40

59 2 0
                                        

"Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita selalu bisa memulai hari ini untuk menulis masa depan yang lebih baik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita selalu bisa memulai hari ini untuk menulis masa depan yang lebih baik."

---

"Tidak ada yang namanya kesalahan, hanya peluang yang belum kita pahami

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Tidak ada yang namanya kesalahan, hanya peluang yang belum kita pahami."

~Manda aurelia~

---

"

Dari mana?" tanya Raya sambil menatap Manda dengan tajam, seolah ingin mengulitinya.

"Biasa," jawab Manda santai, menatap balik ke arah kursi tempat Raya duduk.

"Kenapa lo?" sahut Raya, masih dengan tatapan penuh curiga.

"Gak apa-apa," jawab Manda, tetap santai sambil menyunggingkan senyum kecil di bibirnya.

Sifa dan Siska saling bertukar pandang, heran melihat kelakuan Manda yang tampak aneh, terutama matanya yang terus menatap ke arah meja Raya.

Sementara itu, di meja sebelah, seseorang mengepalkan tangannya dengan kuat. Matanya memerah, menandakan amarah yang sulit dikendalikan. Teman sebangkunya pun menepuk pundaknya, berusaha menenangkannya.

"Sabar, oke!"

Brak...

Suara pintu yang dibuka dengan kasar menimbulkan bunyi nyaring, membuat semua orang di dalam kelas menatapnya dengan heran dan penasaran. Kelas yang awalnya ramai seketika hening, tak seorang pun berani membuka suara.

Rahangnya mengeras, tangan mengepal kuat, dan tatapan matanya begitu tajam. Tak ada yang berani menatapnya, apalagi mendekatinya — kecuali kedua sahabatnya, yang hanya bisa menatapnya dengan penuh keheranan.

"Kenapa lo?"

Namun, Afrell tidak menghiraukannya. Dia langsung memukul meja tanpa alasan jelas, membuat tangannya memerah.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang