Bagian 23

26K 1.1K 9
                                        

"Kenapa tidak dimasukkan Bas?" Melisa menatap Basmal, mengelus wajah laki-laki diatasnya dengan lembut.

Basmal tersenyum, menggeleng "Aku ke kamar mandi dulu". Basmal mengecup kening Melisa lalu beranjak kekamar mandi.

Basmal melihat dirinya dicermin, lalu beralih melihat cincin pernikahan yang tersemat dijari manisnya. Perasaan aneh tiba-tiba menghentikan niatnya untuk menyatukan diri dengan Melisa. Entah, saat ia tidak sengaja melihat cincin dijari manisnya, bayangan Cece yang menangis dalam pelukannya membuat ia tersentak hingga nafsunya hilang entah kemana.

Basmal mencuci tangan, lalu melilitkan handuk ditubuhnya. Tak lama kemudian, keluar dari kamar mandi, melihat Melisa sudah menggunakan kaos dan celana pendek miliknya.

Basmal membuka handfhonenya lalu melihat notifikasi pesan dari Cece.

Princess
Saya minta maaf

Tangan Basmal gemetar, seiring dadanya terasa ditikam batu keras membuat ia kesulitan bernafas. Basmal meletakkan hanfhonennya kembali.

"Kenapa?" Tanya Melisa penasaran

Basmal menggeleng pelan "Aku antar kamu pulang ya?"

"Tapi aku pengen tidur sama kamu semalaman".

"Nanti ya, besok aku kerja ada rapat harus berangkat pagi, gapapa kan??"

Melisa mengerucutkan bibirnya lalu mengangguk. Basmal segera memakai bajunya kembali dan mengantar Melisa agak jauh dari kerumahnya. Setelahnya, ia bergegas pulang.

___________

Cece meraba kemeja Basmal yang terdapat sedikit warna merah dibagian kerah dan dadanya. Bau parfum menyengat mirip perempuan juga sangat melekat dikemeja Basmal, bahkan ia yakin jika warna merah ini adalah lipstik.

Cece tersenyum getir memasukkan kemeja Basmal ke mesin cuci dengan tangan gemetar. Cece menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu berjongkok didepan mesin cuci, ia tidak mengerti kenapa rasanya amat menyakitkan seperti ini hingga membuat air matanya mengalir deras secara spontan.

Bahkan lututnya sangat lemas untuk sekedar berdiri. Sudah sejauh mana? Sudah sejauh manakah Basmal dengan wanita itu? Apa dia begitu menjijikkan hingga Basmal berbuat seperti ini? Ohh... iya ia memang semenjijikkan itu dimata suaminya.

Apa Basmal sudah berpelukan, berciuman, dan...., tidak, tidak, Cece menggelengkan kepalanya menepis fikiran negatif dikepalanya.

Cece menjemur pakaian dibelakang rumahnya dengan perasaan hampa, berkali-kali ia memandangi kemeja Basmal lamat-lamat memastikan jika warna lipstik itu sudah memudar.

"Princess". Suar panggilan Basmal dibelakangnya membuat Cece tersentak lekas menghapus air matanya.

"Lihat dasi saya yang warna navy?" Tanya Basmal menatap punggung Cece yang membelakanginya

"Belum kering" Sahut Cece singkat karena sebenarnya dasi Basmal memang belum kering karena ia lupa mencucinya kemarin-kemarin.

Basmal mengangguk lalu pergi, membuat Cece berbalik menatap kepergian Basmal yang sudah berpakaian rapi dengan tatapan sayu. Cece bergegas menuju dapur menyiapkan makanan untuk Basmal.

Tak lama kemudian, Basmal duduk dimeja makan menikmati masakan Cece yang sangat lezat. Saking lezatnya, para karyawannya sering mengatakan jika ia semakin berisi. Namun, tatapan Basmal beralih menatap Cece dengan hidung memerah.

"Kamu sakit?" Tanya Basmal namun Cece masih belum merespon.

"Princess, kamu sakit???" Tanya Basmal sekali lagi.

Cece terlihat linglung lalu akhirnya menjawab "Tidak, hanya sedikit flu karena cuacanya dingin". Sahut Cece

"Sudah minum obat?"

"Sudah"

"Lebih baik kamu tidak perlu bekerja kalau sakit".

Cece tidak megerti dengan sosok laki-laki yang duduk dihadapannya, kenapa dia selalu berlagak baik didepannya. Jujur, ia merasa muak dengan ekting Basmal yang berlagak perhatian dan sok khawatir. Kenapa dia tidak memperlihatkan ketidak sukaan dia padanya, kenapa dia membangun image yang baik dihadapannya.

Cece meletakkan piring bekasnya kewastafel lalu pergi meninggalkan Basmal yang masih belum selesai dengan sarapannya.

"Saya berangkat". Suara Cece terdengar sedikit keras ditelinga Basmal. Basmal menggeleng heran dengan wanita itu, sangat keras kepala begitu pikirnya.

____________

Suara notifikasi Whatsapp membuat Cece membuka handfhoneya. Dahinya mengernyit heran saat ia melihat nomor baru mengirimnya pesan.

+628562736....
Selamat siang, bisa kita bertemu?

Princess
Siapa?

+628562736....
Saya Melisa, ada yang ingin saya bicarakan.

Melisa? Cece mengigit bibir bawahnya berfikir keras siapa Melisa. Namun ingatannya yang kuat dengan mudah mengingat jika Melisa adalah nama wanita yang Basmal sebut saat ia mabuk berat.

Princess:
Ya, sore jam 4 di CafeLoka

Cece meremas handfhonenya mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan apa yang akan wanita itu sampaikan? Cece memegang dadanya yang berdetak kencang namun berdenyut nyeri, perasaan apa ini? Kenapa hatinya tiba-tiba sakit saat membayangkan jika wanita itu adalah wanita yang diimpi-impikan Basmal.

____________
Jangan lupa votenya gengss... makasi sudah membaca.

'PRINCƏSS (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang