64

41 1 0
                                        


Manda berjalan perlahan mendekati Kak Angga yang tengah sibuk dengan ponselnya, jemarinya lincah menari di atas layar. Ia berniat mengejutkannya, tangannya sudah terangkat sedikit di udara.

Tanpa menoleh, Kak Angga berkata,
"Mau ikut main game juga?"

Manda terkejut. Ia langsung menurunkan tangannya.
"Ih, kok Kak Angga tahu sih? Padahal Manda mau ngagetin," ucapnya kesal tapi gemas.

Akhirnya, Kak Angga menoleh dan menatap Manda sambil tersenyum hangat.
"Gue bisa ngenalin aroma tubuh lo, Mand. Wangi sabun lo khas banget."

Manda nyengir malu, lalu duduk di samping Kak Angga.
"Main apa sih, Kak?"

"Mobile Legends. Kenapa?"

Manda tersenyum antusias.
"Mabar yuk!"

Mereka berdua pun mulai bermain Mobile Legends bersama.

Namun tiba-tiba...

"Wah, ada apa nih?" suara Arion terdengar dari belakang, mengejutkan mereka berdua.

Dengan cepat dan jahil, Arion merebut handphone dari tangan Manda. "Eh! Arion!" teriak Manda panik. "Apaan sih, handphone gue! Nanti gue kalah!"

Bukannya mengembalikan, Arion justru menaruh handphone itu di atas lemari-terlalu tinggi untuk dijangkau Manda.

"Arion, sumpah ya!" Manda melonjak, berusaha meraih ponselnya, tapi usahanya sia-sia.

Matanya mulai memerah. Dengan penuh amarah, dia menghampiri Arion dan memukul tangannya dengan sekuat tenaga. "Sakit tau!" ucap Arion sambil mengelus tangannya yang terkena pukulan.

Tapi Manda tidak peduli. Dia kembali duduk di samping Kak Angga, matanya mulai basah. "Hiks... hiks...." isaknya pecah, bahunya berguncang pelan.

Arion langsung terdiam melihat Manda menangis. Ia menoleh ke arah Angga yang kini menatapnya tajam, penuh peringatan.

Tanpa pikir panjang, Arion mengambil kembali handphone Manda dan duduk di sampingnya.
"Mand, lo oke nggak? Gue cuma becanda tadi..." ucapnya pelan, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Tapi Manda mendorong tangannya pelan saat Arion coba menyentuh kepalanya.
"Jauh-jauh deh dari gue."

"Manda-"

"NYEBELIN. GUE NGAMBEK." suara Manda sedikit meninggi, tapi matanya masih berkaca-kaca.

Arion langsung diam. Melihat isyarat kecil dari Angga yang menggeleng halus, dia memilih untuk tidak lanjut bicara.

"Oke..." jawabnya pelan, nyaris seperti bisikan.

Angga menoleh ke Manda dan membelai punggungnya dengan lembut.
"Kenapa, hmm?

Manda mengangkat wajahnya sebentar sebelum akhirnya memeluk Angga erat. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher kakaknya, tangisnya kembali pecah.

"Hiks... hiks..."

Angga mengusap punggung adiknya dengan lembut.
"Jangan ditahan nangisnya, nanti malah sesak. Ada apa? Cerita sama Kakak, ya."

Manda menatap mata kakaknya. Ada keraguan, tapi juga keinginan untuk bercerita. Melihat Angga mengangguk pelan seolah berkata 'nggak apa-apa, cerita aja', Manda pun mulai bicara.

"Kak, tadi-"

Dengan suara pelan dan sesekali terisak, Manda menceritakan semuanya. Tentang pertemuan antara bundanya dan papa, tentang pelukan terakhir mereka, dan tentang bagaimana Raya tetap ingin jadi kakaknya walaupun keadaan udah berubah.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang