Bab 2. Dua Kapal yang Karam

887 41 0
                                        

Namira mendongak dengan mata terpejam saat ia terus memacu diri bergerak di atas pria yang berbaring di bawahnya. Malam yang semakin merengkuh larut, menjadi pengiring dari tiap desahan yang meluncur keluar dari bibir merah merekah itu.

Dari bayangan samar pada hiasan cermin dinding yang membingkai kepala ranjang, Namira bisa melihat pantulan tubuh polosnya sendiri yang tak kalah berantakan saat kedua matanya kembali terbuka. Rambut coklat bergelombang tergerai tak beraturan, ditambah jejak sembab yang menghiasi wajah putih pucatnya, seolah menjadi tamparan pengingat betapa menyedihkannya ia malam ini.

Suara-suara di kepalanya juga tak mau berhenti merongrong dan mengusik tiada henti. Terus meneriakan cacian yang memukul harga dirinya hingga ke titik paling hina dan rendah. Namira masih terus memacu gerakan tubuhnya tak terkendali dalam rasa frustasi, beriringan dengan suara di kepalanya yang makin menjadi-jadi.

Perempuan cacat, anak tidak tahu diri, pembawa sial, wanita mandul tidak berguna! Kalimat demi kalimat itu terasa begitu nyata bergaung di telinganya. Merasuk ke sudut terdalam untuk mengiris-ngiris hatinya hingga mati rasa. Kesakitan dan keputusasaan itu hingga tanpa sadar kembali meluruhkan air mata turun menjejaki pipinya sekali lagi.

Di tengah gerakan tubuhnya yang mendadak terhenti akibat isakan yang tak sanggup dikendali, Namira merasakan sentuhan yang sama mendarat untuk menghapus bekas aliran basah itu di wajahnya. Cukup perlahan dan hati-hati, seakan tahu kerapuhannya bukan sesuatu yang mudah ditangani.

Pria yang masih memandangnya dalam sunyi itu tak memberi kata-kata menenangkan hanya untuk sekedar membuatnya merasa lebih baik. Namun entah kenapa, wajah datar dengan bibir terkatup rapat dan usapan telapak kasar itu mampu menghadirkan sedikit kelegaan yang ia cari.

Ia tahu, untuk ukuran sosok tak tersentuh seperti Andreas Pramoedya, menunjukkan kehadirannya dalam kesenduan orang lain merupakan hal yang teramat langka. Pria yang selalu berpijak pada dunianya sendiri itu terlalu sering membangun benteng tinggi terhadap orang-orang di sekitarnya, benteng yang terlalu kokoh untuk bisa ditembus oleh siapapun, termasuk bagi seorang Namira Sanjaya sekalipun.

Tak peduli meski usia pernikahan lima tahun mereka telah begitu lama menjebak keduanya di bawah atap dan di atas ranjang yang sama. Nyatanya, Andreas Pramoedya masih tetap menjadi misteri tersendiri baginya.

Sama seperti saat ini, ketika ia meminta kesempatan pada pria itu untuk sedikit meruntuhkan dinding pertahan tinggi tersebut, agar dirinya dapat menjadikan sosok itu sebagai tempat pelarian sementara dari segala kepenatan. Tanpa diduga, Andreas mengabulkan permintaan yang ia inginkan tanpa konfrontasi.

Malam ini memang bukan sentuhan terintim pertama bagi mereka. Lima tahun kebersamaan dalam naungan pernikahan, tentu tak membuat mereka berdua memilih hidup selibat. Percikan gairah itu tetap ada, mengingat kebutuhan biologis keduanya sebagai wanita dan pria dewasa bukan sesuatu yang mampu dielak.

Tapi semua tak lebih dari sentuhan sebatas raga. Tak sedikitpun ada rasa yang ingin turut berperan di dalamnya. Sejak awal Namira tahu dengan pasti, hasil akhir seperti apa yang akan ia dapatkan jika nekat berusaha meraih hati pria itu. Hanya luka tambahan tak berujung lah yang akan menjadi bayarannya.

Namira pernah terpikirkan untuk mencoba mengenal seorang Andreas Pramoedya sepenuhnya. Di pertemuan pertama mereka, usai kedua belah pihak keluarga mengusungkan niat perjodohan, tidak sulit bagi Namira untuk jatuh hati pada sosok mengagumkan seperti Andreas. Pria itu tampak punya kharismanya sendiri di tengah sikap dingin dan tertutup yang kerap ia tampilkan di depan orang-orang.

Awalnya Namira cukup percaya diri kalau bisa saja Andreas adalah obat paling manjur untuk mengurangi kesakitan dan luka yang ia cari selama ini, tapi siapa sangka bahwa setelah mereka cukup saling mengenal dalam mahligai rumah tangga, Andreas ternyata tak lebih baik dari dirinya. Pria itu bahkan menyimpan kehancuran dan kesakitan sendiri yang jauh lebih besar dan terpendam.

Head Over HeelsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang