32

48 3 0
                                        

Akhirnya, aku harus mengikhlaskan dirimu bersama dia.
Bukan karena aku tak cinta,
tapi karena aku belajar,
bahwa bahagiamu tak selalu bersamaku.
Dan mungkin, inilah caraku mencintaimu—
dengan melepaskan.

Happy Ending?
Mungkin tidak untukku.
Tapi setidaknya, untukmu.

•••


"Maksud lo apa?"

"Oh, lo belum tahu ya? Kasihan banget," ejek Raya sambil menyeringai.

"Gak usah muter-muter, ngomong aja langsung. Maksud lo apa?" ucap Manda.

Saat itu Manda sedang berada di toilet. Tiba-tiba, Raya muncul begitu saja dan mulai melontarkan kalimat yang tidak bisa Manda pahami.

"Nanti juga lo bakal tahu sendiri. Pada akhirnya, semua yang lo punya... jadi punya gue," ucap Raya.

Manda mengerutkan kening. Ucapan Raya semakin membuatnya bingung. Tapi ia malas memperpanjang, apalagi menghadapi drama yang tidak jelas.

"Gue gak peduli," ucapnya datar, lalu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Raya begitu saja.

"Awas aja lo!" teriak Raya dari belakang, tak terima karena diacuhkan.

"Serah."

Manda melangkah cepat menuju kamarnya dengan wajah kusut. Saat ia membuka pintu, Siska langsung menyapanya.

"Dari mana aja lo?" tanya Siska, menoleh dari tempat tidurnya.

"Tadi gue dari belakang," jawab Manda singkat sambil duduk di tepi kasur.

"Oh."

Siska menatap Manda sejenak, lalu bertanya lagi, "Ada apa? Kenapa lo murung banget? Ada yang ganggu pikiran lo?"

"Nggak," Manda menggeleng pelan. Benar, Siska memang selalu peka terhadap perubahan sikap orang di sekitarnya.

Manda mengalihkan pandangannya ke tempat tidur sebelah. "Belum bangun juga, nih bocah?" ucapnya, melihat Sifa yang masih tertidur terlentang.

"Susah banget banguninnya," sahut Siska sambil menarik selimut Sifa sedikit.

"Bangun, udah siang juga. Kebonya kebangetan deh lo," ucap Manda sambil menggoyangkan badan Sifa yang masih terlelap.

"Ish, gue ngantuk banget. Jangan ganggu, dong," gerutu Sifa dengan mata masih terpejam.

"Makanya jangan begadang nonton drakor terus. Katanya mau liburan, kok malah tiduran," ceramah Siska sambil menyilangkan tangan di dada.

"Bentar, lima menit lagi…" rengek Sifa.

"Gak ada lima menit-limanan! Buruan bangun. Jangan males, nanti kalau udah nikah bisa-bisa lo dibuang sama mertua," celetuk Manda, kali ini iseng menutup hidung Sifa.

Sifa langsung mendorong tangan Manda sambil mengomel, "Ckck, iya-iya. Ini gue bangun, Kanjeng Ratu," katanya sambil bangkit dengan langkah gontai menuju kamar mandi.

"Eh, kata Om Dion hari ini bakal ada acara ya? Acara apaan, sih?" tanya Siska, melirik ke arah Manda.

"Gue juga gak tau. Males banget, deh. Kayaknya dirahasiain gitu," jawab Manda, mengambil ponselnya dari atas kasur dan mulai scroll tanpa antusias.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang