“Dalam cinta, tak ada pemenang sejati—karena yang bertahan pun tetap terluka.”
.
.
.
S
esampainya di rumah Siska, mereka langsung masuk ke dalam.
"Terima kasih, Kak," ucap Manda setelah menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Angga mengangguk pelan. "Sama-sama. Ini memang udah jadi tugas gue."
Ia mengusap rambut Manda dengan lembut sebelum berbalik.
"Ck, udah pulang sana. Hati-hati di jalan!" seru Manda sambil memanyunkan bibirnya.
Angga tersenyum singkat, lalu menatap Siska. "Gue pulang dulu, ya."
"Hm," sahut Siska singkat sambil menjatuhkan diri di samping Manda, lalu merentangkan kedua tangannya.
"Sifa mana?" tanya Manda sambil mengambil camilan di atas meja.
"Dia pulang. Katanya mau ambil perlengkapan nginep di sini," jelas Siska.
"Oh, oke," jawab Manda singkat.
Sejenak hening sebelum Siska kembali membuka suara.
"Kenapa lo bohong, Man?"
Sontak gerakan makan Manda terhenti. Mulutnya yang tadi setengah terbuka langsung tertutup rapat. Ia tahu, cepat atau lambat pertanyaan itu pasti datang.
"Boong soal apa?" tanyanya, mencoba mengulur waktu.
"Soal penyakit lo." Suara Siska melembut, nyaris seperti bisikan.
Manda menarik napas pelan, lalu meletakkan camilan yang tadi digenggamnya.
"Gue cuma… gak mau nyusahin kalian."
Siska mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan sedikit kecewa di matanya. "Gue ngerti sekarang, lo belum sepenuhnya percaya sama gue, Man."
Manda menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang sulit dijelaskan—campuran rasa bersalah dan takut.
"Maaf, kalau gue terkesan gak percaya sama kalian. Sumpah bukan itu maksud gue," ucapnya lirih. "Gue cuma... khawatir. Takut kalau gue ini cuma jadi beban buat kalian semua."
Siska mendesah pelan, lalu meraih tangan Manda dan menggenggamnya erat.
"Lo gak akan pernah jadi beban buat gue, Man. Justru gue sakit hati kalau lo pikir gue gak peduli. Kita sahabatan udah dari kapan, masa lo masih ngerasa sendiri?"
Manda menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.
Manda menatap Siska, sorot matanya mulai melembut. "Iya, Sis. Gue tau, kalian tuh yang selalu ada buat gue. Maaf ya, beneran."
Siska tersenyum tipis, "Kali ini gue maafin. Tapi gak ada kata 'lain kali', paham?"
Manda mengangguk. Tapi kemudian, dia memiringkan kepalanya sedikit, nadanya berubah tenang namun serius. "Sis, kenapa lo ngerokok?"
Tubuh Siska menegang seketika. Ia sempat mengira Manda sudah melupakan hal itu, karena selama ini Manda tak pernah menyinggungnya. Dengan suara pelan, dia berkata, "Maaf..."
Manda menghela napas pelan. "Gue gak bakal nyalahin lo, Sis. Tapi... gue cuma pengen bilang, lo berhak nemuin cara yang lebih baik buat nenangin diri. Merokok itu ngerusak diri lo perlahan. Gue gak mau kehilangan lo, cuma gara-gara lo gak bisa nemuin cara lain buat ngelampiasin emosi."
"Gue akan usaha—"
"APA?"
Manda dan Siska spontan menutup telinganya, terkejut oleh teriakan membahana yang terdengar dari belakang mereka. Mereka berdua langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat Sifa berdiri dengan ekspresi garang, sambil membawa koper dan tas di kedua tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Afma
Teen Fiction"Ketika luka menjadi bagian dari hidup, mampukah cinta benar-benar menyembuhkannya?" Manda Aurellia tumbuh tanpa pernah merasa dicintai. Sejak bundanya pergi, rumah bukan lagi tempat pulang-melainkan sumber ketakutan. Sosok yang seharusnya melindun...
