Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian bersih, Manda merebahkan tubuhnya di kasur yang dipenuhi aroma lavender. Hening. Tapi kali ini, keheningan itu tak membuatnya sesak.
Ia mengambil ponselnya yang sebelumnya mati total. Setelah diisi daya sebentar, layar menyala. Notifikasi pesan masuk memenuhi layar.
Puluhan chat masuk dari grup sekolah, tapi tiga nama langsung menarik perhatiannya, Afrel, Sifa dan Siska.
Afrel
Sayang, kamu di mana?
Please balas, aku khawatir banget.
Sayang jangan bikin aku khawatir, maaf tadi aku lupa bawa ponsel.
Sayang..
Siska
Man, lo dimana?
Kita tadi ke rumah lo, tapi kata bokap sama nyokap lo pergi?
Kenapa nggk ngabarin kita.
Sifa
Man, balas chat gue.
Angkat! Man....
Kita nyariin lo, tapi lo nggak ada.
Di pantai, lo dimana sebenarnya?
Manda menggigit bibirnya. Ada rasa hangat yang perlahan menjalar di dadanya. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengetik balasan.
Manda
Gue baik-baik aja. Maaf udah bikin kalian khawatir. Gue tadi lagi butuh waktu sendiri, maaf nggak bilang sama kalian.
Ia menekan kirim, lalu meletakkan ponselnya di sisi bantal.
Ia mengambil buku diary nya dan menulis sesuatu.
Berdiri aku dengan mulut membisu menghadapi lautan luas seperti tiada ujung. Angin-angin yang menghembus, disitu aku membayangkan apa kabar seseorang yang dulu ada dalam hidupku dan menghilang.
Bytiran air dari kelopak mata ini menetes perlahan membayangkan perjuangan yang tak ada hentinya untuk membanggakan orang orang yang aku cintai,terus semangat cari pelajaran diantara semua perpisahan.....
*200822mandaaurellia*
••••
Manda tiba di sekolahnya, seperti biasa suasana pagi ini sangat sepi karena jam masih menunjukkan pukul 06.15 wib.
Ia lebih suka datang ke sekolah Lebih awal
Karena baginya rumah saat ini hanya akan menambah luka baginya.
Bahkan semalam ketika pulang Ke rumah bukannya khawatir dengan keadaan nya tapi ia malah di bentak habis habisan oleh papa dan mamanya.
"MASIH INGAT JALAN PULANG," ucap seseorang mengagetkan Manda yang baru saja masuk.
"Pa-papa," ucapnya terbata, kakinya sedikit gemetaran.
"KAMU GAK LIHAT JAM SEKARANG, APA BAIK ANAK GADIS PULANG JAM SEGINI," teriak papanya di depan muka Manda.
"Tapi pa tadi Manda habis di......." ucapan nya terpotong oleh ucapan Raya, kakaknya.
"Alah alasan itu pa, pasti dia habis pergi sama om om pa," ucap raya sengaja memojokkan Manda.
"Benar itu Manda?" tanya papanya sekali lagi.
"Gak pa, Manda tadi habis di culik beruntung Manda bisa kabur," Manda mencoba menjelaskan kepada papanya.
"Gak usah percaya pa, siapa juga yang mau nyulik dia," tambah Raya memperkeruh suasana.
"Enggak kak, aku beneran di culik. Pa percaya sama Manda!" ucap Manda menyakinkan.
"KALI INI PAPA PERCAYA, AWAS KALAU SAMPAI DI ULANGI. YA UDAH KAMU SEKARANG KE KAMAR," titah papanya.
Lamunan Manda terhenti ketika ia mendengar bunyi notifikasi yang berasal dari handphone-nya.
Manda memandangi ponselnya, melihat ada begitu banyak notifikasi chat WhatsApp yang masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Teen Fiction"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
