11

155 70 4
                                        

-Kita sama sama ditakdirkan untuk terluka tapi kita di tuntut untuk saling mengobati-

****

"Non Manda, bangun," ucap bik Murni membangunkan Manda.

"Iya, Bik...." gumam Manda sambil menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.

"Non Manfa emang gak sekolah? Ini udah jam setengah tujuh. Nanti telat, Non."

"HAH, APA? KOK BIBIK GAK BANGUNIN AKU SIH," teriak Manda, lalu berlari ke kamar mandi.

Bik Murni yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala. Padahal sedari tadi ia sudah berusaha membangunkannya, tapi hasilnya nihil.

Tak butuh waktu lama, Manda keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah yang sudah rapi melekat di tubuhnya.

"ENGGAK SARAPAN DULU NON?" teriak Bik Murni saat Manda berjalan menuju rak sepatu di dekat pintu.

"Tapi, Non..." ucap Bik murni, tapi kalimatnya langsung terpotong oleh sahutan Manda.

"BIK MANDA GAK ADA WAKTU! " serunya sambil mengenakan sepatunya secara asal-asalan.

Baru saja tangan Manda hendak menyentuh gagang pintu,  terdengar suara deheman yang sangat familiar di telinganya.

"Hm," suara itu cukup keras dan sengaja dibuat terdengar jelas.

Manda refleks memutar badannya, mencari sumber suara di belakangnya. Di sana, Afrel terlihat duduk santai di meja makan, menatapnya dengan tenang.

"Eh .... A-afrel sejak kapan kamu ada disini? Hehe..." ucapnya cengengesan, jelas terlihat kaget dan gugup.

"Dari tadi. Ditungguin malah hampir ninggalin," sindirnya.

"Bukan gitu… aku beneran nggak lihat kamu. Bibik sih, nggak bilang sama aku," ujar Manda sambil cemberut ke arah Bik Murni.

"Lah, gimana Bibik mau ngomong? Kamu aja tadi main potong omongan Bibik," jelas Bik Murni sambil mengangkat alis.

Manda yang mendengarnya hanya bisa cengengesan, merasa bersalah.

"Ya udah, yuk berangkat!" serunya mencoba mengalihkan.

Afrel menatapnya sebentar, lalu bertanya dengan nada menggoda, "Yakin kamu mau berangkat kayak gitu?"

"Emang kenapa? Nggak ada yang salah, kok! Rapi udah, cantik juga—paket banget. Apalagi yang kurang?" jawab Manda dengan penuh percaya diri.

"Emang kamu nggak malu pakai sepatu sebelahan gitu?" sahut Afrel sambil menunjuk ke bawah.

Manda buru-buru melihat ke arah kakinya. Matanya langsung membulat saat menyadari sepatu yang ia pakai warnanya berbeda.

"Aaa… KOK BISA GINI SIH? BUNDA, ANAKMU MALU!"teriaknya dramatis.

Yang mendengar teriakan Manda langsung refleks menutup telinga. Rasanya gendang telinga mereka nyaris pecah karena volume suaranya.

"Udah, nggak usah teriak-teriak. Ganti dulu sepatunya, baru kita berangkat," ucap Afrel sambil menggeleng pelan.

Manda langsung menurut dengan patuh. Ia kembali ke dalam rumah dan mencari pasangan sepatu yang benar.

"Udah?" tanya Afrel ketika Manda kembali muncul di depan pintu.

"Udah. Yuk, berangkat! Tinggal lima belas menit lagi masuk," jawab Manda sambil melirik jam tangan di pergelangannya.

Mereka baru saja hendak menaiki mobil, namun langkah mereka terhenti ketika terdengar suara yang memanggil dari arah dalam rumah.

"Afrel… gue berangkat bareng sama lo ya," ucap seorang perempuan yang ternyata adalah Raya.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang