-rasanya aku ingin menghentikan waktu untuk sementara agar kita bisa terus menerus seperti ini, bahkan aku tidak rela tuk mengakhirinya-
•••
_Happy Reading_
Setelah mengenakan seragamnya, Manda menuruni tangga. Di ruang makan, kedua orang tuanya dan Raya sudah selesai sarapan tanpa menunggunya. Seolah-olah tidak ada tempat untuknya di keluarga ini.
Tak. Tak. Tak.
Langkahnya semakin mendekat ke pintu tanpa sepatah kata pun, bahkan tak sedikit pun ia menoleh ke arah mereka.
"Kemana sopan santunmu, Manda?" Suara papanya menghentikan langkahnya.
"Apa kamu tidak melihat kami di sini?" Tambah Mama, dengan nada yang sedikit tajam.
Manda spontan menoleh ke arah sang papa, tersenyum simpul meski hatinya terluka. Ia menanggapi ucapan mereka dengan nada yang datar namun penuh makna.
"Emang papa anggap aku ada di rumah ini?" jawab Manda, suaranya terasa seperti menahan amarah yang semakin memuncak.
"Semakin besar kamu, semakin kurang ajar ya. Siapa yang ngajarin kamu begitu, apa bunda kamu itu?"
"Papa gak berhak ngomongin bunda kayak gitu!" Manda hampir berteriak. "Emang papa pernah ajarin aku apa itu sopan santun? Papa selalu sibuk dengan keluarga baru papa itu, jadi aku mohon, please jangan jelekin bunda lagi!"
Setelah mengucapkan itu, air mata Manda tak bisa ia tahan lagi. Dengan langkah terburu-buru, ia berlari meninggalkan ruang makan, meninggalkan semua kata-kata pahit yang masih menggantung di udara.
ruang makan, Papa termenung, pikirannya berkelana jauh. Ucapan Manda masih bergema di telinganya, membuatnya merenung dalam. Entah masih dianggap anak atau tidak, ia merasa perasaannya campur aduk. Ia tidak pernah berniat sedikit pun untuk menghina mendiang istrinya, Elsie. Meskipun dia sangat mencintai Elsie, dia sadar bahwa selama ini ia telah salah. Ia telah membedakan antara Manda dan Raya, dan itu membuatnya semakin merasa bersalah.
Sementara itu, Raya dan mamanya hanya tersenyum miring, tak ada yang tahu pasti apa yang ada di pikiran mereka.
Manda berjalan menyusuri koridor yang masih sepi. Pikirannya masih berkecamuk, teringat kejadian pagi tadi yang masih membekas di hati. Ia tidak terima bundanya dihina, terlebih itu datang dari papanya sendiri. Air mata yang sempat ia tahan kini kembali mengalir.
Manda sedang tenggelam dalam lamunannya ketika tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan seseorang, siapa lagi kalau bukan Afrel.
"Kenapa, Hm? Dari tadi ngelamun terus," tanya Afrel sambil mengelus lembut rambut Manda, mencoba mengalihkan perhatian Manda dari pikirannya yang gelisah.
Manda tersenyum, meskipun senyuman itu terkesan dipaksakan. "Enggak kok, aku gak papa," jawabnya.
Afrel memandangnya dengan tatapan lembut, seakan bisa membaca apa yang sedang dirasakan Manda. Namun, ia memilih untuk tidak memaksa. "Ya udah, yuk kita ke kelas," ajaknya dengan lembut, menggandeng tangan Manda dan membimbingnya berjalan.
"Ih...lepas Rel, malu tau dilihat orang," Manda berusaha menarik tangannya dari genggaman Afrel.
"Gak papa, yang jalanin kan kita. Kita gak usah dengerin omongan orang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Teenfikce"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
