Rena tidak tahu persis kapan terakhir kali ia menyantap makanan rumahan khas tangan seorang ibu seperti ini. Keseringan hidup di rumah kontrakan, membuat Rena lebih banyak memanfaatkan lauk-pauk atau makanan lainnya yang ia beli dari luar.
Mungkin masakan yang biasanya akan ia buat juga hanya seputaran menu biasa seperti nasi goreng ataupun olahan telur sejenisnya. Rena jarang menyisipkan waktu luangnya untuk membuat capcay, ikan goreng saus, dan sayur tumis kangkung semacam ini.
Belum lagi sudah dua tahun tiap ia pulang ke Semarang, Rena hanya gantian berbagi tugas memasak dengan adiknya, Kayla. Mengingat kondisi ibu mereka yang mengharuskan wanita paruh baya itu tidak terlibat pekerjaan berat apapun yang beresiko memperparah keadaannya.
Makanya saat melihat ragam menu masakan rumahan sudah tertata rapi di atas meja, Rena tanpa pikir panjang langsung mengambil piring dan menyendok nasi serta lauk-pauk yang ia butuhkan sebanyak mungkin. Menyantap dengan lahap semua sajian yang ditawarkan.
Ia bahkan tidak lagi peduli keadaan sekitar selain menjadikan sepiring nasi, ikan, dan sayur, sebagai fokus utamanya. Termasuk kerutan di dahi Andreas yang duduk berhadapan di seberang meja, karena menyaksikan gaya dan porsi makan gadis itu yang lebih mirip kuli bangunan.
"Kamu kelihatan seperti orang yang tidak makan berabad-abad." Mulut Andreas akhirnya jadi gatal sendiri ingin berkomentar.
Di meja makan ini hanya tersisa mereka berdua, karena Mbok Irma dan Pak Umar suaminya sudah pamit lebih dulu untuk membersihkan dan menyiapkan seprai bersih, selimut, bantal, serta keperluan tidur lainnya di kamar yang akan mereka tempati. Meninggalkan kedua orang itu kini terjebak kembali di ruang yang sama.
"Mati dong saya kalau nggak makan selama itu. Bapak ada-ada saja." Rena membalas tanpa mengangkat wajah dari perhatiannya ke piring makanan.
"Sepertinya kamu sudah baik-baik saja, melihat sikap menyebalkan kamu sudah kembali ke tempatnya, dan mulai pandai membalikkan kata-kata orang lain."
"Tentu saja, saya memang harus pandai membalikkan kata-kata, apalagi jika lawan debat saya tak kalah menyebalkannya," balas Rena seraya tersenyum pongah.
Kerutan di dahi Andreas makin bertambah dalam mendengar balasan sedikit lancang tersebut. Sepertinya mode ketus gadis di hadapannya ini memang telah kembali ke setelan awal usai pembicaraan singkat mereka di ruang tamu.
Padahal belum lewat setengah jam lalu, ia mendapati wajah pucat pasi serta bibir gemetar perempuan itu karena sempat berburuk sangka, menuduhnya sebagai psikopat berdarah dingin yang hendak membunuhnya di pedalaman Bogor. Tentu saja sebuah asumsi gila yang membuat Andreas sampai berdecak heran.
Sungguh, ternyata ada juga manusia aneh seperti ini yang benar-benar hidup dan bernapas di dunia.
Tak ingin terlalu ambil pusing, Andreas mulai menyesap teh hangat yang disajikan Mbok Irma, lalu kemudian meringis pelan saat cairan panas tersebut menyentuh robekan kecil di sudut bibirnya. Buah tangan Antonio beberapa jam lalu karena berita skandal yang ia sebabkan telah mencoreng habis nama baik keluarga Pramoedya.
Bekas memar di bagian lain wajahnya juga masih terpampang nyata belum terawat, karena ia hanya menggunakan air mengalir untuk meredakan perih yang ada. Bukan mengompresnya dengan bungkusan potongan kecil balok es seperti tawaran asistennya, Lukman.
Mbok Irma yang juga sempat terkejut waktu mendapati jejak luka dan memar di wajah pria itu, pun ikut bertanya dan menawarkan bantuan serupa untuk membantu mengompres memar, yang sudah pasti langsung ditolak Andreas dengan halus, karena ia merasa hal itu tidak perlu.
Rena yang menangkap ringisan samar pria di depannya saat menyesap teh, diam-diam menyaksikan kesulitan itu.
Lalu menunduk kembali pada makanannya, tanpa berkomentar apa-apa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...