"Jangan pernah menilai seseorang dari luarnya saja, tapi liat lah kepribadian nya."
.
.
.
"Gak mau, jangan maksa deh!"
Afrel menghela nafas sabar, sepertinya dia harus menyetok kesabaran. "Minum obat dulu ya, apa kamu gak mau sembuh?"
"Gak," jawabnya.
"Kamu gak mau mencari tahu dan mendengar semua kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan. Kamu gak rindu sama dia?"
Manda terdiam. Banyak sekali pikiran yang mengganggunya saat ini. Saat ia mulai sadar, begitu banyak kejutan yang datang bertubi-tubi, begitu banyak hal yang terjadi tanpa bisa ia pahami sepenuhnya.
"Sekarang kenapa lagi? Apa kamu nggak mau sekolah lagi? Kamu nggak kangen main bareng sahabat-sahabatmu?"
"Rindu," ucap Manda pelan.
"Kalau kamu rindu, berarti kamu harus sembuh. Dan kalau mau sembuh, kamu harus rajin minum obat, sayang."
"Kamu tahu nggak... kalau Varo nggak pernah mengkhianati aku? Kamu tahu... kalau dia nggak pernah selingkuh sama Feny? Mereka cuma dijebak… semuanya cuma jebakan…"
Kini giliran Afrel yang terdiam. Ia sudah mengetahui semuanya. Ia pun sudah mencari tahu sendiri tentang masalah ini. Dan ya, semua itu ternyata hanya kesalahpahaman.
Terlalu banyak hal yang ia takutkan. Terlalu banyak pikiran yang mengganggunya. Pikiran-pikiran negatif bermunculan satu per satu, membuat dadanya terasa sesak.
"Menurut kamu… aku harus gimana?"
"Kamu sendiri maunya gimana?"
"Afrel, kamu tahu… dengan begini, aku udah nyakitin dua cowok sekaligus—kamu dan Varo. Kesalahan pertamaku adalah nggak nyari tahu kebenarannya dulu. Aku langsung nuduh Varo tanpa bukti. Tapi... kalau waktu itu aku langsung percaya sama dia, aku nggak akan pernah ketemu kamu. Aku nggak akan pernah kenal, apalagi sampai pacaran sama kamu."
Dia menghela napas pelan, suaranya gemetar.
"Aku bingung, Rel… Aku udah nyakitin Varo. Dan sekarang, tanpa aku sadar, aku juga nyakitin kamu."
Afrel menatapnya lama. Lalu dengan suara pelan, dia bertanya, "Kamu masih cinta sama dia?"
Manda menunduk, menahan air mata. "Susah buat aku ngelupain Varo. Aku butuh waktu… mungkin bertahun-tahun. Soalnya terlalu banyak hal yang udah aku lewati bareng dia. Terlalu banyak kenangan indah kalau diingat…"
Afrel memalingkan wajahnya dari Manda. Hatinya mencelos mendengar ucapan barusan. Cowok mana yang nggak sakit hati saat pacarnya sendiri membicarakan masa lalu bersama mantan, apalagi dengan perasaan yang belum sepenuhnya hilang?
"Tapi semuanya berubah… saat aku ketemu sosok laki-laki yang berhasil membuat aku perlahan-lahan melupakan semua trauma itu. Dia yang bisa bikin aku jatuh cinta lagi, di saat hati aku udah mati rasa."
Manda menerawang jauh ke depan, mengingat pertemuan itu. Masih terbayang jelas di kepalanya—hari itu, di taman, ketika tanpa sengaja mereka bertemu untuk pertama kali.
"Aku memang menyayangi Varo, tapi… hanya sebatas kakak dan adik. Aku udah anggap dia sebagai keluargaku sendiri. Cuma satu orang yang benar-benar menempati tahta tertinggi di hati Manda…"
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Roman pour Adolescents"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
