“Terkadang, kebahagiaan yang kita impikan tak seindah kenyataan yang harus kita hadapi. Maka, siapkan hatimu terlebih dahulu sebelum menginginkannya. Karena tidak semua akhir yang kamu harapkan akan berujung senyum.”
— Manda Aurellia
Happy Ending?
Atau hanya versi tenang dari luka yang sudah diterima?
....
Manda dan Varo sedang duduk di dalam mobil. Mereka memang sengaja pergi bersama, menggunakan mobil milik Varo. Sementara itu, Sifa dan Siska berada dalam satu mobil bersama Angga dan Adit. Begitu pula dengan yang lainnya—masing-masing membawa kendaraan sendiri.
Saat ini, Manda dan Varo tengah tenggelam dalam obrolan. Lebih tepatnya, hanya Varo yang aktif berbicara, sementara Manda hanya mendengarkan dan sesekali menanggapi.
"Man, lo masih ingat nggak waktu kita sering ke pantai bareng dulu?" tanya Varo sambil menoleh ke arah Manda.
Manda menatapnya balik dan mengangguk pelan. "Gue nggak pernah lupa. Semuanya masih terekam jelas di kepala, apalagi kita sering ke sana bareng Bunda dan Papa."
"Apa gue boleh nanya sesuatu?" tanya Varo hati-hati.
"Hm," jawab Manda singkat, tanpa menoleh.
"Kalau boleh tahu… Bunda meninggal karena apa?"
Manda terdiam. Pertanyaan itu menghantam memorinya seperti gelombang besar. Ia terkejut, bukan karena tidak siap, tapi karena topik itu terlalu sensitif untuk dibicarakan.
Melihat perubahan ekspresi Manda, Varo langsung merasa bersalah. Ia pun menepikan mobil dan menghentikannya sejenak.
"Maaf… kalau pertanyaan gue bikin lo keinget lagi sama Bunda. Kalau lo nggak mau jawab, nggak apa-apa," ucap Varo pelan sambil menyentuh tangan Manda dengan tangan kirinya, mobilnya menepi.
Manda menarik napas dalam, lalu menoleh perlahan. "Bun—Bunda meninggal karena kecelakaan," katanya lirih.
"Ke… kecelakaan?' ucap Varo terkejut. Ia benar-benar tak menyangka. Selama ini, ia mengira Bunda meninggal karena sakit, bukan karena hal tragis seperti itu.
Manda mengangguk pelan. "Iya, Bun—Bunda…"
"Maaf, Man. Gue nggak akan bahas soal Bunda lagi," potong Varo cepat. Ia segera meraih Manda dan memeluknya erat.
Tanpa berkata apa pun, Manda membalas pelukannya. Di dalam dekapan Varo, ia membiarkan air matanya jatuh, menumpahkan semua rasa sedih yang selama ini ia pendam.
"Maaf…" bisik Varo lirih, penuh penyesalan.
Setelah beberapa saat, ketika tangisnya mulai reda dan hatinya sedikit lebih tenang, Manda melepaskan pelukan itu perlahan.
"Varo… ayo lanjut. Kita nggak boleh terlalu lama di sini," ucapnya dengan suara serak.
Varo mengangguk dan kembali menyalakan mobil, melanjutkan perjalanan mereka dalam diam.
Manda memejamkan mata perlahan, tubuhnya bersandar di kursi. Rasa lelah dan emosi yang menguras akhirnya membawanya tertidur. Varo sempat melirik ke arahnya dan mendapati Manda telah terlelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Teen Fiction"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
