"Terkadang aku iri pada mereka yang punya keluarga bahagia—yang penuh tawa dan kehangatan. Tapi, aku sadar... setiap orang punya takdirnya masing-masing. Semuanya sudah digariskan oleh Tuhan."
— Manda Aurellia
🍁🍁🍁
"Assalamualaikum, Ma!" teriak Sifa saat memasuki rumah.
"Gak usah teriak, Sayang. Ini rumah, bukan hutan," sahut mamanya sambil berjalan mendekat.
"Waalaikumsalam... eh, ada Manda, Siska!" ucap Mama Sifa, Nia, dengan senyum ramah.
"Hai, Tante," sapa mereka bersamaan.
"Gimana kabar kalian?"
"Alhamdulillah, baik, Tante," jawab Manda mewakili.
"Ini nggak masuk dulu, Ma?" tanya Sifa.
"Oh iya, Mama lupa. Ayo, masuk!" ajak Mama Sifa sambil mempersilakan mereka masuk.
Mereka duduk di ruang keluarga.
"Kalian dari mana? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Tante Nia dengan nada penasaran.
"Baru pulang dari mall, Tan," jawab Siska.
"Ya udah, Ma. Sifa sama dua curut ini mau ke atas dulu," ucap Sifa sambil melirik Manda dan Siska.
"Enak aja, lo yang curut!" sahut Siska sambil menyenggol lengan Sifa.
"Udah, udah. Kalian ganti baju dulu, ya!"
"Oke, Tan. Kita ke atas dulu," ucap Manda, dibalas anggukan kepala dari Tante Nia.
---
🍁🍁🍁
Bruk...
Manda langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk milik Sifa. Sejak tadi, badannya memang sudah kangen banget sama benda satu ini.
Begitu juga dengan Sifa, ia menyusul dan langsung menghempaskan tubuhnya di samping Manda.
"Astaga, nikmat mana yang kau dustakan," ucap Sifa dengan wajah puas, menikmati kenyamanan kasur itu.
"Lebay," sahut Siska.
"Lo gak tau ya, dari tadi gue udah kangen banget sama kasur ini, lebih dari kangen gue sama si Riyan."
"Udah ah, kalian gak mau mandi dulu?" tanya Sifa sambil berdiri.
"Lo duluan aja, nanti baru kita!" jawab Manda dengan mata yang sudah terpejam, malas untuk bangun.
"Oke," jawab Sifa singkat sambil berjalan ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Siska yang hampir menyusul Manda ke alam mimpi terkejut ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi, memecah keheningan kamar. Suaranya cukup nyaring, membuat Manda sedikit menggerakkan tubuhnya dalam tidur.
Tanpa melihat layar, Siska—yang berada paling dekat dengan ponsel itu—langsung menggeser tombol hijau dan menjawab, "Halo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Teen Fiction"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
