Meskipun tidak dilakukan secara terang-terangan, Rena masih bisa merasakan tatapan penuh minat dan ingin tahu dari orang-orang yang tanpa sengaja berpapasan dengannya, terhitung sepanjang jalan ia kembali ke ruang marketing sehabis jam makan siang.
Keberadaan Mala sebagai teman makan yang ia akrabi satu-satunya di divisi ini juga terpaksa absen menemaninya karena dua jam sebelum waktu istirahat, gadis itu harus disibukkan oleh pertemuan dengan klien agensi periklanan, bekerjasama merealisasikan promosi peluncuran brand makanan ringan yang sedang timnya kerjakan. Alhasil, berakhir sendirian menyantap sepiring soto betawi dan jus alpukat di kafetaria adalah pilihan yang Rena lakukan.
Toh, sebelum-sebelumnya ia juga memang terbiasa makan siang sendirian. Lingkup pertemanan cukup sempit sebelum bertemu Mala, menjadikannya sosok penyendiri dan minim pergaulan. Padahal pekerjaan yang ia tekuni saat ini adalah bidang yang berpeluang tinggi mewajibkannya berinteraksi dengan orang banyak. Dan Rena harus pintar-pintar memilah kapan serta di mana urusan pribadi dan sikap profesional harus ia tempatkan.
Namun meneliti kembali jejak rekornya mampu bertahan hampir 7 tahun di divisi pemasaran tersebut, membuktikan bahwa berpura-pura mengakrabkan diri dengan orang lain demi formalitas dan profesionalisme kerja, bukan kendala berarti untuk Rena.
Ya, ia masih mampu menyisikan kenyamanan pribadi demi sebuah tanggung jawab lain yang lebih penting. Tapi untuk menarik orang-orang menjadi bagian karib dari hidupnya, Rena masih perlu berpikir dua kali. Kehadiran Mala saja yang sudah sering berporos di sekitar kesehariannya pun, nyatanya belum mampu menyentuh ranah paling privasi dalam dunia Rena.
Kembali pada tatapan menelisik orang-orang hingga menciptakan perasaan kurang nyaman untuknya, Rena berusaha menepis rasa terganggu itu dengan mengabaikan pandangan risih yang ia terima. Meskipun di sudut hati kecilnya juga penasaran alasan dibalik perlakuan tiba-tiba orang lain yang menjadikannya pusat perhatian secara tak langsung.
Ia bahkan sempat memeriksa keadaannya di toilet wanita sebelum melangkah ke ruang divisi yang memang terletak di lantai yang sama. Mencari-cari hal aneh di wajahnya sampai harus mengundang perhatian beberapa orang. Namun hanya kantung mata hitam dan sisa jejak muka sembabnya akibat begadang dan menangis semalam suntuk sebagai satu-satunya hal yang ia temukan. Dan alasan itu belum cukup kuat kalau sampai harus menarik sorot selidik dan tatapan lekat dari karyawan yang lalu-lalang di sekitarnya.
Mendudukkan diri ke kursi kerja, Rena berusaha mengenyahkan perasaan tak nyaman itu seraya menuangkan fokus penuh pada konsep strategi pengembangan kopi Robusta di mana menjadi target deadline-nya satu minggu ke depan.
Samar-samar dari kubikel kecilnya, Rena masih bisa merasakan bisik-bisik serta tatapan mencuri pandang beberapa rekan kerja dari bilik unit yang sama dengannya. Tapi Rena justru mengabaikan itu, dan lebih memilih memfokuskan jari-jemarinya menari di atas keypad.
Target pengembangan bisnis brand kopi Robusta yang juga menyasar luas kerjasama dengan mitra kedai kopi Sejabodetabek, membuat Pak Sony---brand manager mereka yang memang bertanggung jawab penuh pada proyek ini, meminta ide kreatifitas promosi dari tiap anggota tim setelah dibentuk pihak manajemen divisi, selambat-lambatnya sudah ada ketika rapat evaluasi konsep ide dilangsungkan minggu depan.
Maka dari itu, Rena tak punya cukup waktu untuk memikirkan hal lain di luar target penting yang sudah ditekankan sang atasan. Terutama memusingkan keanehan panggung perhatian mendadak dari rekan karyawan yang didapatinya saat ini.
Hampir satu jam terlewati ketika Rena berusaha mengembangkan ide dan memperbanyak literatur untuk menambah referensi konsep strateginya. Riset pun tanpa sungkan ia lakukan ke website dan akun sosial media brand kopi instan sejenis dari perusahaan saingan, demi memperkaya sumber pengetahuan agar melahirkan gagasan baru yang bisa ia bawakan di rapat nanti.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...