45

65 3 0
                                        

"Lo kaya Lo aman, gak juga sih!"




[ Happy reading]


Hari ini, langit kelabu dan hujan turun deras membasahi jalanan. Di balik tirai air hujan, Manda duduk termenung di balkon kamar.

Kini dia masih di apartemen Angga. Kedua sahabatnya sudah pamit pulang sebentar untuk mengganti pakaian, sementara dia sendiri belum siap pulang. Sebenarnya, dia tak pernah benar-benar siap. Namun, dia tak mau merepotkan siapa pun hanya untuk punya tempat berteduh.

Tiba-tiba, Manda merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Ia menghapus air matanya tanpa menoleh, tetap menatap ke depan seolah tak peduli.

"Perjalanan hidup itu seperti mengarungi lautan yang luas. Kadang kita harus hadapi badai dan gelombang yang mengguncang, tapi kita harus tetap berani melangkah maju. Kalau lo nggak siap menghadapi semuanya, ya... mati solusinya. Itu kata-kata seseorang yang terus terngiang di kepala gue," ucapnya pelan.

"Gue gak suka lihat orang yang gue sayang sedih. Lo tau itu, kan?" tambahnya pelan.

Akhirnya, Manda menoleh ke samping, menampilkan wajah datar—sosok yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Orang yang selalu memberi nasihat saat dia down, dan pertama kali membuat Manda merasa dilindungi oleh seorang kakak.

"Kakak kurang tidur, ya? Liat deh, mata Kak Angga kayak panda!" celetuknya sambil tersenyum tipis.

Angga menoleh, memperhatikan wajah Manda yang biasanya ceria, kini berubah tak bersemangat.
"Lo boleh nangis, tapi jangan menyerah. Gue nggak kuat lihat lo sedih terus-terusan, soalnya gue ngerasa gagal jadi kakak yang harus jagain adiknya."

Manda tersenyum tipis, lesung pipitnya terlihat jelas, membuatnya makin manis.

"Kakak gak pernah gagal. Aku senang Kak Angga selalu ada buat aku. Kakak yang selalu dukung aku, orang pertama yang hibur aku waktu bunda pergi, dan juga satu-satunya yang selalu ada saat keluarga aku sendiri nggak pernah mengharapkan kehadiranku. Itu aja udah lebih dari cukup, Kak."


"Lo cantik, Man. Persis kayak bunda."

"Bunda lebih cantik dari aku," jawab Manda sambil menyenderkan kepala ke pundak Angga.

Manda merasakan usapan lembut di kepalanya, lalu mendongak dan tersenyum. "Gue yakin Siska bakal cemburu liat aku manja kayak gini," ucapnya sambil tertawa kecil.

"Dia nggak mungkin cemburu," Angga berkata sambil mengecup telapak tangan Manda dengan lembut.

"Gimana hubungan Kakak sama Siska?"

"Baik," jawab Angga sambil tangan yang tadi mengelus rambut Manda beralih mengusap pipi mulusnya dengan lembut.

"Kalo lo gimana? Masih mau sama Afrell, atau mau balikan sama Varo?"


"Gue gak mungkin sama Varo, soalnya Varo udah gue anggap kayak kakak sendiri, sama kayak Kak Angga. Tapi soal Afrell, gue nggak tahu," ucapnya sambil menggeleng lemah.

"Lo cinta sama Afrell?"

Manda menggenggam tangan Angga yang mengusap pipinya, lalu meletakkannya di atas pahanya.
"Masih. Bahkan, aku sangat mencintai Afrell, tapi dia sudah tunangan sama Raya."

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang