Bagian 22

25.9K 939 17
                                        

Semakin hari, Basmal melihat Cece semakin jauh, Cece memang selalu berangkat dan pulang kerja dengan normal. Tapi, Cece tidak bisa digapai, ia selalu menjaga jarak,  berbicara seperlunya dan sering melamun. Basmal menatap Cece dari kejauhan saat melihat ia bercengkrama dengan keluarganya, ia bisa melihat raut wajah Cece yang selalu tenang.

Ia kadang berfikir, apa Cece memang selalu setenang itu? Ia mendekati Cece lalu duduk disampingnya.

"Basmal, kalian harus ikut program hamil, kalian udah mau berapa bulan sih nikahnya? Udah cukup kok pacarannya, jangan tunda-tunda, atau jangan-jangan si Princess mandul ya?"

Sialan, Basmal mengeram marah "Jaga omongan tante". Geram Basmal kesal

"Kenapa? Siapa tau dia bermasalah,".

"Tante Tari keterlaluan, tidak ada yang bermasalah disini, aku ataupun Princess kami normal". Desis Basmal tajam membuat Cece refleks menyentuh lengan Basmal, membuat Basmal menoleh kearah Cece yang menggeleng.

Semua sanak keluarga tertegun, menatap kemurkaan Basmal.

"Kita pulang". Basmal mengenggam tangan Cece erat meninggalkan sanak saudara mereka.

"Kamu keterlaluan Mbak Tari". Desis Xabiru

_____________

"Kamu kenapa diam saja? Kenapa tidak menjawab apa yang dikatakan tante Tari". Basmal menggenggam erat stir kemudi melampiaskan kekesalannya.

"Tidak ada yang perlu saya jawab".

Basmal tertawa sinis, meminggirkan mobilnya ditempat sedikit sepi. Ia memiringkan tubuhnya, menatap Cece yang terlihat tenang.

"Saya ngak ngerti sama pikiran kamu". Kata Basmal heran

"Saya tidak suka menjawab hal semacam itu, karena akan membuat keadaan semakin runyam".

"Dan membiarkan tante Tari menghina kamu begitu?"

Cece menatap Basmal tepat dimanik matanya "Saya sudah terbiasa soal itu Basmal, jadi penghinaan tante Tari tidak ada apa-apanya". Cece mengalihkan pandangannya "Kalau saya menjawab, saya harus menjawab bagaimana? Bilang kalau saya tidak mandul? Bilang kalau saya dan kamu sering melakukan itu namun belum berhasil? Atau bilang jika saya dan kamu tidak pernah melakukan itu?"

Basmal terdiam.

"Jadi, dari pada menyatakan kebohongan, lebih baik saya diam. Karena saya membenci kebohongan". Lanjut Cece membuat Basmal tersentak.

"Jadi, lebih baik saja diam". Kata Cece kembali.

Basmal mekukul stir kemudi dengan perasaan kesal. Ia tidak mengerti kenapa ia sekesal ini saat tante Tari menghina Cece. Ada perasaan sakit diulu hatinya saat melihat Cece hanya terdiam tenang. Ia marah, kesal dan terluka bersamaan.

Sungguh, penghinaan yang tanter Tari lakukan bukan apa-apa untuk Cece. Ia sudah banyak sekali merasakan luka, hingga rasanya ia tidak tau bagaimana merespon banyaknya luka itu selain diam berpura-pura tenang. Meski setelahnya, saat ia berada ditempat sepi seorang diri, ia akan menangis sepuasnya.

"Kalau begitu ayo kita lakukan itu, kita buktikan jika kamu dan saya tidak mandul". Ujar Basmal seketika

Cece menatap manik mata Basmal yang menatapnya, ia menggeleng "Jangan pernah lakukan apapun jika terpaksa,"

Basmal menyugar rambutnya kebelakang, memutus tatapan mereka. Sial, kenapa dia malah berkata seperti tadi? Apa katanya??? Dia mengajak Cece melakukan itu? Sepertinya otaknya sudah benar-benar terpapar virus. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba berkata demikian.

"Sebaiknya kita pulang, kamu butuh istirahat untuk menenangkan fikiran kamu". Ujar Cece memecah keheningan.

Basmal tidak menjawab, namun kembali mengidupkan mesin dan menjalankan mobilnya.

______________

Cece mematikan televisi, mengecek jam dihandfhonenya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sepulang dari rumah keluarga Basmal, lelaki itu hanya mengantarnya pulang lalu pergi lagi entah kemana. Hingga saat ini, Basmal belum juga kembali. Pada akhirnya, Cece memilih tidur lebih dulu, karena mungkin Basmal tidak akan pulang.

Ditempat lain, Basmal memeluk tubuh wanita yang ia rindukan. Basmal terburu-buru mengantarkan Cece saat melihat notifikasi dihandfhonenya yang mengabarkan jika Melisa pulang. Dengan perasaan senang, ia mengajak Melisa bertemu di apartemen miliknya. Dan disinilah mereka sekarang.

Melisa mengelus dada Basmal sensual "jangan mancing Mel".

"Aku minta maaf, laki-laki itu sepupu aku. Kita kan pernah ketemu sama sepupu aku, kamu lupa?"

"Iya aku ingat, maaf". Ujar Basmal melonggarkan pelukannya mengecup dahi Melisa singkat.

"Aku pulang ingin menjelaskan itu, aku takut kamu marah".

Basmal tersenyum hangat mengecup bibir Melisa. "Aku gak marah".

Melisa tersenyum manis lalu melumat bibir Basmal intens yang langsung dibalas Basmal dengan lumatan kasar. Tangan besar Basmal merobek kasar dress yang Melisa gunakan, membuangnya sembarang arah. Basmal beralih berada diatas tubuh Melisa, melihat Melisa yang telentang pasrah dengan wajah memerah. 

Basmal membuka bra sekaligus celana dalam milik Melisa, membuat Melisa telanjang bulat. "Seksi" Ujar Basmal serak.

Basmal dengan tergesa-gesa melepas seluruh pakaiannya hingga ia juga telanjang bulat. Basmal melebarkan paha Melisa hingga ia berada ditengah paha Melisa.

"Nghh, Bas..." Melisa melenguh saat Basmal mencium leher Melisa, terus turun kebawah kepucuk payudara Melisa yang menegang.

"Kenapa???" Tanya Basmal menatap Melisa, sementara jari kirinya sudah meraba area sensitif Melisa. Sementara tangan kanannya untuk bertumpu agar ia tidak menindih tubuh Melisa.

"Shh Basmallll"

"Ya sayang???" Nafas Basmal sudah memburu,  dilanda gairah.

"Geli".

Basmal tersenyum miring lalu memasukkan satu jarinya kedalam lubang sempit Melisa.

"Ohhh Basmal"

"Sempit sayang". Bisik Basmal ditelinga Melisa. Basmal mengeluar masukkan jarinya dengan tempo lambat lalu cepat, namun tidak terlalu dalam.

"Pengen.. pipis Bas... ahhhhh". Melisa melenguh memeluk Basmal erat dengan nafas memburu. Basmal dapat merasakan jari tengahnya dijepit erat oleh kewanitaan Melisa dan basah karena cairan Melisa. Basmal tersenyum hangat mengecup seluruh wajah Melisa yang berkeringat.

_____________
Jangan lupa vote dan komennya☺

'PRINCƏSS (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang