"Tak ada tempat seindah rumah, tempat di mana cinta dan damai bernaung dalam hangatnya keluarga." 🏡💕
•° Manda Aurelia °•
Bahagia itu sederhana.
Namun, terkadang... kita tak bisa merasakannya.
Padahal, hal-hal kecil pun bisa menjadi sumber kebahagiaan.
Kapan aku bisa merasakan kebahagiaan?
Kapan aku bisa seperti dia?
Kenapa aku tidak bisa bahagia seperti dia?
Apakah ada yang salah denganku?
Ya, yang salah... mungkin adalah dirimu sendiri — terlalu sering menyiksa diri dengan perbandingan yang tak adil.
Banyak orang mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Mereka memandangi hidup orang lain yang tampak bahagia dan merasa iri.
Padahal, apa yang tampak belum tentu nyata.
Cobalah untuk tidak membandingkan dirimu dengan orang lain. etiap orang punya ukuran kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan bukanlah ajang perlombaan.
Jadi, berhentilah terlalu keras pada dirimu sendiri.
"Hati yang tenang adalah kunci kebahagiaan."
•~(๑˙❥˙๑)~•
"Manda, kamu yakin di sini?"
Manda mengangguk cepat.
"Iya, Bun. Manda sama Kak Raya udah janjian ketemu di sini. Mungkin sebentar lagi mereka datang. Bunda deg-degan?"
Elsie menatap Manda, lalu mengangguk pelan.
"Sedikit," jawabnya lirih.
"Bunda tenang aja. Ada Manda, Kak Angga, dan yang lainnya. Setelah ini, kita bisa hidup normal lagi," ucap Manda, mencoba menyemangati bundanya.
Tiba-tiba...
"Elsie."
Suara itu.
Seseorang yang sangat ia kenali.
Elsie spontan menoleh ke belakang.
Badannya menegang kaku.
Padahal, ia sudah menyiapkan mental sebaik mungkin.
Namun tetap saja, bayangan masa lalu membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Trauma itu masih ada—melihat sosok mantan suaminya kembali berdiri di hadapannya.
"David..."
David hanya menatap. Sorot matanya gelisah.
"Raya, ini maksudnya apa?" tanyanya, bingung dan nyaris panik.
Raya, menuntun sang Papa untuk duduk di kursi yang telah mereka siapkan. Tepat di hadapan Elsie.
"Selesaikan masa lalu Papa," ucap Raya pelan, lalu berbalik pergi, diikuti oleh Manda. Mereka memilih mengamati dari kejauhan, memberi ruang bagi dua orang yang pernah saling mencinta—dan saling melukai.
David duduk kaku. Tangannya gemetar.
Tanpa disadari, air mata jatuh membasahi pipinya.
Ia tak pernah membayangkan akan melihat Elsie lagi.
Bukan karena ia berharap Elsie telah tiada, tapi...
Bukankah kabar itu jelas mengatakan bahwa Elsie sudah meninggal? Kecelakaan itu... berita itu... semuanya menyebutkan hal yang sama.
Tapi kini, perempuan yang pernah ia cintai, sekaligus ia hancurkan, duduk di hadapannya. Hidup. Bernapas. Menatapnya dengan luka yang masih tertinggal di matanya.
"E-Elsie... aku bahagia k-kamu masih hidup," ujar David terbata, suaranya gemetar.
Elsie tersenyum miris. Tatapannya tajam, namun matanya menyimpan luka yang belum sembuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Подростковая литература"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
