13

131 66 5
                                        

-Tolong ajarin aku bagaimana caranya agar  merasakan kebahagiaan-

****


"Var, kamu bisa temenin aku malam ini nggak?" ucap manda.

"Kamu mau kemana?" tanya Varo.

"Aku mau beli kado buat teman aku. Bisa kan, anterin aku?"

"Maaf ya sayang, tapi kalau malam ini aku benar-benar gak bisa. Tapi, sebagai gantinya, besok kita pergi ke pantai, mau?" tawar Varo.

"Ya udah deh kalau kamu nggak bisa, aku pergi sendiri aja," jawab Manda dengan senyum yang dipaksakan.

Varo menatap Manda dengan tatapan lembut, lalu mendekat. "Kamu nggak marah kan sayang?" ujarnya pelan, seraya menggenggam tangan Manda dengan lembut.

Manda mengangguk. "Gak kok, aku ngerti. Kamu pasti banyak kerjaan," ucapnya.

Varo tersenyum lebar dan mencubit pipi Manda dengan lembut. "Makasih ya sayang, kamu pacar aku yang paling cantik dan perhatian," kata Varo.

Kira-kira, begitulah obrolan Manda dan Varo tadi siang.

Kini, Manda berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dalam diam. Wajahnya terlihat begitu cantik malam ini. Riasan lembut yang ia poles sendiri berhasil menonjolkan kecantikannya. Baju berwarna pastel yang membalut tubuhnya membuatnya tampak cantik.

"Bun!" teriak Manda sambil berlari menuruni tangga menuju ruang makan.

"Apa sih, kok teriak-teriak kayak lagi di hutan aja," ucap Bunda sambil memandanginya dengan heran.

"Tadaaa!" Manda memutar tubuhnya pelan, memperlihatkan baju yang ia kenakan dengan senyum penuh percaya diri.

"Ya ampun, sayang... Kamu cantik banget malam ini," ucap Bunda terkagum-kagum.

"Kok tumben, malam-malam gini udah dandan cantik aja. Kamu mau ke mana?" tanya Bunda penasaran, menurunkan sendok dari tangannya.

"Bun, Manda mau cari kado buat temen aku. Soalnya besok dia ulang tahun," ucap Manda bersemangat.

"Oh gitu. Ya udah, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya," pesan Bunda lembut.

"Oke, Bun. Manda pamit, assalamualaikum," kata Manda sambil tersenyum.

"Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Sayang," balas Bunda.

"Siap, Bunda tersayang!" sahut Manda ceria sambil melambaikan tangan sebelum keluar rumah.




****

Setelah sampai di tempat tujuan, Manda langsung berkeliling mencari kado yang cocok untuk ulang tahun Vania. Sudah hampir dua menit ia berjalan dari satu etalase ke etalase lain, tapi belum juga menemukan sesuatu yang pas.

Sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah gaun cantik yang terpajang di sudut butik.

"Mbak, kalau gaun ini berapa harganya?" tanya Manda sambil menunjuk gaun tersebut.

"Oh, yang ini harganya enam juta rupiah, Mbak," jawab pramuniaga dengan ramah.

Tanpa ragu, Manda mengangguk. "Ya udah, bungkus yang ini ya."

Karena tidak fokus melihat jalan, Manda tanpa sengaja menabrak seseorang.

"Loh, Feny... "

"Loh, Feny..." ucap Manda terkejut. "Apa kabar?"

"Alhamdulillah, baik. Udah lama banget kita gak ketemu. Kamu ke sini sama siapa?" tanya Feny dengan senyum ramah.

"Gue sendiri. Kalau lo?"

"Gue bareng pacar gue. Dia lagi nunggu di luar."

"Wow... sekarang Feny gak jomblo lagi ya! Kenalin dong?"

Feny Amelia—teman Manda sejak SMP—memang sudah lama tidak mereka bertemu.

Dulu mereka berteman sangat akrab, selalu bersama di setiap waktu. Namun, waktu memisahkan keduanya saat mereka harus melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda.

"Ya udah, ayo gue kenalin sama pacar gue," ucap Feny antusias, lalu menarik tangan Manda menuju area parkir.

Sesampainya di sana, Feny langsung menyapa cowok yang sedang berdiri sambil memainkan ponselnya.

"Hai sayang, ini temen aku. Aku mau kenalin dia ke kamu," ucap Feny sambil tersenyum manis.

Cowok itu pun menoleh ke arah mereka.

Namun, seketika mata Manda membelalak. Langkahnya terhenti. Napasnya tercekat.

Dunia seperti berhenti sejenak.

Itu... itu Varo.

Varo pun tak kalah terkejut saat melihat Manda berdiri di depannya. Matanya membulat, seolah tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.

"Loh, kalian udah saling kenal?" tanya Feny polos. "Kenalin, ini Manda, temen aku waktu SMP. Dan Manda, kenalin… ini Varo, pacar aku."

Manda membeku di tempat. Suaranya tercekat. Sementara Varo tampak panik.

"Fen… lo apa-apaan. Kita—"

"Manda, ayo dong. Kenalin ini pacar gue," potong Feny sambil tertawa kecil, tak menyadari situasi aneh di antara mereka.

Varo mencoba menjelaskan, suaranya tergesa dan dipenuhi rasa bersalah. "Sayang, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku—"

"Stop." Manda mengangkat tangannya pelan, suaranya lirih namun tegas.

Tatapannya menembus mata Varo—tatapan sayu, penuh kecewa.

Jadi ini alasannya… alasan kenapa dia menolak menemani Manda malam ini.

"Jadi ini... alasan kamu nggak bisa temenin aku," ucap Manda dengan suara bergetar. "Aku kecewa."

Tanpa menunggu respons, Manda berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan mereka berdua dalam kebisuan.

"Sayang, kamu mau ke mana?" teriak Feny panik saat melihat Varo tiba-tiba berlari mengejar Manda.

"Ada apa sih?" ucap Feny bingung, matanya mengikuti arah Varo yang berlari meninggalkan dirinya.

Sementara itu, Manda terus berlari tanpa arah, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Dadanya sesak, kecewa bercampur marah memenuhi kepalanya.

"MANDA! DENGERIN PENJELASAN GUE!" teriak Varo di belakangnya, napasnya terengah.

"SAYANG, GUE MOHON... BERHENTI. GUE BISA JELASIN SEMUANYA!"

Manda berhenti sejenak, menoleh dengan mata yang memerah karena tangis. "GAK ADA YANG PERLU DIJELASIN, VARO!" teriaknya penuh amarah dan luka. "GUE BENCI SAMA LO. KITA PUTUS!"

Tanpa menunggu jawaban, Manda langsung masuk ke dalam taksi yang kebetulan berhenti di pinggir jalan. Pintu tertutup dan taksi pun melaju pergi.

"MANDAAAA!" teriak Varo dengan suara parau, berdiri di tengah jalan sambil menggenggam rambutnya frustasi.

AfmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang