Cece menatap datar dengan pandangan kosong. Deni dan Dania menatap putrinya dengan tatapan yang begitu menyedihkan. Mereka berdua berfikir, Basmal akan membahagiakan Putrinya dan menjaganya dengan baik. Tapi, apa yang mereka pikirkan tidak seperti yang terjadi sebenarnya.
"Kalau begitu, pergilah, kejar apa yang ingin kamu raih, kamu bebas mengejar pendidikan yang kamu impikan. Biar Basmal menjadi urusan Papa". Ujar Deni tegas.
"Papa serius?"
Deni mengangguk tersenyum tipis
Princess tersenyum dengan tarikan nafas lega. Ia memeluk sang Mama dengan erat.
"Tapi, kamu harus janji dengn kami, kamu harus bahagia, kamu harus baik-baik saja, kamu harus sehat selalu, kamu harus kembali". Ujar Deni kembali dengan raut datar namun tersirat nada kesedihan disetiap ucapannya.
"Aku akan kembali...Papa dan Mama baik-baik disini, aku sudah menyiapkan keberangkatanku. Tolong jangan katakan pada siapapun kemana aku pergi. Papa dan Mama tidak perlu mengantarku agar kepergianku tidak terlihat banyak orang."
Dania mengangguk mengerti, "Baik-baik ya nak.... kamu Princessnya Mama.. kamu harus bahagia".
Princess mengangguk.
Setelahnya, Princess mempersiapkan semua keperluannya dengan dibantu oleh bosnya, siapa lagi kalau bukan Nando. Nando sudah banyak membantunya dalam masalahnya kali ini. Jujur saja, dia tidak terlalu paham seluk beluk perceraian dan dia juga tidak pernah membayangkan akan ada perceraian dipernikahannya. Karena dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup.
"Saya berterimasih dengan bapak karena sudah banyak membantu saya".
Nando berdehem "Sama-sama.. emm Princess.. saya boleh mengunjungi kamu dilain waktu?"
Princess tersenyum mengangguk "Boleh..bapak boleh megunjungi saya, saya pergi pak, selamat mencari sekretaris baru, dan jangan bekerja terlalu keras".
Nando mengangguk tersenyum tipis "Semoga bahagia selalu Princess,".
Princess juga mengangguk tersenyum tipis dan meninggalkan Nando yang berdiri mematung menatap kepergian sekretarisnya, dan wanita yang dia sukai entah sejak kapan. Dan, ia baru menyadari perasaan itu sejak beberapa bulan yang lalu. Namun, mendengar fakta soal penikahan dan perceraian yang Princess katakan, dia merasa sedih. Sedih karena ia merasakan bahwa Princess sedang tidak baik-baik saja.
_________________
Basmal menunduk menatap rumah kedua orang tua istrinya.. ahh... istri? Basmal tersenyum membayangkan istrinya akan menyambutnya disini dan kembali memulai semuanya sedari awal.
"Assalamualaikum" Basmal tersenyum ramah saat melihat sang papa mertua yang menyambutnya mempersilahkannya masuk.
Basmal mengedarkan pandangannya barangkali ia akan menemukan Cece berkeliaran disana menyiapkan minuman untuknya.
"Ada yang ingin papa bicarakan".
Jantung Basmal berdetak keras dan mendadak gugup. Ia merasa takut akan beberapa kemungkinan yang bisa membuatnya terluka.
"Iya Pa". Sahut Basmal pendek.
Deni mengeluarkan surat cerai yang putrinya titipkan sebelum ia pergi.
"Basmal, bisakah papa meminta tolong untuk menceraikan putri papa?".
Nafas Basmal kembang kempis dan kesulitan menelan ludah. Mata menatap nanar kearah surat cerai yang sudah papa mertuanya letakkan didepaannya.
"Bisakah kamu mengizinkan dia bahagia? Basmal, hidupnya sudah banyak menanggung beban dan luka, papa lupa kapan terakhir kali dia tersenyum lebar. Bisakah kamu melepaskan dia? Kami minta maaf tidak peka dengan keadaan kamu yang memiliki wanita pilihan kamu sendiri."
Deni menarik nafas pelan, "Princess putri Papa satu-satunya yang saya sayangi meskipun saya selalu keras dengan dia. Itu semua Papa lakukan agar dia tidak menjadi orang lemah. Tapi, dia akan sangat lemah jika menyangkut orang yang dia sayangi, dia akan melakukan apapun untuk orang yang dia sayangi sekalipun itu akan menyakitinya."
Deni menatap Basmal yang mengusap wajahnya kasar, "Berbahagialah, Cece sudah melakukan yang terbaik untuk kalian".
Basmal bersimpuh menatap lantai yang begitu dingin menyusup kulitnya. "Tidak, ini bukan yang terbaik. Maafkan aku Pa, tolong ampuni aku, papa boleh menghukum aku dengan cara apapun. Tapi, tolong jangan meminta aku untuk menceraikan Cece. Jangan, jangan lakukan itu." Dada Basmal terasa sesak dan tidak mampu menahan air matanya hinga bahu Basmal naik turun.
"Saya memang bukan suami yang baik untuk Princess, saya banyak menyakiti hatinya tapi, demi tuhan saya tidak akan menceraikan dia. Saya sangat menyayangi dia".
"Orang yang menyayangi tidak akan menyakiti dan dia akan menerima dalam keadaan apapun." Sahut Deni.
"Saya tau, saya minta maaf untuk itu. Biarkan saya bertemu dengan Cece untuk membicarakan hal ini Pa".
"Cece sudah pergi".
Basmal mengangkat wajahnya, menghapus air matanya kasar menatap papa mertuanya yang menatap kosong.
"Dia pergi, jauh..ini pertama kali Cece meninggalkan kami sangat jauh... sampai rasanya saya takut, tapi saya tida bisa menghentikannya."
Air mata Basmal semakin mengalir menggeleng tidak percaya "Tidak mungkin Pa, kalau begitu, harusnya saya tidak mengijinkan dia ijin pulang kerumahnya. Dia hanya ijin pulang sebentar, kenapa jadi begini??"
Deni menatap menantunya yang meraung-raung frustasi dengan tangisan yang sangat menyakitkan. Tangisan seseorang laki-laki yang kehilangan orang yang dicintainya. Benarkah begitu?
_____________
Apapun itu, kehilangan memang menyakitkan. Jangan lupa vote dan komennya❤.
KAMU SEDANG MEMBACA
'PRINCƏSS (END)
RomansaBasmal menikahi Cece (Princess) atas perintah kakaknya Xabiru, sementara itu ia tetap bermain gila dengan Melisa (wanita yang dicintainya). Perasaan enggan menyentuh istrinya lantaran ia sudah bukan lagi gadis membuat Basmal membuat jarak. Kemudian...
