"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?"
Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kupikir kamu datang untuk menetap, ternyata hanya sekadar mampir."
. . .
"Bagaimana keadaannya?"
"Setelah operasi tadi, Manda dinyatakan koma. Sampai saat ini, belum ada perubahan. Kita serahkan semuanya pada Yang di Atas. Kita juga harus banyak berdoa," jelasnya pelan.
"Kenapa kalian menyembunyikan tentang penyakit Manda?" tanyaku, menahan amarah dan air mata.
"Apa maksud kamu?"
Dia terkekeh kecil, lalu menatap tajam. "Gue tahu, Kak. Manda bukan cuma punya anemia, tapi juga kanker otak. Benar, kan, Kak Dirga?"
Dokter Dirga terdiam sejenak, sedikit terkejut mendengar ucapan adik sepupunya itu. Tapi secepat kilat, ia menutupinya dengan ekspresi datar dan dingin. "Semuanya ada alasannya."
"Apa alasannya? Kenapa kalian menyembunyikan semua ini dari kami?"
Dokter Dirga sebenarnya tak pernah berniat menyembunyikan semuanya. Tapi ini adalah permintaan dari kedua orang tua Manda... dan juga tantenya.
"Kapan adik gue sadar? Kapan dia sembuh?" .
Dokter Dirga menggeleng pelan. "Saya... nggak bisa janji apa-apa. Koma itu tidak bisa diprediksi. Semua tergantung pada tubuh Manda... dan tentu saja, kehendak Tuhan."
"Lo gak becus, Kak!" serunya, matanya memerah, menatap tajam. "Katanya lo dokter hebat. Katanya udah nyelametin banyak orang. Tapi pas Manda—adik lo sendiri—butuh bantuan lo, lo bahkan gak bisa berbuat apa-apa! Percuma aja lo punya gelar dokter!" lanjutnya, sambil mengepalkan kedua tangan, tubuhnya bergetar karena emosi.
Dokter Dirga terdiam. Rahangnya mengeras, ia menahan emosi sekuat tenaga.
"Saya ngerti kamu marah..." ucapnya pelan, menunduk. "Tapi saya udah ngelakuin semua yang saya bisa. Saya cuma manusia, bukan Tuhan. Ada hal-hal yang gak bisa disembuhkan cuma dengan ilmu."
Dokter Dirga mengepalkan tangannya di balik jas putihnya, menahan emosi yang hampir meledak. Ucapan Arion benar-benar menusuk, tapi dia tahu... itu semua karena rasa sayang dan takut.
Bagaimanapun, dia hanya seorang dokter. Ia telah melakukan yang terbaik, tapi selebihnya bukan kuasanya—semua kembali kepada Tuhan.
"Bukan cuma kamu yang ingin Manda sadar dan sembuh," ucap Dirga dengan suara serak namun tegas. "Saya juga... bahkan seluruh keluarga kita menginginkannya. Jadi tolong, tahan emosimu, Arion."
Tanpa menunggu respons, Dokter Dirga melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu—dan meninggalkan Arion yang terdiam, menahan marah, tapi juga mulai sadar... bahwa semua orang sedang sama-sama berjuang.