Setelah kedua sahabatnya pulang, ia kembali merebahkan tubuh di atas kasur empuk kesayangannya—tempat terfavoritnya untuk melepas penat.
Namun, matanya tanpa sengaja menangkap selembar kertas yang terselip di bawah seprai kasur.
Dengan perlahan dan rasa penasaran, ia menarik kertas itu dan mulai membacanya.
> Manda tersayang,
Maaf karena membiarkanmu menghadapi dunia ini sendirian. Maaf karena aku tak bisa berada di sampingmu.
Tapi tetaplah bertahan, sayang, seperti yang selalu kamu lakukan. Jangan sekalipun berpikir untuk menyerah.
Aku percaya kamu kuat menghadapi semua rintangan ini.
Maaf, untuk saat ini kita belum bisa bertemu karena ada sesuatu yang harus kuselesaikan terlebih dahulu.
Aku berharap kamu tetap kuat, sampai tiba waktunya kita bisa bertemu kembali seperti dulu.
Yakinlah, semua yang kamu impikan selama ini akan menjadi kenyataan.
I love you so much
— Bumen
Manda melipat kembali surat itu dengan raut wajah penuh kebingungan.
Apa maksud dari isi surat ini? Dan… siapa itu Bumen?
Tanpa berpikir terlalu jauh, ia menyelipkan surat itu ke dalam laci mejanya.
Mungkin akan berguna suatu saat nanti, pikirnya.
"Siapa sih ini? Bikin penasaran aja," gumam Manda sambil duduk di kursi belajar.
Ia kemudian meraih ponselnya—sebuah iPhone dengan casing transparan—dan membuka sebuah aplikasi berwarna hijau di layar.
Grup Chat – Beban Keluarga
(Me, Sifa, Siska)
Me:
P
Sifa:
Ada apa, beb?
Siska:
2 in
Me:
Gue dapet surat misterius!
Siska:
Hah, serius? Apa isinya?
Me:
Isinya tuh gak jelas banget, panjang pokoknya. Tapi intinya dia bilang apa yang gue impikan selama ini bakal jadi kenyataan, gitu.
Sifa:
Aneh sih. Terus, gak ada nama pengirimnya?
Me:
Ada, namanya Bumen.
Tapi gue gak tau siapa dia...
Siska:
Hati-hati aja. Gimana kalau dia berniat jahat? Kan kita gak tau.
Sifa:
Hooh, sekarang lo lebih hati-hati lagi ya.
Me:
Siappp bestiee!
Sifa:
Eh bentar ya guys, gue kebelet ngising! 😖
Karena merasa haus, Manda terpaksa keluar kamar dan menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Wih, ada acara apa, Bik? Kok tumben masaknya banyak?" tanyanya sambil menelan ludah saat melihat aneka hidangan yang tertata rapi di atas meja makan.
"Oh itu, Non," jawab Bik Murni sambil terus mengaduk sup di panci, "Katanya malam ini bakal ada tamu Nyonya sama Tuan."
"Oh, oke Bik," sahut Manda singkat, lalu berjalan ke dispenser yang berada di samping kulkas. Ia menuangkan air ke gelas dan meneguknya perlahan untuk menghilangkan haus di tenggorokannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Genç Kurgu"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
