Basmal membuka matanya, melepaskan ciumannya, ia melihat Melisa berada dibawahnya dengan baju acak-acakan memperlihatkan branya bahkan bibir melisa sudah membengkak, Basmal melihat tubuhnya sudah telanjang dada. Sial, ia hampir kelepasan. Tidak, ia tidak mau melakukan ini. Gara-gara Cece otaknya tidak waras.
Melisa menarik kembali wajah Basmal saat Basmal melepas ciuman mereka. Melisa melumat bibir Basmal mengarahkan tangan Basmal kepayudaranya. Basmal yang sudah nafsu meremas payudara Melisa.
"Ahhh.... " desah Melisa.
Basmal melepaskan pakaian Melisa hingga memperlihatkan tubuh atasnya yang menggoda dengan buah dada tidak terlalu besar namun sekal. Basmal kembali mengecup bibir Melisa dan berpindah pada bagian area lehernya memberi kissmark disana.
Safir melihat pintu kamar Basmal sedikit terbuka dan terdengar suara desahan. Rencananya, ia akan mengambil barangnya yang ketinggalan karena jujur saja, ia sering masuk kedalam apartemen Basmal saat ia malas pulang kerumahnya.
Safir terdiam, apa mungkin itu basmal dengan Princess??
"Ahh... Melisa...." lenguh Basmal saat jemari lentik Melisa berhasil masuk kedalam calananya dan membelai lembut kejantanannya yang sudah menegang.
"Kamu nakal sayang arhhhhggg" lenguh Basmal
"Ahhh.... Basmal jangan digigit uhh" Basmal mengigit gemas pucuk payudara Melisa dengan gemas sementara tangannya mengelus kewanitaan Melisa dari luar celananya membuat Melisa kelabakan.
Safir tidak bisa membendung amarahnya, sialan itu suara Melisa. Safir mendobrak pintu kamar Basmal, menarik Basmal keluar dari kamar dan memukulnya dengan membabi buta.
"Brengsek,,, sialan" Safir menonjok pipi Basmal berulang kali.
Sementara Melisa memperbaiki penampilannya, memasang kembali pakaiannya dan berusaha melerai Safir yang memukul Basmal habis-habisan.
"Stopp, Safir.... kamu bisa bikin Basmal mati"
"Diam lo" Bentak Safir menunjuk Melisa dengan telunjuknya.
"Jangan bentak dia" Basmal mendorong tubuh Safir, mengusap pipinya yang sudah mengeluarkan darah bahkan mungkin sudah lebam.
"Lo juga diam brengsek... setan... anjing" Safir mengumpat berteriak dihadapan Basmal.
"Melisa, lebih baik kamu pulang" Ujar Basmal lembut membelai wajah Melisa dan Safir muak melihat itu.
"Ta..tapi kamu" Melisa menyentuh wajah Basmal membuat ia meringis.
"Aku gapapa, kamu pulang ya, hati-hati aku ga bisa anterin kamu, gapapa kan???"
Melisa mengangguk, menurut, mengambil tasnya didalam kamar Basmal lalu pergi dari apartemen Basmal. Basmal membenarkan celananya dengan resleting sudah terbuka membuat Safir berdecih sinis.
"Udah sampe mana lo maennya? Hmm?" Tanya Safir tajam
"Bukan urusan lo". Jawab Basmal datar
Safir tertawa "Hahahahah,,, gila, apa Princess kurang montok sampai lo pengen ngegenjot Melisa?"
"Jaga omongan lo Safir" Basmal berteriak marah.
"Wohoho, padahal Princes tubuhnya montok, payudaranya besar, bokongnya seksi, cantik, kulitnya putih...da"
"Sialan lo Safir" Basmal menonjok wajah Safir dengan nafas memburu.
"Gue membicarakan kebenaran, kenapa lo marah?"
"Jangan pernah menghayalkan Princess dengan fantasi liar lo"
Safir tertawa sumbang "Begitu??, wow...kalau Melisa boleh?? Ahh tapi sayang gue gak tertarik gue..."
"Diammm...." Basmal berteriak murka lalu duduk disofa memijat kepalanya yang pening. Ya Tuhan, apa yang ia lakukan barusan? Ia hampir melakukan itu dengan Melisa. Demi apapun, ia tidak berniat melakukan ini, ia hanya akan melakukan ini nanti setelah menikah.
"Untung gue belum terlambat datang, sepertinya kalian belum ketahap inti. Gue tahu lo ngak cinta sama Princess, tapi lo ngak seharusnya berbuat ini saat kalian masih terikat hubungan pernikahan. Kalau lo mau, lo bisa menceraikan Princess lebih dulu". Ujar Safir meninggalkan Basmal mengambil barangnya lalu pergi dari sana tanpa sepatah katapun.
Bercerai??? Itu tidak mungkin, pernikahannya baru seumur jagung, akan sangat mencurigakan jika ia bercerai sekarang.
______________
Cece sudah sampai dirumah, ia tidak tahu kemana perginya Basmal hingga berjam-jam tak kunjung kembali. Ia ingin bertanya menghubungi Basmal, namun ia tidak punya kontak laki-laki itu. Karena tubuhnya sudah lengket, ia akhirnya pulang sendiri naik taksi.
Cece membersihkan tubuhnya, lalu mengganti pakaian dengan menggunakan kaus kebesaran dipadukan dengan celana pendek lalu bergegas menuju dapur menghangatkan masakan tadi pagi yang masih tersisa. Cece berjengit kaget saat mendengar suara bedebum pintu lalu mematikan kompor merapikan masakannya yang sudah selesai.
Cece menghampiri Basmal yang tengah berbaring disofa ruang tamu dengan wajah lebam dan baju kusut. Tanpa bersuara Cece mengambil air hangat untuk mengompes luka lebam diwajah Basmal.
"Saya kompres dulu". Ujar Cece mendekati Basmal yang memejamkan mata membiarkan Cece mengobatinya.
Cece mengompres dengat amat hati-hati meski Basmal sesekali meringis sakit. Safir memang memukulnya sekuat tenaga. Sial!. Ada banyak pertanyaan diotaknya yang ingin ia tanyakan pada Basmal, namun ia tidak berani karena mereka tidak sedekat itu.
Ada perasaan tidak tega saat melihat Cece sudah pergi membawa air hangat meninggalkan ia sendiri menatap langit-langit ruang tamu. Andaikan Cece tau, jika ia sudah mencium bibir wanita lain dengan ganas, bahkan menyentuh tubuh wanita lain dan hampir melakukan itu. Masih sudikah Cece mengobati lukanya??
Basmal berjengit kaget, langsung duduk saat menyadari ia meninggalkan Cece dikantornya. Ia menghampiri Cece yang tengah berada di dapur mencuci baskom.
"Kamu pulang dengan siapa tadi??"
Cece mematikan kran "Saya naik taksi" sahutnya sembari meletakkan baskom ditempatnya.
"Sory, sa..."
Cece mengangguk tersenyum tipis "Saya mengerti" ujarnya lalu pergi meninggalkan Basmal.
Cece tidak ingin lebih jauh mendengar penjelasan Basmal, karena ia merasa takut, takut ada sesuatu yang menyakiti hatinya. Entah ini firasatnya atau bukan, seolah-olah jika ia tau alasan Basmal, ia akan terluka.
_____________
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa vote dan komennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
'PRINCƏSS (END)
RomanceBasmal menikahi Cece (Princess) atas perintah kakaknya Xabiru, sementara itu ia tetap bermain gila dengan Melisa (wanita yang dicintainya). Perasaan enggan menyentuh istrinya lantaran ia sudah bukan lagi gadis membuat Basmal membuat jarak. Kemudian...
