Basmal belum pulang kerumahnya, ia membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikiran dan perasannya. Dan rasanya, ia tidak masih belum sanggup melihat wajah istrinya yang sudah ia sakiti. Ia memilih duduk termenung seorang diri ditaman menatap jalanan yang ramai sementara jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Mungkin Cece sudah bangun, begitu pikirnya.
Basmal mengacak rambutnya kasar sesekali memijat dahinya. Bermacam-macam umpatan dia katakan untuk dirinya sendiri. Ya Tuhan, kenapa dirinya begitu brengsek. Cece tidak pernah menyakiti dirinya, Cece melayaninya dengan baik, ia tidak pernah memaki-maki dan menghina dirinya. Tapi dirinya??...
"Aku jahat banget, aku gatau harus gimana, melepaskan kamu rasanya sulit, aku ingin terus menahan kamu disamping aku". Ujar Basmal lirih
Namun tiba-tiba, Basmal tersentak kaget saat melihat anak kecil terjatuh tidak jauh dari hadapannya. Dengan sigap, Basmal segera beranjak membantu anak kecil tersebut berdiri.
"Rio...kamu nakal banget yaa...kan udah mama bilang, jangan lari-lari".
Basmal tersentak kaget saat mendengar suara yang ia kenali tengah berjalan mendekatinya, Basmal mendongak dan melihat wanita yang selama dua tahun ini ia hindari. Melisa juga terkejut melihat Basmal yang tengah membantu Rio membersihkan bajunya yang sedikit kotor.
Melisa menatap laki-laki didepannya yang semakin gagah dan dewasa, semakin tampan namun terlihat dingin padanya.
"Bass..Basmal". Sapa Melisa terbata-bata.
Basmal mengangguk singkat, enggan bersuara. Basmal melihat anak laki-laki disampingnya berjalan menghampiri Melisa, memeluk kakinya dengan penuh sayang.
"Dia anak aku". Ujar Melisa memberi tahu dengan nada pelan.
"Ya," Sahut Basmal singkat terkesan acuh tak acuh. Sungguh ia benar-benar tidak peduli dengan apa yang wanita didepannya katakan.
"Kamu tidak ingin tahu siapa ayahnya?"
Basmal mengernyitkan keningnya lalu terkekeh, "Yang jelas saya bukan ayahnya,"
Melisa menundukkan wajahnya, "Iya kamu benar, dia bukan anak kamu,".
"Oke".
Melisa membawa Rio kedalam gendongannya, "kamu gimana? Sudah menikah??"
Basmal tergelak, pertanyaan macam apa itu???. "Dari dulu saya kan memang sudah menikah, kamu lupa?? Princess masih menjadi istri saya hingga saat ini kalau kamu ingin tahu". Ujar Basmal lalu pergi begitu saja meninggalkan Melisa yang mematung mentap kepergian laki-laki yang sudah menjadi masa lalunya dan laki-laki yang belum bisa ia lupakan.
_____________
"Dari mana aja?" Tanya Cece sinis saat melihat Basmal memasuki kamar mereka.
"Dari luar sayang". Sahut Basmal tersenyum tipis lalu bersiap-siap membersihkan diri.
"Semua orang juga tau kamu dari luar,"
Basmal mendekati istrinya yang bersedekap berdiri di dekat lemari lalu mengecup seluruh wajah istrinya.
"Kamu sudah mandi??"
"Jangan mengalihkan pembicaraan".
Basmal terkikik geli, "Habis dari cafe sayang ketemu teman, cowok kok bukan cewek. Beneran, sumpah".
"Yakin???"
Basmal menelan ludah, "Yakin.". Basmal meraih tangan istrinya mengusapnya lembut "kamu udah mandi belum? Mandi bareng yuk??"
"No, mandi bareng versi kamu itu sesat".
Basmal tergelak mendegar sahutan istrinya yang sudah berada didalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan keras. Astaga, kenapa istrinya begitu menggemaskan.
Basmal memilih merebahkan diri di ranjang menatap langit-langit kamar, ucapan Nando sedari tadi terus menari-menari bagaikan kaset rusak membuat dirinya dilanda rasa bersalah begitu besar.
"Basmal....".
Suara teriakan istrinya membuat Basmal tersentak kaget. Ia segera berlari menuju kamar mandi dan membukanya.
"Ituu.... ada kecoa..". Ujar Cece ketakutan melihat kecoa yang berada di pojok di kamar mandi.
Namun sayang sekali, tatapan Basmal justru terpana melihat kemolekan tubuh istrinya yang tanpa menggunakan sehelai benangpun. Basmal menelan ludah susah payah.
"Basmal, mesummmm...." Cece berteriak menutupi tubuh polosnya dengan handuk dengan cepat.
Basmal terkekeh melihat aksi istrinya yang menggemaskan, padahal ia sudah melihat seluruh tubuh istrinya. Tapi rupanya, istrinya masih terlihat malu-malu.
"Astaga Basmal kenapa malah senyum-senyum, kamu sudah sinting ya".
"Kayaknya iya sayang"
Cece memutar bola mata jengah, "Cepat bunuh kecoa itu".
"Nga gratis sayang"
Cece mengeram kessal, "Iya, nanti saya bayar lima puluh ribu".
"Kamu lupa kalau suami kamu sultan??"
Cece memijat pelipisnya, "Astaga, terus mau apa??"
Basmal tersenyum misterius dengan ekprssi bahagia yang sangat kentara. "Mau kamu, tiga ronde aja sayang nggak banyak-banyak".
"Ngak".
"Yauda kecoaknya nga akan aku bunuh".
"Astaga Basmal, kamu hypersex?? Tadi sudah berapa kali loh".
"Ya gimana sayang aku gapernah puas kalau sama kamu".
"Cepat bunuh kecoanya Basmal". Cece semakin berteriak kaget saat kecoa kembali berjalan. Dengan sigap, Basmal membunuh kecoa dan membuangnya.
"Udah nggak ada sayang".
Cece bernafas lega, namun itu hanya sementara, ia memekik kaget saat Basmal menariknya masuk kedalam bathup.
"Kayaknya kita coba disini bakalan seru sayang". Bisik Basmal sensual membuat bulu kuduk Cece berdiri.
"Ngak ma...mphhhhj". Basmal segera membungkam bibir istrinya. Sementara tangannya dengan lihai melempar handuk ditubuh istrinya yang sudah basah.
"I love you". Kata Basmal serak menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh penyesalan. "Aku sayang banget sama kamu. Jangan tinggalin aku ya," Basmal mengusap wajah istrinya mengecup bibir istrinya lembut.
Cece hanya diam tidak membalas, tapi ia merasa Basmal sangat berbeda. Tatapan Basmal seperti menyimpan kesedihan, dan ketakutan. Apakah setakut itu Basmal kehilangan dirinya?? Ah tidak mungkin, Bagaimana jika Basmal hanya pura-pura?
"Sayang kamu banget, banget, banget Princess".
________________
Jangan lupa vote dan komennya ya.. Makasi❤
KAMU SEDANG MEMBACA
'PRINCƏSS (END)
RomanceBasmal menikahi Cece (Princess) atas perintah kakaknya Xabiru, sementara itu ia tetap bermain gila dengan Melisa (wanita yang dicintainya). Perasaan enggan menyentuh istrinya lantaran ia sudah bukan lagi gadis membuat Basmal membuat jarak. Kemudian...
