"Lebih baik mendengar suara hujan yang berisik, daripada mendengar kebisingan dari mulut manusia."
•••
"Berpura-puralah tuli saat orang lain membicarakan keburukanmu. Biarkan mereka merasa paling sempurna. Karena orang yang benar-benar memiliki kelebihan, tidak akan sibuk memamerkannya hanya agar diakui orang lain."
•••
Selamat membaca
Varo memandang tenang ke arah objek yang ada di hadapannya. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan memilih untuk menyendiri di tempat ini.
Sejak tadi perasaannya tidak tenang. Entah kenapa, ada firasat buruk yang menghantuinya. Pikirannya terus tertuju pada kejadian itu.
"Apa gue bilang aja, ya? Tapi gue udah janji..."
"Argh! GUE HARUS APA? Gue gak tega…” teriak Varo, lalu suaranya melemah menjadi lirihan.
Suara panggilan dari ponselnya membuat Varo menoleh. Ia segera menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo."
“.......”
"Hm..."
“Apa dia aman?”
"Iya," jawab Varo pelan.
“.......”
Tut... Tut... Tut...
Baru saja ia ingin menyimpan ponselnya, tapi sebuah panggilan dari nomor berbeda kembali masuk.
"Apa?" ucapnya dingin.
“......”
"Gue gak mau kerja sama lagi sama lo. Ingat, ini terakhir kalinya lo hubungi gue. Gue gak mau lagi ada urusan apa pun sama lo. Camkan itu."
“......”
"Terserah lo mau bilang apa. Tapi yang pasti, ingat ini baik-baik: jangan pernah ganggu dia lagi. Kalau sampai gue lihat lo ngelakuin itu, lo bakal tanggung akibatnya," ucap Varo dengan nada tegas dan tak main-main.
Panggilan terputus. Varo langsung menyimpan ponselnya dengan kasar. Tatapannya menajam, rahangnya mengeras—emosi jelas terpampang di wajahnya. Ia baru saja ingin berdiri, namun langkahnya terhenti karena seseorang datang mendekat.
"Kak Varo di sini… aku cari-cari dari tadi," ujar suara familiar.
Varo menoleh. "Manda? Kenapa, hm?" Tatapannya langsung melembut, sorot tajam di matanya lenyap seketika.
"Gak papa," jawab Manda pelan, lalu duduk di samping Varo.
Keduanya terdiam. Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan, tanpa kata, tanpa gerak. Hening menemani.
"Aku bingung," ucap Varo tiba-tiba, memecah kesunyian.
Manda menoleh ke arahnya. "Bingung kenapa? Kamu ada masalah? Cerita aja…"
"Aku bingung, Man. Satu sisi, aku ingin nepatin janji. Tapi di sisi lain, aku nggak tega lihat dia sedih. Aku bener-bener bingung…" ujar Varo pelan sambil menatap Manda dengan sorot mata yang rapuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Teen Fiction"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
