A
ssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!
Selamat pagi, dunia fiksi Qyu!
Jangan panggil aku author, panggil saja Maymay, ya!
Jangan lupa tinggalkan jejak petualang kalian: vote dan komen, ini perintah, guys!
Dan wajib follow Instagram @wp_ayy biar makin update.
Seperti biasa, Maymay punya pertanyaan buat kalian:
•• Kalian tau cerita ini dari mana?
••Kenapa kalian suka dengan cerita ini?
••Siapa tokoh favorit kalian?
Yuk, jawab di komen ya!
...
Manda melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 6.30 pagi. Ia duduk di depan meja riasnya, menatap mata yang memerah dan sedikit bengkak—mungkin akibat air mata semalaman.
Setelah merasa cukup, ia meraih tasnya dengan langkah yang tak bersemangat. Sebenarnya, malam tadi ia sudah berencana untuk tidak pergi ke sekolah. Tapi entah kenapa, sesuatu mendorongnya bangun pagi dan mengubah niat itu.
Di garasi, ia mengeluarkan mobil dan menyalakannya, lalu mulai mengemudi keluar rumah.
Sepanjang perjalanan, hening menyelimuti. Namun pikirannya tak bisa berhenti berkelana, kembali pada kabar mengejutkan tentang pertunangan Afrel dan Raya yang akan segera terjadi.
"Gue ngerti kenapa Raya sering ngomong gitu ke gue. Dia pasti udah tahu kalau dia bakal tunangan sama Afrel. Tapi gue masih nggak percaya Afrel bakal setuju secepat ini," lirih Manda, sedih sekaligus bingung dengan sikap Afrel.
Dia belum sepenuhnya ikhlas melepas Afrel, apalagi Afrel yang dulu menyembuhkan luka di hatinya setelah Varo. Tapi sekarang, justru Afrel yang kembali menggores luka yang hampir sembuh itu.
Tanpa terasa, dia sudah sampai di parkiran sekolah. Dengan langkah tergesa, ia turun dari mobil dan berjalan menyusuri koridor seorang diri.
"Kalian tau gak? Afrel dan Manda udah putus!" seru salah satu siswi dengan suara cukup keras di lorong sekolah.
"Hmm, sayang banget ya…" sahut yang lain dengan nada menyayangkan.
"Bagus deh mereka putus. Biar Afrel bisa sama gue," ucap seorang cewek dengan nada percaya diri.
"Ngaca dulu deh. Emang Afrel bakal suka sama lo? Kayak pantat panci gosong!" balas temannya sambil cekikikan.
"Eh enak aja lo! Cantik-cantik gini dibilang pantat panci. Katarak lo tuh!" cewek itu melotot kesal.
"Kok bisa sih mereka putus? Padahal gue tuh pendukung setia kapal Kak Afrel dan Kak Manda," timpal seorang adik kelas dengan wajah kecewa.
Manda menulikan telinganya, mencoba tidak peduli pada omongan-omongan murahan yang beterbangan di udara. Ia sudah menduganya. Kabar putusnya dengan Afrell pasti sudah menyebar ke seluruh siswa. Apalagi kalau bukan ulah akun gosip sekolah, si Lambe Turah versi elite, yang tak pernah absen membongkar aib siapa pun.
Langkahnya cepat dan terburu-buru, namun tiba-tiba—
Bruk!
Tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Ia langsung menunduk dan melangkah tanpa menoleh, tak ingin ada drama lain hari ini.
"Maaf," ucapnya pelan, hendak bergegas pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Novela Juvenil"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
