21

110 36 10
                                        



"Kupikir kau adalah rumah, ternyata kau hanya tempat singgah."

– Manda Aurellia

🍁🍁🍁

"LET'S GO KANTIN!" teriak Sifa penuh semangat.

Sontak seisi kelas menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal.

"Bisa gak sih, gak usah teriak-teriak?" gerutu Wawan sambil menutup telinganya.

"Iya nih, kuping gue bisa budek," timpal Dani.

"Serius, sampai berdengung ini kuping," tambah siswa lain.

"Apa lo hah? Mulut-mulut gue ini, terserah gue dong!" balas Sifa sengit, tak mau kalah.

"Ini kelas, bukan hutan!" sahut Dea dengan nada tajam.

Sifa mendelik ke arah Dea, lalu berkata, "Terserah gue lah."

"Dih," jawab Dea singkat, menatapnya tajam.

"Kenapa, lo gak suka?" sahut Sifa dengan nada sinis.

"Udah deh, gak usah ribut. Apa aja lah kata Kanjeng Ratu Sifa yang paling cantik ini," celetuk Ilham mencoba meredakan suasana.

"Naah, ini nih baru temen gue!" Sifa mengacungkan dua jempol ke arah Ilham dengan senyum puas.

"Udah yuk, ke kantin," ucap Siska yang mulai jengah mendengar perdebatan yang menurutnya gak penting.

"Ya udah, yuk. Bye-bye Ilham!" ucap Sifa sambil melambaikan tangan ke arah Ilham dan melangkah keluar kelas, meninggalkan sahabat-sahabatnya yang masih terbengong.

"Aish, anak itu," gumam Siska sambil menggelengkan kepala, menatap kepergian Sifa.

"Udah yuk, kita nyusul aja. Pasti bentar lagi dia bakal teriak," sahut Manda sambil tersenyum kecil.

"MANDA! SISKA! AYOK, LAMA AMAT SIH!"
Teriakan khas Sifa terdengar dari ujung lorong.

"Bener kan tebakan gue," ucap Manda sambil terkekeh.

"Baru juga diomongin," timpal Siska, ikut tertawa.

Mereka berdua akhirnya keluar kelas, menyusul Sifa yang sudah melangkah jauh di depan mereka.


Di tengah perjalanan menuju kantin, langkah Manda terasa berat. Suara-suara sumbang mulai terdengar dari berbagai arah. Meski ia berusaha tak peduli, tapi setiap kata menyayat hatinya.

"Eh, guys... itu tuh yang katanya semalam ke hotel."

"Heeh, beneran dia. Gak nyangka deh."

"Cantik sih, tapi kalau murahan... iuw banget."

"Gue pikir Kak Manda tuh kalem, ternyata..."

"Kasihan Kak Afrell, udah ganteng masih aja disakitin."

"Iya, padahal gue tuh tim Manda-Afrell banget loh."

"Parah sih... rusak semua image-nya."

Manda menggigit bibir bawahnya, menahan semua emosi yang ingin meledak. Ia tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja, rasanya sakit.

"Udah, gak usah didengerin," ucap Sifa sambil berdiri di samping Manda, menatap sekeliling dengan tatapan tak suka.

"It's okay... omongan mereka bukan apa-apa. Tapi yang gue takutkan... gimana kalau Afrell lebih percaya foto itu daripada percaya sama gue," lirih Manda.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang