47

57 2 0
                                        

"Kalau bukan kamu yang menyemangati dirimu sendiri, lalu siapa lagi yang kamu harapkan?"

. . . .

---

Kadang, satu-satunya orang yang bisa kamu andalkan...
adalah dirimu sendiri.

.
.
.



"

Sayang, akhirnya kamu pulang. Dari mana saja? Mama sama Papa khawatir. "

Raya hanya terkekeh pelan, tapi nadanya getir. Tatapannya tajam menembus keduanya, seolah menyimpan ribuan luka yang belum sempat disembuhkan.

"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Mama panik melihat Raya melangkah pergi. "Dengerin dulu penjelasan Mama dan Papa, Nak... Tolong."

Raya menghentikan langkahnya saat hendak menaiki tangga. Ia berbalik perlahan, menatap kedua orang tuanya dengan mata kecewa, menunggu penjelasan dari mereka.

"Sayang, Mama nggak pernah berniat bohongin kamu…" suara Mama mulai bergetar. "Mas, tolong jelaskan semuanya ke putri kita…"

"Raya, dengarkan dulu penjelasan Mama dan Papa, ya, Sayang. Tolong beri kami kesempatan…"

"Aku kecewa sama kalian...Aku gak nyangka, kalian tega ngelakuin semua itu. Karena kesalahan kalian, aku jadi orang yang penuh dendam. Aku menyakiti orang yang bahkan gak tahu apa-apa soal ini."

Raya mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan gejolak emosinya. Dia tidak ingin meledak di hadapan kedua orang tuanya, meskipun dia marah dan kecewa.

"Kamu salah paham, Raya... Tolong, dengarkan dulu penjelasan Mama," ucap Sinta dengan suara lirih sebelum tubuhnya lunglai, jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya tak mampu lagi menopang beban rasa bersalah yang selama ini disembunyikan.

Raya tak menggubris ucapan kedua orang tuanya. Ia langsung berjalan cepat menuju kamarnya, menutup pintu dengan keras. Beberapa menit kemudian, suara roda koper menggema di tangga.

Raya turun dengan tatapan datar, membawa satu koper kecil di tangannya. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi sorot matanya begitu dingin dan kecewa.

"Raya, kamu mau ke mana, sayang? Jangan tinggalin Mama," lirih Sinta dengan suara panik. Ia buru-buru mendekat dan menarik tangan putrinya.

Langkah Raya terhenti.

"Lepas!" desisnya tajam.

Sinta menggeleng kuat, matanya berkaca-kaca. "Gak mau, sayang... Mama gak mau kamu pergi, jangan tinggalin Mama..."

Raya menunduk sejenak, lalu menatap Mamanya dengan sorot yang tajam. "Kalau Mama gak mau aku pergi... seharusnya Mama gak pernah ngebohongin aku."

"Maafin Mama.... Maaf, mama minta maaf."

"Gue bilang lepas, Ma!" kini nada bicaranya Raya berubah, awalnya menggunakan aku kini berganti menjadi gue.

Sinta terisak, namun tetap menggenggam erat tangan putrinya. "Gak... gak mau. Jangan tinggalin Mama. Mama mohon... Mama bakal lakuin apapun, asal kamu jangan pergi dari rumah ini."

"Apapun?"

Sinta mengangguk cepat, air matanya jatuh satu per satu. "Iya... apapun, sayang. Mama janji. Asal kamu gak pergi..."

"Oke, batalkan pertunangan gue dengan Afrell."
Tak ada sedikit pun keraguan dalam suara Raya saat ia mengucapkan kalimat itu.

Saat Sinta hendak menyela, Raya langsung menambahkan dengan tegas, "Atau malam ini gue akan pergi, dan gak akan pernah kembali. Gue gak main-main, Ma."

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang