52

49 1 0
                                        

"Mas, kamu gak bisa gini dong! Itu mobil kesayangan aku—gak bisa seenaknya kamu jual begitu aja!"

Suaminya mengeram, frustrasi, menahan amarah. Istrinya benar-benar keras kepala.

"Tapi tinggal itu satu-satunya yang bisa kita jual! Tolong, kamu ngerti posisi aku. Kita gak bisa terus-terusan dikejar koruptor kayak gini!" serunya dengan alis menukik tajam, sorot mata berang.

"Masalah hutang itu urusan kamu! Aku gak mau tahu!" bentaknya. "Itu semua juga salah kamu, kan? Gak becus ngurus perusahaan, sampai akhirnya bangkrut!"

Plak!

Wajah Sinta menoleh tajam, tangannya memegangi pipinya yang baru saja ditampar suaminya. Matanya membara. "Ini bukan cuma salah aku! Kamu juga harus bertanggung jawab!" serunya.

"Kenapa aku yang disalahkan? Jelas-jelas kamu yang bikin ini semua makin parah! Kalau aja kamu bener-bener ngurus perusahaan, kita gak bakal kayak gini!"

Tak tinggal diam, Sinta balik menampar David. Suara tamparan bergema di ruangan.

"Seandainya kamu gak boros, gak ngabisin uang buat foya-foya sama teman-teman kamu itu, kita bisa bayar hutang!" ujar David.

"Kamu udah tahu aku kayak gimana sebelum kita nikah. Jadi kenapa sekarang kamu nyalahin aku? Harusnya kamu ngerti, maunya aku apa!"

"Tapi, Sin... kondisi kita sekarang beda. Gak kayak dulu lagi," suara David melemah.

Mereka saling menatap—mata yang sama-sama penuh dengan luka dan amarah. Hawa panas masih menggantung di ruang tamu. Napas mereka berat, seperti menahan ledakan berikutnya. Tak ada yang mau mengalah. Tak ada yang benar-benar mendengar.

Di ambang pintu, Raya berdiri kaku. Baru saja ia pulang dari rumah sepupunya, Sinta. Lagi dan lagi, ia harus menyaksikan pertengkaran orang tuanya.

Langkahnya terhenti saat terdengar suara pecahan.

Praaang!

Vas bunga jatuh dan pecah berhamburan di lantai, seolah menjadi simbol dari rumah tangga mereka yang sudah lama retak.

Raya menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. Matanya mulai berkaca-kaca.

Kapan ini semua akan berakhir? Sungguh... Dia lelah. Dia tidak kuat lagi.

Ia menunduk. Perasaan bersalah tiba-tiba menyergap hatinya.

Apa ini adalah karma?
Karma karena ia telah menyakiti Manda...

Sekarang, Raya sudah tidak lagi menginginkan kasih sayang dari papa maupun mamanya. Dia muak.

Muak dengan keluarga ini.
Muak dengan semua drama yang tak pernah berakhir.
Muak menjadi penonton dari perang dingin yang berubah jadi perang suara.

Brak!

Sebuah vas terlempar dan pecah tak jauh dari tempatnya berdiri. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya nanar, menatap kosong ke arah kedua orang tuanya yang masih terus melanjutkan adu mulut seakan tak menyadari kehadirannya.

"TERSERAH KAMU MAU LAKUIN APA BUAT BAYAR HUTANG, TAPI AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGIZINKAN KAMU JUAL MOBIL ITU!"

"DENGAN ATAU TANPA IZIN KAMU, MOBIL ITU TETAP AKAN AKU JUAL!" balas David tak kalah keras

"Kalau kamu sampai berani menjual mobil itu... aku gak akan segan-segan kirim surat cerai!" serunya tajam, sebelum membalikkan badan dan menaiki tangga dua-dua langkah.

Brak!

Pintu kamar di lantai dua dibanting keras, memantulkan dentuman di rumah itu.

David menjatuhkan tubuhnya di sofa, tangannya langsung memijit pelipis yang berdenyut hebat. Kepalanya terasa penuh, seperti ingin meledak. Pandangannya kosong menatap langit-langit, dan satu pertanyaan terus berputar di benaknya.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang