Puncak dari mencintai adalah mengikhlaskan.
Bibir bisa saja munafik, berkata akan melupakan semuanya. Namun, pada kenyataannya hatinya sangat menuntut supaya orang yang dia sayang selalu bersamanya.
Senyum, tawa, dan canda itu akan ia ingat selalu sepanjang hidupnya. Dua insan yang di pertemukan tanpa sengaja, dekat tanpa di minta. Mereka mengira bahwa kebahagiaan itu akan ada sampai mereka tua.
Namun, takdir berkata lain.
Mereka harus berjalan di jalan yang berbeda—dipaksa melupakan segala yang pernah mereka perjuangkan.
Mengikhlaskan cinta bukan hal mudah.
Setiap detiknya seperti memikul beban yang tak terlihat, tapi terasa begitu berat di dada.
Melepas seseorang yang begitu dicintai…
Adalah seperti melepaskan genggaman tangan yang pernah begitu erat,
dan membiarkannya pergi, walau hati belum siap kehilangan.
Air mata mengalir pelan di pipinya, membasahi kenangan yang terus terputar dalam pikirannya—tentang janji-janji dan impian yang pernah mereka rangkai bersama.
"Maaf… kalau selama bersamaku, kamu tak pernah benar-benar merasa bahagia."
"Dulu, hampir setiap hari aku memimpikan kita. Membayangkan masa depan kita saat tua nanti—aku bekerja, kamu di rumah mengurus anak-anak kita. Mungkin terdengar gila, tapi aku benar-benar percaya kita akan sampai ke sana."
"Tapi sekarang aku sadar... semua itu hanya mimpi. Mimpi yang takkan pernah bisa kugapai. Hanya jadi pengantar tidur yang manis tapi menyakitkan."
"Tetap saja... aku bersyukur. Karena pernah jadi orang paling bahagia di dunia hanya karena bisa bersamamu—hanya dengan waktu sesingkat ini."
"Kalau aku pernah bilang akan belajar melupakanmu… semua itu bohong. Karena sampai kapan pun, kamu akan selalu jadi takhta tertinggi di hati seorang Varo Michael Aderald.'
"Dan kalau aku terlihat baik-baik saja, percayalah, itu hanya topeng. Aku cemburu… aku marah… setiap kali melihatmu bersamanya. Melihatmu tertawa bahagia, tapi bukan karena aku—itulah luka paling dalam. Luka yang mungkin takkan pernah sembuh, luka yang tak akan ada obatnya."
"Maaf… jika suatu saat nanti aku masih berharap kita bisa hidup bersama. Tapi dunia terlalu kejam—ia memisahkan kita. Memaksaku meninggalkan semua kenangan… kenangan indah yang pernah kita rajut bersama."
"Mungkin satu-satunya cara untuk meredakan luka ini adalah pergi. Menjauh dari hidupmu, sejauh mungkin… hingga tak seorang pun bisa menemukanku—terutama kamu. Aku hanya ingin berdamai dengan takdirku, belajar terbiasa tanpa kehadiranmu."
Varo menggenggam tangan Manda, berjanji akan menyembuhkan hati yang sudah hancur berkeping-keping. Selama ini dia mampu menahan rasa sakit, tapi kini tidak lagi. Ia tak ingin melihat hatinya semakin terluka saat menyaksikan orang yang dicintainya bahagia bersama orang lain.
Banyak yang bilang, "Aku bahagia melihat kamu bahagia, meskipun bukan karena aku." Namun bagi Varo, itu jauh dari kenyataan. Menyaksikan perempuan yang ia cintai bersama orang lain seperti menghantam kepalanya sendiri ke dinding—sakit, perih, dan pedih.
"Manda, aku pamit."
"Mau ke mana?"
"Aku nggak sanggup di sini. Bertahan di tempat ini sama saja dengan menyakiti diriku sendiri."
"Kenapa?"
"Apakah salah jika aku masih mencintaimu? Apakah salah jika aku masih berharap kita bisa seperti dulu? Daripada membiarkan sisi burukku keluar dan menyakitimu, aku memilih untuk menjauh, berusaha melupakan semuanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Ficção Adolescente"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
