49

53 1 0
                                        

"Kamu se-berharga itu bagi aku."

.

.
.
.

"Jelasin!" desak Bayu penuh penasaran.

Afrell hanya memutar matanya malas. Sedari tadi sahabatnya itu terus mendesak, padahal menurut Afrell semuanya sudah jelas tanpa perlu dijelaskan lagi.

"Ayo lah, jelasin dong!" Bayu menggoyang-goyangkan tangan Afrell, frustrasi karena ucapannya tidak kunjung direspons. Emang dia pikir dia ngomong sama patung apa.

"Kepo," sahut Afrell singkat, tak mau meladeni tingkah Bayu.

Tiba-tiba, Bayu memanggil. "Ehh, Manda sini!"

Manda dan kedua sahabatnya yang sedang mencari meja berjalan mendekat dan menghampiri meja tempat mereka duduk. Bayu tersenyum ceria sambil menepuk kursi di sampingnya, memberi isyarat kepada Siska.

"Sini, duduk di samping gue!" ajaknya.

Belum sempat Siska menjawab, Angga sudah menarik tangannya dan mengajaknya duduk di sebelahnya.

Afrell juga menarik tangan Manda, yang diterima dengan senyum kecil dari sang empedu. Berbeda jauh dengan Sifa, yang hanya termenung menatap kedua sahabatnya itu. Ayolah, apa hidupnya harus terus menyaksikan kebucinan mereka? Dia juga pengen, please!

"Kenapa lo?" Sifa tersadar dari lamunannya dan langsung duduk sendiri tanpa perlu ditarik. Bayu tersenyum jahil melihat muka masam Sifa, dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Lo cemburu, ya?" goda Bayu dengan senyum mengejek.

"Siapa juga yang cemburu," jawab Sifa ketus. Sudah jelas, malah ditanya lagi.

"Berita itu benar?" Kali ini Angga angkat bicara, menatap Afrell dan Manda bergantian. Yang lain menunggu jawaban dengan ekspresi serius, terutama Bayu.

Bukan hanya mereka yang menunggu, tapi seluruh orang di kantin juga menantikan jawaban langsung dari para tersangka.

Afrel menatap Manda sekilas, lalu menganggukkan kepala singkat. "Hm," ujarnya singkat.

"Kok bisa, sih, Man? Kalian hari ini benar-benar menggemparkan sekolah. Gue heran deh," kata Sifa sambil mengambil kentang dari piring Bayu tanpa sepengetahuan pemiliknya.

"Ya, bisa aja. Takdir," jawab Manda, sebenarnya dia juga bingung harus jawab apa. Yang pasti, ini memang sudah garis takdir.

"Kok bisa?" tanya Bayu dengan nada penuh penasaran, tak tahan ingin mengupas tuntas berita ini.

"Ya, karena kami saling cinta. Makanya balikan lagi," jawab Afrell singkat.

Bayu dan Sifa menghela napas panjang. "Iya, maksud gue itu—"

"Udah deh, mending kalian pesan makan aja. Nanti keburu masuk kelas," potong Siska dengan nada jengah, tak tahan mendengar obrolan yang nggak jelas itu.

"Makan apa?" Afrell mengelus rambut Manda dengan lembut.

"Apa ya? Bakso aja deh," jawab Manda sambil tersenyum.

"Kalian gimana? Biar Bayu sekalian aja yang pesenin, ya?" tanya Manda sambil menatap semua orang di meja. Bayu cuma mendengus kesal.

Dia lagi, dia terus yang jadi tukang pesan makanan. Untung dia sabar. Katanya, menurut emaknya, "Jadi cowok itu harus sabar, kalau sabar bisa dapat istri dua."

"Ya cepet deh, untung gue gak ngedumel waktu pesenin makanan kalian!" Bayu protes.

"Semuanya bakso aja, minumnya es teh ya," kata Manda sambil tersenyum.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang