"Ayo kita pulang Princess".
Princes berjengit kaget saat mendengar suara Basmal dibelakangnya. Cece tidak jadi memasukkan sesendok eskrim kedalam mulutnya saat melihat aura Basmal yang mencekam.
"Mau makan eskrim dulu sebentar". Cicit Cece dengan suara pelan sedikit takut-takut melihat Basmal.
"Pulang sebelum kesabaran aku habis," Ujar Basmal datar namum tatapannya penuh intimidasi. Sesekali menatap tajam Nando.
"Biarin Cece habisin eskrimnya dulu". Ujar Nando bersuara dengan wajah yang masih terlihat santai meskipun Basmal benar-benar terasa ingin menelannya hidup-hidup.
Basmal mengepalkan tangannya berusaha menahan diri untuk tidak menonjok lelaki sialan didepannya. Sialan,!.
"Aku beliin eskrim sebanyak yang kamu mau, asal kita pulang".
Cece melirik Nando yang tersenyum tipis dan mengangguk. Cece menghela nafas sedih melihat eksrimnya..."Oke deh, Nando aku pulang yaa..".
Nando mengangguk dan tersenyum hangat, "Hati-hati".
Basmal segera memeluk pinggang Cece posesif menunjukkan bahwa Cece miliknya. Setelahnya Basmal membawa Cece keluar dari restoran.
____________
Sejak di perjalanan hingga tiba dirumah, Basmal benar-benar tidak bersuara sama sekali. Namun, anehnya laki-laki itu tetap menepati janjinya untuk membelikannya eskrim yang begitu banyak.
"Basmal".
Basmal hanya melirik Cece sekilas dan berdehem pelan sebagai jawaban.
"Kamu marah???"
Basmal memejamkan matanya, meletakkan tabletnya diatas nakas lalu menghampiri istrinya yang tengan tertidur telentang diatas ranjang.
"Aku tidak marah sama kamu, aku hanya marah sama diri aku sendiri".
Cece mengernyitkan kening.
"Aku marah kenapa kamu tidak bisa sebahagia itu saat sama aku??"
"Itu karena kesalahan kamu". Ujar Cece
Basmal menindih tubuh istrinya, "Aku tau, tapi, bisa nggak kalau sekarang kamu jaga jarak sama dia??"
Cece tidak habis pikir, "Kenapa?? Saya sama Nando hanya berteman d..."
"Aku cemburu," Basmal memotong ucapan Cece. "Aku cemburu kamu deket sama dia,"
"Aneh banget cemburu sama Nando".
"Nggak ada yang aneh Princess, aku suami kamu jadi wajar aku cemburu sama Nando. Bisa nggak, mulai sekarang, libatkan aku dalam segala hal dalam hidup kamu. Aku ingin kamu selalu membutuhkan aku, bersandar sama aku, tergantung sama aku."
"Itu tidak mudah". Ujar Cece memalingkan wajah.
"Kenapa sulit?? Kenapa sama aku jadi sulit? Sementara dengan Nando kamu tidak? Kamu suka sama dia???" Sial, Basmal jadi kessal sekarang.
"Kamu butuh air dingin, otak kamu lagi panas". Kata Cece menatap Basmal.
"Iya, aku lagi panas banget, aku cemburu banget kamu sama Nando sedekat itu".
Cece tersenyum miring, "Saya biasa aja kok waktu kamu dekat dengan Melisa".
"Iya, karena kamu tidak cinta sama aku".
Cinta???
Oh, cinta ya??? Munafik sekali jika Cece mengatakan ia biasa saja. Tapi, Cece dengan segala gengsinya tidak mungkin mengakui bahwa dulu dirinya juga cemburu melihat Basmal masih bersama dengan Melisa.
"Memangnya kamu cinta sama saya??"
Basmal menyentuh wajah Princess mengelus pipinya yang begitu lembut dan halus, "Pertanyaan macam apa itu hmmm?, aku cinta banget sama kamu, sayang banget sama kamu, takut banget kehilangan kamu, takut banget kamu ninggalin aku."
"Kamu yakin??"
Basmal mengecup bibir Princess, "Yakin, aku nggak pernah secinta ini sama seseorang".
"Dengan Melisa???"
"Nggak sayang, nggak pernah sebesar ini, dan sedalam ini, sumpah demi Tuhan."
"Kamu benar-benar sudah selesai dengan Melisa??".
Basmal mengerutkan kening, "Kamu belum percaya sama aku??"
Cece diam.
"Aku sama dia sudah selesai, benar-benar selesai. Ada banyak saksi yang mengetahui soal itu, ada kak Xabiru, Safir, Dion, Arnold dan beberapa orang lainnya. Sumpah demi Tuhan."
"Kalau cinta?, kamu masih cinta sama dia??"
Basmal tersenyum mengecup sekali lagi bibir istrinya, "Aku cintanya sama kamu, cinta banget, banget, banget."
"Saya tidak percaya".
"Gapapa, aku bakalan ngeyakinin kamu sayang. Emmm, btw, mau makan malam diluar nggak??? Sekarang malam minggu loh sayang".
"Kenapa dengan malam minggu?"
Basmal cemberut merebahkan dirinya disamping istrinya dan memeluknya dari samping, "Malam mingguan sayang, masa kamu ga paham".
"Umur kamu udah ngak cocok untuk malam mingguan".
"Umur boleh 30 keatas sayang, tapi muka aku masih kaya anak SMA kok".
"Saya gamau, saya gamau malam mingguan".
"Maunya malam jumatan sama Basmal junior ya???"
Cece mencubit lengan Basmal keras karena merasa kesal.
"Suka banget kalau liat kamu lagi malu-malu gitu, makin cantik".
"Gausah gombal, saya gak mempan sama gombalan kamu".
Basmal mencolek pipi Cece yang memerah, "Tapi mukanya merah loh sayang".
"Diam Basmal".
"Yayaya, ayo dong sayang kita malam mingguan kaya ABG ABG, pliss...".
"Mau kemana sih??"
"Kemana aja asal jalan-jalan bareng kamu".
"Ke pengadilan agama kalau gitu".
Basmal terdiam, tidak bersuara lagi. Ia lebih memilih memeluk istrinya dengan menelusupkan wajahnya dicekuk leher istrinya.
"Mau malam minggu kemana Basmal??"
"Gausah sayang, aku takut kamu malah ngajak ke tempat keramat yang kamu sebutkan tadi".
"Kita belanja kebutuhan dapur aja, sekalian makan diluar". Ujar Cece mengusulkan.
"Oke sayang,". Jawab Basmal antusias. Selama menikah, Basmal tidak pernah punya momen jalan-jalan berdua layaknya pasangan lainnya. Ia benar-benar menginginkan itu, ia ingin memiliki momen membahagiakan dengan istrinya, sekalipun hanya hal-hal sederhana.
_____________
Jangan lupa vote dan komennya ya.. Makasi❤
KAMU SEDANG MEMBACA
'PRINCƏSS (END)
RomanceBasmal menikahi Cece (Princess) atas perintah kakaknya Xabiru, sementara itu ia tetap bermain gila dengan Melisa (wanita yang dicintainya). Perasaan enggan menyentuh istrinya lantaran ia sudah bukan lagi gadis membuat Basmal membuat jarak. Kemudian...
