33

51 2 0
                                        

"Aku harap ini adalah terakhir kalinya aku melihat air mata menetes dari mata indahmu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi, seperti yang pernah kulakukan."

Varo Michael Aderald

🍁🍁🍁


Setelah acara pertunangan selesai, Manda bersama kedua sahabatnya dan Varo beserta teman-temannya memilih pergi ke pinggir pantai.

Mereka berjalan menyusuri tepi pantai, sesekali bermain kejar-kejaran dengan riang.

Kini, mereka duduk berdampingan di pinggir pantai, merasakan hangatnya kebersamaan yang sudah lama tak mereka rasakan seperti ini.

"Wah, enak banget ya suasana pantai malam-malam gini," ucap Sifa sambil duduk berdampingan dengan Adit.

"Bagus banget. Gue udah lama banget gak ke sini. Biasanya gue ke pantai bareng kakak, tapi sekarang dia lagi sibuk," kata Siska.

"Pokoknya sekarang kita harus lebih sering keluar bareng kayak gini. Pasti seru, jangan cuma pas liburan aja," usul Sifa.

"Ide bagus tuh, biar gue bisa pdkt sama neng Siska," goda Adit, tapi langsung dapat tatapan tajam dari Siska dan Angga.

"Kok lo natap gue kayak gitu, Ga? Oh, lo cemburu ya gue mau pdkt sama neng Siska," jawab Adit santai.

"Apa-apaan sih lo," ucap Siska sinis menatap Adit.

"Siska pacar gue, jangan ganggu. "

"WHAT THE... Omg, gue gak salah denger, kan?" seru Sifa heboh.

Manda langsung menatap Siska dengan tatapan tak percaya. Benarkah? Tapi sahabatnya itu tak pernah cerita apa-apa.

"Bener?" tanya Manda.

Siska terdiam sesaat, menatap tajam ke arah Angga. Sementara Angga hanya menatap Siska, lalu kembali menatap ke depan.

"Wah, gak bisa dibiarin nih. Lo nikung gue, padahal gue lagi ngebet sama neng Siska," ucap Adit sambil mencoba menetralkan kagetnya, wajah dibuat sesedih mungkin.

"Mana mungkin sahabat gue sama lo," balas Sifa.

"Mulut lo! Lo gak diajak, jadi diam aja," balas Adit sambil menatap sinis Sifa. Sifa pura-pura gak lihat, malas berdebat sama Adit yang kalau dilanjutin gak bakal selesai.

"Lo utang cerita sama gue," kata Manda sambil menunjuk Siska dengan jari telunjuknya.

"Oke-oke, nanti gue cerita kok," jawab Siska pelan.

Varo sejak tadi hanya menatap lautan, tak menghiraukan perbincangan mereka. Wajahnya serius dan datar, entah apa yang sedang dipikirkannya.

"Var, lo kenapa?" Manda menyentuh bahu Varo.

Varo terkejut, lalu menatap Manda yang sedang menatapnya. Dia menetralkan wajahnya dan tersenyum ke arah Manda.

"Kenapa?"

"Lo yang kenapa, kok gue perhatiin dari tadi bengong terus," ucap Manda.

"Cie, perhatian nih ceritanya," goda Varo.

"Gue serius, Var. Lo kenapa? Cerita sama gue," pinta Manda.

"Gue nggak papa, Man. Gue cuma bingung aja."

"Bingung? Bingung kenapa?"

"Bingung sama semuanya."

"Kalau lo mau cerita, cerita aja. Gue pasti dengerin kok," ujar Manda.

"Makasih, Man. Gue beruntung punya kalian, terutama lo, Man."

"Lo juga, kalau ada masalah, cerita sama gue, ya. Gue akan selalu ada di samping lo. Boleh kan sekarang gue anggap lo sebagai adik gue sendiri?" ucap Varo menatap Manda dengan serius.

"Makasih, Var. Lo selalu ada buat gue. Gue senang banget kalau lo anggap gue adik, kayak punya pelindung di saat keluarga gue gak menganggap gue," ujar Manda sambil meneteskan air mata.

"Gue janji bakal melindungi lo seperti adik gue sendiri. Makasih sudah mau jadi adik gue, Man," ujar Varo sambil memeluk Manda.


Manda sangat bahagia. Ia menangis di pelukan Varo. Sejak dulu, ia menginginkan sosok kakak yang selalu melindunginya. Kini, ia punya tiga kakak—Varo, Angga, dan Adit.

Sementara itu, kedua sahabatnya, Angga dan Adit, sudah pergi tanpa sepengetahuan mereka, memberi ruang agar Manda dan Varo bisa berbicara dengan tenang.

Mereka berdiri tak jauh dari sana. Siska tak kuasa menahan air matanya, teringat pada keluarganya yang telah hancur akibat perceraian. Ia hanya punya seorang kakak sekarang. Sebenarnya, hidup Manda dan Siska tak jauh berbeda; mereka sama-sama anak broken home.

"Gue gak tega liat Manda kayak gitu," ujar Sifa sambil mengusap air matanya.

"Gue juga," timpal Adit.

"Udah, kita pergi aja. Kasih mereka waktu buat ngobrol berdua," kata Angga sambil menggandeng tangan Siska.

Manda dan Varo menghabiskan malam itu dengan bahagia, berbincang santai tanpa beban.

Setelah beberapa lama, Manda merasa bosan duduk di situ. Perutnya sudah mulai keroncongan, jadi dia mengajak Varo cari makanan.

"Kamu duduk aja di sini, biar aku yang cari makanan," ujar Varo. Mereka berdua sudah sepakat untuk tidak lagi menggunakan kata gue dan lo, melainkan aku dan kamu.

"Enggak mau, bosen di sini terus. Ayo, aku ikut," sahut Manda sambil berdiri.

"Ya udah, yuk," ucap Varo lalu menggandeng tangan Manda, mereka pun berjalan meninggalkan tempat itu.

Tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengamati dari kejauhan. Rahangnya mengeras, matanya penuh amarah. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kulitnya sobek, darah mulai mengalir menetes dari sela jemarinya.

BRUK!

Satu pukulan keras menghantam batang pohon kelapa di depannya. Darah mengucur lebih deras dari tangannya.

"Argh, sial!"

Tatapannya masih terpaku pada punggung Varo dan Manda yang semakin menjauh. Rahangnya mengencang lagi.

"ARGHH!" teriaknya sambil menghantam pohon sekali lagi. Untung saja pantai itu cukup sepi malam ini.

Dengan napas memburu, ia segera melangkah pergi, menyapu pandangannya ke sekeliling, memastikan tak ada satu pun yang melihat kejadian tadi.

Tak jauh dari sana, seseorang lain berdiri diam. Ia menyaksikan semuanya dari awal. Wajahnya sendu, matanya sayu.

"Gue kasihan sama lo… lebih tepatnya sama kisah cinta kalian,” gumamnya pelan.

“Gue cuma bisa berharap kalian kuat melewati ini semua. Maaf… aku belum bisa bantu apa-apa.”

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang