Bagian 14

21.7K 1.1K 7
                                        

Basmal tiba dirumahnya jam 23.00 malam. Arnold dan Dion menyeretnya ke cafe tempat tongkrongan mereka semasa kuliah. Membuat Basmal mau tak mau mengiyakan ajakan mereka berdua.

Lagipula, ia sudah lama tidak berkumpul dengan temannya karena kesibukan masing-masing. Berbeda dengan Safir yang langsung pulang.

Basmal masuk kedalam kamarnya dengan hati-hati, ia melihat Cece sudah tidur meringkuk layaknya bayi. Basmal melepas jam tangannya, mengeluarkan dompetnya, meletakkannya meja samping ranjang. Basmal masuk kedalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, Basmal sudah selesai membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian dan naik ketempat tidur dengan pelan takut membangunkan Cece. Basmal tidur telentang menatap langit-langit kamarnya.

Saat ia hendak pulang, Sarah memberi tahunya bahwa tante Tari bertanya soal kehamilan dan Sarah khawatir hal itu membuat Cece sakit hati. Sarah juga mewanti-wanti Basmal untuk menenangkan Cece.

Basmal melirik punggung istrinya yang membelakanginya.

"Rasanya, saya tidak bisa menyentuh kamu yang sudah menjadi bekas orang lain. Rasanya sangat berat". Basmal berkata lirih.

Namun, Basmal tidak tahu jika Cece mendengarnya karena ia pun juga tidak tidur. Cece mengepalkan tangannya berharap rasa sakit dihatinya tidak terlalu menyakitkan, tapi tidak bisa dipungkiri, air matanya berlinang, hatinya teramat ngilu, perih tak tertahankan. Hingga ia hanya bisa menangis dalam diam merasakan dadanya terasa dihimpit batu besar.

"Semua terasa begitu berat bagi saya, hingga saya tidak mampu menyentuh kamu, karena itu sangat menjijikkan,"

Cece membuka matanya, mendengarkan kata terakhir yang Basmal ucapkan. Menjijikkan?? Benarkan begitu?? Benarkan ia semenjijikkan itu? Cece menekan dadanya yang terasa amat nyeri. Tidak cukupkah sahabat Basmal menghinanya tadi? Kenapa justru Basmal juga ikut menambah penghinaan itu.

________________

Basmal terjaga melihat Cece sudah tidak berada disampingnya. Ia segera bergegas berwudhu dan solat subuh. Seusai itu, ia melangkah kedapur yang ternyata masih sangat bersih. Basmal mengecek keseluruh ruangan dikamarnya, namun tidak ada Cece disana. Padahal hari ini hari libur, lalu kemana Cece?

Basmal mengecek handfhonenya dan memunculkan notifikasi dari Cece bahwa ia sedang mengunjugi rumah sahabatnya. Basmal berdecak, bukankah kemarin ia sakit perut? Kenapa sekarang malah keluar rumah bukan istirahat saja?

Dan lagi, sekarang masih pukul 05.00 pagi, Basmal menepis rasa penasarannya. Lebih baik, ia memasak dari pada memikirkan wanita itu.

Sementara disisi lain, Cece berada didalam mobilnya menatap pemandangan pantai didepannya. Ia sengaja bangun pagi-pagi sekali, sebelum Basmal terbangun untuk menghindari Basmal.

Ia mengendarai mobilnya tanpa arah dengan perasaan kacau. Ia sedang tidak baik-baik saja, kata-kata yang dilontarkan sahabat Basmal amat membuatnya tak mampu berpijak dibumi.

"Rasanya, saya tidak bisa menyentuh kamu yang sudah menjadi bekas orang lain. Rasanya sangat berat".

"Semua terasa begitu berat bagi saya, hingga saya tidak mampu menyentuh kamu, karena itu sangat menjijikkan,"

Ucapan Basmal benar-benar sangat menyakiti dirinya hingga rasanya ia merasa begitu menjijikkan. Wanita bekas sepertinya menjijikkan dimata Basmal. Lalu, apakah Basmal berfikir ia ingin mengalami hal itu?

Tentu saja tidak, kejadian dimasa lalu karena pembalasan dendam seseorang padanya membuat ia nyaris gila. Ia dilecehkan oleh seseorang yang begitu terobsesi padanya dengan embel-embel cinta. Namun, akhirnya orang itu bunuh diri karena tidak sanggup menahan perasaan bersalah pada Cece.

Sejak kejadian itu, Cece begitu takut, sedih, hancur. Namun kedatangan Pradana yang biasa ia panggil Dana membuat Cece merasa dicintai dengan sangat, diperjuangkan mati-matian, dan dilindungi sepenuh hati.

Sungguh, baginya Dana adalah seseorang yang mampu membuatnya kembali tersenyum, melupakan masa lalu pahit dihidupnya. Bahkan, Dana menerimanya dengan begitu tulus dan tidak pernah membahas hal yang membuatnya terluka soal masa lalunya.

"Seperti yang aku duga Dana, Basmal tidak akan menerima aku, aku harus bagaimana?" Tanya Cece seolah ia berbicara dengan Dana.

Cece mengusap air matanya yang tak terasa terjatuh "Apa aku harus diam saja??? Atau aku harus bagaimana?? Rasanya sangat sakit Dana, hingga rasanya aku kesusahan bernafas, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana setelah ini". Cece memukul stir mobil berteriak mengeluarkan rasa sakit dihatinya.

Menikah dengan Basmal tidak pernah ia bayangkan selama ia hidup di bumi. Ia hanya bertemu Basmal sekali, itupun saat mereka sudah dewasa. Jadi, saat orang tuanya mengatakan bahwa Basmal melamarnya, mulanya ia menolak.

Ia tidak bisa menikah dengan orang yang tidak begitu ia kenal, tapi ia tidak kuasa menolak permintaan orang tuanya yang terlihat menginginkan ia menikah dengan Basmal.

Cece akui, saat pertama kali ia bertemu Basmal, mamanya langsung berkata semoga Basmal menjadi jodohnya, namun Cece hanya meresponnya dengan senyuman tipis tidak mungkin. Takdir justru  berkata lain, ia dan Basmal menikah namun pernikahan yang sama sekali tidak memunculkan efek kebahagiaan.

Cece menelungkupkan wajahnya disetir kemudi, ia memang tidak mencintai Basmal, namun jika boleh jujur ia mulai merasa nyaman. Ia tidak menyangka, jika kemarin adalah hari melelahkan untuk hatinya. Tapi, ia tidak bisa marah, karena apapun yang dikatakan mereka adalah kebenaran. Ia hanya bisa menerima, memendam dan menangis dalam diam seorang diri.

______________
Jangan lupa vote dan komennya☺

'PRINCƏSS (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang