"Bunda!" teriaknya.
"Kenapa?" sahut Bunda dari depan pintu kamar putrinya.
Cklek...
Pintu terbuka.
"Astagfirullah, ini kamar apa bukan? Kamar gadis kok berantakan begini," ucap Bunda, geleng-geleng kepala.
"Hehehe, maaf, Bun. Manda lagi cari kaus kaki, tapi gak ketemu. Bunda lihat gak?"
"Udah, kamu siap-siap aja. Biar Bunda yang cari kaus kaki kamu," titah sang bunda.
Manda mengangguk hormat.
"Siap, Kanjeng Ratu. Akan Ananda laksanakan," ucapnya sambil berdiri di depan cermin.
Ia merapikan make-up dengan hati-hati, menyapukan lipstik dan sedikit brush ke pipi. Setelah selesai, ia tersenyum kecil—rasa percaya dirinya meningkat.
"Nah, ini kaus kakinya," ucap Bunda sambil menggelengkan kepala, lalu menyerahkannya kepada Manda.
"Gini nih kalau kamar gak pernah diberesin. Berantakan, nyari apa-apa jadi susah. Bunda gak mau tahu, setelah pulang sekolah harus dibereskan!"
Manda tersenyum manis.
"Makasih, Bun. Oke deh, nanti Manda beresin. Janji," katanya sembari mengenakan kaus kaki yang telah ditemukan Bunda.
"Udah, kalau gitu ke bawah! Sarapan dulu," ucap Bunda.
"Oke, Bunda. Ayo," sahut Manda, menggandeng tangan Bunda, dan mereka pun keluar dari kamar.
Di sini senang, pacar satu,
Di sana senang, pacar dua,
Di mana-mana hatiku senang,
Ketemu satu, ketemu dua.
Satu panggil 'sayang', dua pun tersenyum,
Dua bilang 'manja', satu juga ikut nyengir.
"Three's a crowd," kata orang tua,
Tapi bagiku, semakin banyak semakin seru!
Cinta bertaburan seperti bintang di angkasa,
Saling gombal sambil makan cokelat berdua.
Satu jadi bingung, dua pun tak kalah,
Tapi aku bahagia, pacaran rame-rame, oh là là!
Manda bersenandung senang sambil menuruni tangga. Saat tiba di meja makan, di sana sudah ada Angga dan Arion yang sedang duduk.
"Pagi," sapa Manda sambil duduk di samping Angga—atau Marsel? Hmm… lebih enak dipanggil Angga aja, ya, biar kalian gak bingung.
"Pagi," jawab mereka serempak.
"Manda mau makan apa, sayang?" tanya Bunda lembut.
Manda menatap hidangan di atas meja. Semuanya terlihat enak, tapi entah kenapa, dia malas makan berat.
"Roti aja, Bun."
"Gak boleh roti, gak kenyang. Makan nasi," ujar Arion sambil menyendokkan nasi ke piringnya sendiri.
Manda menatap Arion dengan sinis. Ia masih menyimpan sedikit dendam karena kejadian waktu itu—saat Arion menamparnya. "Lo siapa, sok akrab."
"Elah, lo masih aja dendam sama gue. Gue juga gak sengaja kali, masih aja diinget," balas Arion dengan nada setengah kesal.
"Udah, gak usah bertengkar! Nanti telat," potong Bunda sambil mengambilkan sepotong roti dan menyerahkannya pada Manda, yang menerimanya dengan tenang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bisa duduk sarapan bersama. Tidak ada suara tinggi, tidak ada pertengkaran—hanya kehangatan sederhana yang sudah lama hilang.
Tanpa sadar, air mata Manda menetes pelan, jatuh begitu saja tanpa permisi.
Angga yang duduk di sampingnya segera menyadari.
"Manda, are you okay?" tanyanya pelan, khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Fiksi Remaja"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
