasuki tahap serius. Kalau tidak segera ditangani, nyawanya bisa terancam."

Dengan tangan mengepal dan sorot mata setajam elang, Angga menatap lurus ke arah dokter itu.

"Dokter Brian, gue gak main-main. Kalau sampai dia kenapa-kenapa... lo habis sama gue," desisnya tajam, lalu membuka pintu dengan kasar.

Brak!

Pintu tertutup keras, meninggalkan keheningan sejenak di ruangan itu.

Sementara itu, Dokter Brian hanya menghela napas panjang sambil mengelus dadanya perlahan. Tak ada amarah di matanya—hanya pengertian yang dalam.

Dia sudah terbiasa.

Inilah risiko menjadi seorang dokter. Bertahun-tahun menjalani profesi ini, ia sudah sering menghadapi orang-orang seperti Angga.

"Dasar anak muda zaman sekarang, gak ada hormat-hormatnya sama yang lebih tua," gumam Dokter Brian pelan, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, bersiap memeriksa pasien berikutnya.

Di ruang periksa lain, suara ringan terdengar.

"Lo sakit apa sih?" tanya seseorang dengan nada khawatir.

"Mungkin gue cuma kecapean aja," jawab Manda sambil tersenyum kecil. "Gak usah terlalu khawatir gitu, gue gak akan mati, kok," tambahnya sambil terkekeh pelan, berusaha membuat suasana jadi lebih santai.

"Tapi kenapa lo tiba-tiba pingsan gitu? Apalagi sampe mimisan... Lo gak liat muka Kak Angga tadi?"

Manda mengernyit heran. "Emang kenapa sama Kak Angga?"

"Mukanya panik banget, Man. Serius deh. Sebenarnya hubungan kalian itu apa, sih? Khawatirnya tuh... kebangetan."

"Jelas lah Kak Angga khawatir. Dia udah anggap gue kayak adiknya sendiri," ucap Manda sambil menatap Sifa tajam. "Kenapa sih lo mikir yang aneh-aneh terus soal gue?"

Sifa mengangkat bahu, setengah bercanda tapi ada nada serius di balik ucapannya.
"Enggak juga sih... tapi iya."

Lalu ia menatap Manda dengan ekspresi setengah penasaran, setengah ragu. "Lo gak cemburu, Sis? Maksud gue, walaupun Kak Angga nganggep Manda kayak adik, tapi bukan adik kandungnya. Lo gak takut dia berpaling sama Manda? Soalnya, ya... lo pacarnya Kak Angga, kan?"

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang